BIDASAN BAHASA

Ustaz

Ahad, 24 September 2017 05:16 WIB Penulis: Riko Alfonso/Staf Bahasa Media Indonesia

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Dalam menjalankan ajaran agama, kita tidak terlepas dari peran seorang guru yang mengajari kita mengenai aturan-aturan dalam beragama, termasuk kewajiban yang harus dijalani dan larangan yang harus dijauhi. Agar mendapatkan pelajaran yang sempurna, kita pun seharusnya tidak sembarang memilih guru yang kerap kita sebut ustaz itu.

Akan tetapi, di masa sekarang, perilaku masyarakat yang cenderung permisif dan menggampangkan penyematan gelar ustaz terhadap seorang tokoh--tanpa melihat kompetensi dan keahlian di belakangnya--telah membuat keprihatinan tersendiri. Seorang yang baru sekali atau dua kali berceramah di televisi dapat dengan mudah mendapatkan gelar ustaz. Jika ia sering muncul di televisi, dia pun dengan mudah ‘naik tingkat’ digelari ‘ustaz kondang’. Lebih parahnya lagi, adab dan perilaku mereka sebagai dai dan ustaz jauh dari kesantunan dan sifat tawadu. Berpendapat pun hanya berdasarkan pemikiran, bukan didasari dari Alquran atau hadis. Maka tidak mengherankan jika suasana dalam setiap ceramahnya miskin atmosfer kekhusyukan dan keagungan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V, kata ustaz memiliki arti ‘guru agama’. Dalam literatur Islam sendiri--sejauh yang saya tahu--kata guru itu memiliki sebutan yang berbeda-beda berdasarkan tingkatan dan kompetensinya dalam menguasai ilmu agama. Setidaknya terdapat 7 sebutan untuk istilah guru dalam literatur Islam, yakni mudarris, mu’allim, muaddib, musyrif, murabbi, mursyid, dan ustaz. Dari 7 istilah ini, KBBI V hanya memasukkan 3 istilah di dalam catatannya, yakni mualim, mursyid, dan ustaz dengan definisi yang sama, yakni ‘guru agama’, tanpa ada penjelasan mendetail tentang perbedaan di antara ketiganya.

Mudarris merupakan sebutan untuk seorang yang menyampaikan pelajaran kepada siswa. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia disebut mudarris. Untuk mu’allim, pengertiannya lebih spesifik lagi. Tugas mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, memastikan bahwa semua ilmunya benar-benar telah dipahami seluruh muridnya.

Muaddib dan musyrif merupakan guru yang me-ng­­ajarkan adab (etika dan moral). Sementara itu, murabbi ialah guru yang bertugas membentuk karakter keislaman yang kuat pada murid-muridnya.

Untuk mursyid, skalanya lebih luas daripada murabbi. Jika murabbi cenderung privasi, jumlah muridnya terbatas, Musyrid sebaliknya memiliki sangat banyak murid.

Lalu sampailah kita pada pengertian ustaz. Ustaz merupakan guru yang istimewa. Ia merupakan seorang mudarris, mu’addib, mu’allim, sekaligus murabbi. Dialah pendidik yang komplet. Seorang dapat dipanggil ustaz jika setidaknya sudah memiliki gelar doktor di bidang ilmu agama. Bahkan, dalam istilah Arab modern, terdapat istilah al ustadz ad duktur di depan nama seseorang, itu sama dengan gelar ‘profesor doktor’. Jadi al ustadz itu dapat pula diartikan sebagai profesor. Dalam tataran ilmu, seorang ustaz itu berada satu tingkat di bawah ulama. Luar biasa, bukan?

Jadi sangat disayangkan jika kini istilah ustaz dianggap murah oleh masyarakat sehingga dengan mudahnya diberikan kepada seseorang secara gratis. Semoga ke depan masyarakat tidak lagi mudah menyematkan gelar ustaz atau ustazah kepada seseorang karena sesungguhnya derajat ustaz itu hanya satu tingkat di bawah ulama.

Komentar