Opini

Prospek Bisnis Perawatan Pesawat

Sabtu, 7 October 2017 02:45 WIB Penulis: Arista Atmadjati CEO Direktur AIAC Aviation Jakarta

ANTARA FOTO/Lucky R

PESATNYA pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia membuka peluang besar pada industri perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO). Diperkirakan di Asia Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan industri MRO pada tahun 2022. Kementerian Perindustrian menghitung potensi bisnis industri MRO di Indonesia saat ini mencapai US$920 juta atau Rp12,1 triliun dengan mengacu kurs dolar AS 13.200. Dalam empat tahun ke depan diperkirakan bisa naik menjadi US$2 miliar, setara Rp26,4 triliun. Untuk itu, para pelaku industri penerbangan tengah mendorong peningkatan kapasitas dan kapabilitas industri MRO di Indonesia.

Sejak peraturan pemerintah mengenai industri jasa penerbangan di Indonesia mulai dilonggarkan pada tahun 2000, pertumbuhan jasa penerbangan melonjak tajam dalam satu dekade terakhir di Indonesia. Sejumlah industri penerbangan saat ini bersaing ketat merebut pasar domestik dan regional. Indonesia dengan memiliki jumlah penduduk 250 juta dan wilayah yang cukup strategis, tentu akan membutuhkan sarana transportasi udara untuk mendukung konektivitas antarpulau dan wilayah.

Wilayah Indonesia mencakup sebaran lebih dari 17.000 pulau, membentang sepanjang 5.200 km dari timur ke barat dan 2.000 km dari utara ke selatan. Hal ini menjadi pasar yang sangat potensial bagi para investor dunia untuk membangun industri penerbangan di Indonesia, juga untuk perawatannya dari Sabang hingga Merauke.

Selanjutnya, potensi besar untuk industri penerbangan karena menawarkan kenyamanan dan waktu yang lebih cepat serta mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memberikan multiplier effect bagi sektor lainnya. Berdasarkan laporan International Air Transport Association (IATA), jumlah penumpang udara nasional akan mencapai 270 juta penumpang pada tahun 2034 atau naik lebih dari 300% jika dibanding pada tahun 2014 dengan jumlah sebanyak 90 juta penumpang. Diperkirakan Indonesia akan masuk 10 besar pasar penerbangan dunia pada tahun 2020, bahkan akan menjadi lima besar dunia pada tahun 2034.

Di sektor tenaga kerja, industri penerbangan global pada saat ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 58 juta orang dengan nilai ekonomi mencapai US$2,4 triliun. Dalam 20 tahun ke depan industri penerbangan mampu menciptakan lapangan pekerjaan sebanyak 105 juta orang dan menyumbang US$6 triliun terhadap PDB dunia. Saat ini industri penerbangan nasional memiliki 16 maskapai penerbangan niaga berjadwal dan 21 maskapai charter didukung oleh hampir 1.500 pesawat, yang beroperasi terjadwal dan tidak terjadwal di tahun 2017.

Empat kebijakan strategis
Kementerian Perindustrian telah menyiapkan empat kebijakan strategis dalam upaya pengembangan industri MRO Indonesia ke depan.
Pertama, memenuhi ketersediaan komponen pesawat dengan mendorong pembangunan industrinya. Hingga saat ini, beberapa industri komponen pesawat telah tumbuh dan berkembang, yang tergabung dalam Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM)

Diharapkan industri MRO, industri jasa penerbangan, industri pesawat terbang bekerja sama dengan INACOM dan memprioritaskan komponen yang diproduksi industri dalam negeri sehingga akan menghemat devisa dan turut mendorong tumbuhnya industri komponen dalam negeri.

Kedua, peningkatan jumlah SDM industri MRO. Diperkirakan Indonesia akan membutuhkan sebanyak 12 ribu sampai 15 ribu tenaga ahli industri MRO hingga 15 tahun ke depan. Saat ini sekolah-sekolah teknisi penerbangan di Indonesia hanya menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, sedangkan kebutuhannya mencapai 1.000 orang per tahun.

Selanjutnya, Kementerian Perindustrian akan melakukan kerja sama atau bersinergi dengan kementerian terkait untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas SDM industri MRO. Di samping itu, Kemenperin akan memberikan dukungan melalui fasilitasi untuk peningkatan kemampuan dan kompetensi SDM kedirgantaraan nasional agar memenuhi kualifikasi dan standar nasional maupun international yang telah ditetapkan.

Ketiga, diperlukan pembangunan aerospace park atau kawasan Industri kedirgantaraan yang terintegrasi untuk mendukung industri kedirgantaraan dalam negeri. Dalam aerospace park tersebut, terdapat industri pesawat udara, industri komponen pesawat udara, industri MRO, industri jasa penerbangan dan Industri pendukung lainnya, termasuk perguruan tinggi sebagai tempat pengembangan SDM kedirgantaraan.

Keempat, pemberian insentif untuk peningkatan daya saing industri kedirgantaraan nasional agar dapat tumbuh dan berkembang sehingga mampu menyerap pasar nasional dan Internasional. Industri Perawatan Pesawat di Indonesia.

Secara faktual, untuk merawat 1.500 pesawat di Indonesia, hanya 4 MRO yang bisa dibilang kredibel dan cukup kredibel. MRO yang sudah lama berdiri serta sudah mendapat sertifikasi dari FAA USA dan European Audit Safety Association (EASA) yakni GMF AeroAsia (GMF) yang memang sudah hampir 25 tahun berdiri.

Beberapa maskapai asing juga sudah mempercayakan perawatannya ke GMF, selain GMF merawat pesawat Garuda Indonesia, mulai dari yang ringan A check, B check, C check, sampai dengan D check. Beberapa pelanggan GMF di antaranya Lion Air, Sriwijaya Air, maskapai luar seperti KLM Belanda, Kabo Air Nigeria, PIA Pakistan, dan beberapa pesawat wide body kargo dari luar negeri.

Lion air juga memiliki MRO di Batam khusus untuk internal Demikian juga Pelita air punya MRO di Pondok Cabe, melayani mayoritas armada Pelita Air, mayoritas Fokker 100 dan pesawat narrow body. Merpati Maintenance Facilities (MMF) di Surabaya masih bisa berkembang, khusus merawat Fokker 27, F 28, dan beberapa kliennya dari Filipina. MMF juga mempunyai sertifikasi dari Eropa.

Prospek MRO
Jika melihat laporan keuangan berbagai pemain bisnis ini, baik lokal maupun internasional, dari marjin laba bersih dan peningkatan pendapatan saja sudah menyiratkan bisnis MRO cerah prospeknya ke masa depan. Kesimpulan dari bisnis MRO ke depan, sangat menjanjikan mengingat traffic penumpang di Indonesia selalu tumbuh 2 digit. Bertambah naiknya penumpang udara tentu akan membuat maskapai di Indonesia menambah jumlah armadanya. Jumlah armada yang semakin banyak, bukankah ini peluang bagus untuk bisnis MRO di Indonesia dan market regional? jawabnya tentu saja bisnis MRO ke depan, sangat prospektif.

Komentar