Polkam dan HAM

Ketua Pansus Angket Terima Uang Titipan

Selasa, 3 October 2017 09:29 WIB Penulis: Richaldo Y Hariandja

Anggota DPR Agun Gunandjar (kanan) dan Khatibul Umam Wiranu (kiri) bersaksi dalam sidang kasus dugaan korupsi KTP-E dengan terdakwa Andi Narogong di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin. -- ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

MANTAN Ketua Komisi II DPR dari Partai Golkar Agun Gunandjar disebut mendapat honor sebagai narasumber yang berasal dari uang titipan mantan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman.

“Pak Agun menjadi narasumber, saya diminta Pak Dirjen yang meminta kuitansi resmi dan memang resmi menjadi narasumber dalam dialog interaktif,” kata Suciati di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Suciati merupakan pensiunan Kepala Subbagian Tata Usaha Pimpinan Ditjen Dukcapil Kemendagri 2002-2013. Ia menjadi saksi untuk terdakwa pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong yang didakwa mendapat keuntungan US$1,499 juta dan Rp1 miliar dalam proyek pengadaan KTP elektronik (KTP-E) yang seluruhnya merugikan keuangan negara senilai Rp2,3 triliun.

Menurut Suciati, uang itu berasal dari US$73.500 yang diberikan Irman dan diminta Irman agar ditukar uang rupiah.

“Itu uang dari Pak Irman, bukan dari DIPA karena Pak Irman meminta agar saya membuat kuitansi dan menyerahkannya ke bendahara dari uang US$73.500 yang ditukarkan itu,” ungkap Suciati.

Ia mengaku telah menukarkan uang sebanyak 10 kali sejak 2011. Total uang yang ditukarkan yakni US$73.700 dan S$6.000.

“Itu nanti yang mempertanggungjawabkan bendahara, baru Pak Irman. Bapak hanya bilang ‘Di DIPA itu belum cair, ini pakai dana saya dulu’,” tutur dia.

Namun, Agun sempat membantah menerima uang dari diskusi talkshow tersebut.

“Apakah Saudara pernah menggunakan uang yang berasal dari talkshow saat masih menjadi ketua Komisi II?” tanya jaksa penuntut umum KPK Abdul Basir.“Tidak,” jawab Agun yang juga ketua panitia khusus (pansus) hak angket KPK.

“Apakah Saudara punya sopir dan asisten bernama Ari dan Hambali?” tanya jaksa penuntut umum Taufiq Ibnugroho. “Benar mereka staf dan sopir saya,” jawab Agun.

Agun di akhir persidangan pun akhirnya mengakui bahwa ia menerima honor tersebut. “Berkenaan dengan fakta saya menerima uang sebagai narasumber Rp5 juta, saya ingin menyatakan saya sering menerima uang sebagai narasumber karena saya memang narasumber hampir sejak menjadi anggota dewan. Mungkin itu bisa saja terjadi sebagai narasumber, tapi konteks menerima KTP-E, saya tegas mengatakan tidak menerima. Terhadap Ari dan Hambali, betul staf saya, tapi sampai detik ini keduanya tidak pernah melapor menerima uang dari Ibu Suci,” ungkap Agun.

Agun Gunandjar Sudarsa dalam dakwaan Irman dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) pada Dukcapil Kemendagri Sugiharto disebut menerima US$1,047 juta saat menjadi anggota Komisi II dan Badan Anggaran DPR dari anggaran KTP-E sebesar Rp5,95 triliun itu.

Makan siang
Terkait dengan Andi Narogong, Agun mengaku sempat melihat yang bersangkutan di ruang Fraksi Partai Golkar. Kehadiran Andi di ruang Fraksi Golkar terjadi sekitar 2011. “Saya enggak kenal sama Andi, tapi pernah lihat di lantai 12 Gedung DPR, ruang Fraksi Partai Golkar,” kata Agun.

Ketua majelis hakim John Halasan Butarbutar kemudian menanyakan apakah Andi kader Golkar. Agun menyatakan bukan. Namun, menurut Agun, saat itu Andi datang pada hari Jumat, tepatnya saat jam makan siang.

Menurut dia, Jumat memang menjadi hari Fraksi Partai Golkar. “Khusus Jumat buat berkumpul makan siang, siapa pun boleh datang, termasuk masyarakat umum untuk menyampaikan aspirasi,” ucapnya. (*/P-4)

Komentar