Kolom Pakar

Rupiah Melemah tetapi itu bukan Tren Jangka Panjang

Senin, 2 October 2017 06:32 WIB Penulis: A Tony Prasetiantono Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM; Faculty Member Bank Indonesia Institute

RUPIAH dalam sepekan terakhir melemah cukup signifikan, dari 13.300 menjadi 13.450 per dolar AS. Penyebab utamanya lebih ke faktor eksternal. Namun, diduga kuat, kebijakan penurunan suku bunga di Indonesia yang dilakukan pada momentum yang sama bisa jadi ikut berperan. Apakah pelemahan rupiah ini merupakan respons sesaat, ataukah merupakan tren jangka panjang?

Penguatan dolar AS sesungguhnya terjadi tidak hanya terhadap rupiah, tetapi juga terhadap mata uang seluruh dunia, terutama tiga mata uang kuat dunia (hard currencies), yakni euro, yen, dan pound sterling. Ada dua alasan utamanya.

The Fed melepas surat berharga
Pertama, The Fed (bank sentral AS) telah memberi isyarat untuk menurunkan ‘keseimbangan’ (balance) moneter mereka, yang kini mencapai US$4,5 triliun. Seperti diketahui, sesudah perekonomian mereka terkena krisis besar subprime mortgage pada 2008-2009, The Fed segera memberlakukan kebijakan quantitative easing (QE) selama tiga tahap hingga 2013. Intinya, The Fed di bawah Ben S Bernanke mencetak uang (printing money) yang dananya digunakan untuk membeli surat berharga pemerintah AS (US treasury bills dan US treasury bonds).

Tujuan kebijakan itu ialah menghindari jatuhnya harga surat berharga pemerintah karena terjadi aksi jual masif. Ketika banyak orang ingin menjual surat berharga, sementara pembelinya tidak ada, kejatuhan harga akan sangat berbahaya bagi kondisi pasar modal dunia. Krisis ekonomi akan semakin dalam dan tak terkendali.

Pada periode ini (2009-2013), jumlah peredaran dolar AS meningkat dengan US$4,5 triliun, atau setara dengan 25% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dana sebesar itu kemudian beredar ke seluruh dunia, terutama ke negara-negara emerging markets, terutama Tiongkok yang menikmati rekor cadangan devisa terbesar di dunia hingga US$4 triliun. Kebijakan QE itu mengiringi kebijakan relaksasi moneter, yakni menurunkan suku bunga secara bertahap hingga level terendah 0,25%.

Uniknya, kebijakan pencetakan uang itu ternyata tidak menimbulkan inflasi yang berlebihan di AS. Inflasi tertinggi ‘hanya’ mencapai 3,8%-3,9% pada Agustus 2011, yang pada saat sama kurs dolar AS mencapai titik terendah. Sebaliknya bagi Indonesia, pada saat itu rupiah mengalami kurs terkuat pada level Rp8.600 per dolar AS. Pada saat dolar AS melemah itulah, pelan-pelan perekonomian AS menikmati dampak positifnya: daya saing mereka membaik. Perekonomian AS pun pelan-pelan membaik, kembali ke jalur yang benar.

Seiring dengan membaiknya perekonomian AS sejak Mei 2013, kebijakan uang longgar pun (easy money) mulai dihentikan. Yang pertama mereka lakukan ialah menaikkan suku bunga secara bertahap. Dalam kondisi normal, suku bunga yang dianggap wajar ialah 2%. Saat ini, suku bunga acuan (Fed fund rate) sudah berada di sekitar 1 hingga 1,25%. Artinya, masih ada ruang untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini menjadi 1,5%, pada paling lambat Desember 2017.

Pasar pun menunggu, kebijakan satunya lagi: kapan The Fed mengoreksi kebijakan QE? Dengan kata lain, kapan mereka melepas kembali surat-surat berharga pemerintah AS yang dibeli mereka selama periode QE, antara 2009 dan 2013? Pada pekan lalu, The Fed pun mulai memberi indikasi ke sana. Mereka akan kembali melepas surat-surat berharga itu sehingga diharapkan akan terjadi aliran dolar AS dari pasar menuju ke The Fed. Dengan kata lain, akan terjadi absorpsi likuiditas dolar AS dalam jumlah besar.

Indikasi itu semakin kuat tatkala kita melihat pergerakan harga saham di New York. Indeks harga Dow Jones terus melanjutkan tren menguat dan memecahkan rekor baru hingga 22.412 pada 20 September 2017. Itu level yang fantastis, jika dibandingkan dengan indeks sebelum krisis 2008 (17.000), saat krisis 2009 (9.000), dan menjelang Presiden Barack ­Obama digantikan Donald Trump (18.500). Sejak Trump menjadi presiden, telah terjadi pemecahan 58 kali rekor indeks Dow Jones, hal yang belum pernah dialami presiden AS sebelumnya.

Melonjaknya harga saham di New York memberi indikasi bahwa para investor global menunjukkan antusiasme mereka untuk mengoleksi surat-surat berharga pemerintah AS yang akan dilepas, yang jumlahnya mencapai US$4,5 triliun. Pelepasan memang akan terjadi secara gradual karena jumlah tersebut sangatlah besar. Dalam dua-tiga tahun ke depan, aset surat berharga yang akan dilepas diperkirakan mencapai US$2 triliun.

Tax cut
Hal kedua yang memicu sentimen positif terhadap kurs dolar AS ialah kebijakan pemangkasan pajak, sebagaimana dijanjikan Trump dalam kampanyenya. Pemerintah AS akan memangkas pajak korporasi dan pajak individu dari 35% ke 20%. Di satu sisi, hal itu akan membuat penerimaan pajak pemerintah AS akan berkurang hingga US$5,8 triliun dalam beberapa waktu ke depan. Masalahnya bagaimana pemerintah AS harus menutup lubang yang ditinggalkan penerimaan pajak yang berkurang ini?

Jawabannya cuma satu: menambah utang. Masalahnya, bukankah utang pemerintah AS sudah melampaui PDB mereka sehingga pada era Presiden Obama pernah terjadi shut down, yakni parlemen (Kongres) AS tidak mengizinkan pemerintah AS (eksekutif) untuk menambah utang. Akibatnya waktu itu, pemerintah tidak punya duit untuk meng­ongkosi sebagian pelayanan publik (public services) sampai dua minggu. Akankah peristiwa memalukan itu bakal terulang?

Entah apa yang bakal terjadi. Di satu pihak pemotongan pajak bakal melukai keuangan negara (fiskal), tetapi di sisi lain bakal menggairahkan perekonomian nasional melalui jalur swasta. Konsumsi masyarakat akan meningkat karena kenaikan pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income). Dengan permintaan konsumsi agregat yang meningkat, pada putaran berikutnya akan menggugah para produsen untuk menaikkan kapasitas pasokan mereka. Itulah esensi dari supply-side economics yang tampaknya hendak diacu Presiden Trump, sebagai deja vu dari strategi perekonomian pada era Presiden Ronald Reagan pada dua periode 1981-1989.

Sentimen apakah yang lebih dominan? Sentimen negatif karena pemerintah AS harus menambah utang sebesar US$5,8 triliun (yang berarti lebih besar daripada dana QE US$4,5 triliun). Ataukah sentimen positif karena penurunan tax rate akan menggiatkan angka pengganda (multiplier effect) dari sisi belanja masyarakat? Dalam komposisi pembentukan PDB, variabel konsumsi masyarakat (go­vernment expenditure) jauh lebih besar daripada kontribusi belanja modal pemerintah (government expenditure). Mungkin karena hitung-hitungan itulah, pasar cenderung merespons positif rencana kebijakan pajak Trump itu dengan apresiasi dolar AS.

Prospek rupiah
Berdasarkan analisis tersebut, apresiasi dolar AS, atau depresiasi rupiah, menjadi tak terelakkan. Namun, sampai seberapa lama hal ini akan terjadi? Sebenarnya rupiah saat ini sedang dalam posisi aman karena kuatnya dukungan cadangan devisa yang kini mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah: US$18,8 miliar. Sebagai perbandingan, cadangan devisa saat krisis 1998 ialah hanya US$20 miliar; sedangkan saat puncak QE ialah US$124,7 miliar (2011); sedangkan rekor terendah beberapa tahun terakhir ini ialah US$92,67 miliar (Juli 2013).

Kuatnya cadangan devisa itu merupakan hasil kombinasi antara (1) mengalir masuknya modal global, karena kepercayaan yang meningkat terhadap perekonomian domestik kita; (2) neraca perdagangan sudah kembali ke jalur surplus, seiring dengan membaik­nya harga komoditas primer dan daya saing produk-produk kita; serta (3) keberhasilan program amnesti pajak menggaet pulangnya devisa repatriasi hingga Rp147 triliun, atau setara US$11 miliar.

Di tengah-tengah optimisme itulah, Bank Indonesia kemudian berani menurunkan suku bunga acuan mereka lagi menjadi 4,25%, pada 22 September 2017. Maksud BI tentu saja untuk mendorong kembali konsumsi masyarakat yang cenderung lemah. Juga ekspansi kredit perbankan hanya 8% pada tahun ini, dari target semula 12% atau lebih. Namun, sayangnya, tampaknya penurunan suku bunga ini tidak didukung waktu yang tepat karena di luar dugaan, penurunan suku bunga itu justru berbarengan dengan sentimen positif terhadap US$ karena relaksasi moneter dan insentif fiskal di AS.

Meski demikian, saya masih memiliki asa bahwa situasi itu hanya berlangsung sesaat. Penguatan kurs dolar AS dan bullish di pasar modal New York tentunya tidak bisa berlangsung terus-menerus, tanpa ada batasnya. Semuanya ada titik jenuhnya. Ingat pengalaman perekonomian AS mengalami pemulihan justru ketika dolar AS melemah pada periode QE, bukan tatkala dolar AS menguat. Jika dolar AS menguat terus, bagaimana mereka bisa bersaing dalam perdagangan internasional, terutama terhadap Tiongkok yang menyebabkan AS menderita defisit US$350 miliar setahun?

Wall Street juga tidak mungkin terus-menerus mengalami rally. Suatu saat tetap mengalami kejenuhan. Pada saat yang sama, indeks harga saham gabungan (IHSG) di bursa efek Indonesia juga memecahkan rekor baru 5.900. Itu imbas dari melonjaknya harga di hampir seluruh pasar modal dunia, yang dipimpin New York.

Kenaikan suku bunga AS, meski banyak diyakini akan terjadi sekali lagi pada tahun ini, belum tentu akan menyebabkan dolar AS menguat lagi. Para pelaku pasar nantinya akan kembali ke rasionalitas, bahwa rupiah seyogianya tidak perlu melemah karena indikator makro yang sesungguhnya masih baik, terutama data cadangan devisa, ekspor, dan inflasi. Pertumbuhan ekonomi 5,1% pada tahun ini juga cukup mendukung rupiah untuk tidak terperosok lebih jauh.

Komentar