Ekonomi

Konstruksi Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dimulai

Sabtu, 7 October 2017 08:31 WIB Penulis:

MI/Dwi Apriani

MENTERI Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno memastikan pembangunan konstruksi kereta cepat Jakarta-Bandung akan dilaksanakan pada akhir bulan ini.

Saat ini proyek yang telah groundbreaking pada 21 Januari 2016 masih dalam tahap pembebasan lahan dan akan dilanjutkan dengan pembangunan konstruksi.

"Mulai akhir Oktober akan betul-betul full construction-nya," ucap Rini dalam bincang santai di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (5/10).

Selain pekerjaan konstruksi yang akan segera dimulai, Rini juga memastikan pinjaman dana dari China Development Bank (CDB) akan cair pada November mendatang.

"Pinjaman bulan depan ditarik. Kita sudah selesaikan semua dengan CDB, jumlahnya antara US$500 juta dan US$1 miliar. Mungkin saya minta bertahap," ujarnya.

Ia mengakui terhambatnya proyek kereta cepat pertama di Indonesia itu karena pembebasan lahan dan finalisasi penentuan lokasi. Dalam rencana awal, pemerintah ingin agar kereta cepat itu bisa bersebelahan dengan jalan tol Jakarta-Bandung. Namun, hal itu terbentur kontur jalan tol yang berbelok. "Sedangkan kereta cepat tidak boleh banyak kelokan. Akhirnya jalurnya sedikit banyak menjauh (dari tol). Hanya 43 km yang berdekatan, sisanya agak jauh," kata dia.

Pembangunan konstruksi itu, kata Rini, nantinya membutuhkan total 22 terowongan. Saat ini sudah dimulai pengerjaan terowongan di Walimi, Jawa Barat. Pembangunan terowong-an yang memakan waktu lama akan terjadi di Halim, Jakarta.

Meski demikian, diharapkan proyek tersebut akan selesai pada Februari 2020.

Tidak mangkrak

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memastikan proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT) di Jakarta tidak akan mangkrak.

"Proyek seperti MRT dan LRT membutuhkan biaya yang besar dan banyak sekali yang harus dipersiapkan. Oleh karena itu, proyek MRT rencananya selesai 2018 dan LRT ke Bekasi dan Bogor insya Allah akan selesai 2019, dan saya pastikan tidak akan mangkrak," ujar Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, kemarin.

Menhub juga menjabarkan instruksi Presiden Joko Widodo untuk memastikan pembangunan yang dilakukan dapat berfungsi dengan baik. Selain itu, Presiden juga menugasinya untuk memastikan segala proyek berjalan dengan semestinya.

"Presiden selalu mengatakan kepada kami bahwa untuk pembangunan menggunakan prinsip money follow program. Artinya, setiap rupiah yang dibangun itu bukan saja membangun, tetapi dipastikan pembangunan itu bisa berfungsi. Oleh karenanya, selain tugas saya untuk menjamin konektivitas, ada kewajiban saya yang harus memastikan segala proyek itu memang jadi diba-ngun," katanya.

Saat ini sedang dilakukan proses pengerjaan MRT jalur selatan-utara fase I (Lebak Bulus-Bundaran HI) sepanjang 16 kilometer. Secara keseluruhan progres MRT telah mencapai 78,01% dengan nilai investasi Rp14 triliun, dan ditargetkan beroperasi Maret 2019. Adapun progres pembangunan LRT hingga awal September tercatat telah mencapai 19,21%. Untuk lintas pelayanan Cawang-Cibubur progresnya 36,84%, Cawang-Dukuh Atas 5,24%, dan Cawang-Bekasi Timur 20,59%. (Ant/E-1)

Komentar