Polkam dan HAM

Golkar Siap Tampung Gatot

Sabtu, 7 October 2017 15:29 WIB Penulis: Richaldo Y.Hariandja

ANTARA/HAFIDZ MUBARAK A

PARTAI Golkar menyatakan membuka pintu terhadap Jendral Gatot Nurmantyo apabila Panglima TNI tersebut memutuskan untuk pensiun dari TNI dan masuk ke dalam politik praktis.

"Bapak Gatot Nurmantyo, sebagai individu kiranya kalau dia mau pensiun, maka Golkar adalah rumah yang pantas buat dia," ucap Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemenangan Pemilu Indonesia I DPP Partai Golkar Bobby Adhitio Rizaldi dalam kesempatan acara talkshow di Jakarta, Sabtu (7/10).

Golkar, lanjut dia, tetap mendukung Gatot menjalankan tugasnya sebagai Panglima TNI. Golkar juga berharap Gatot tetap fokus pada pekerjaan untuk memperkuat TNI selama dirinya mengenakan seragam hijau. "Tapi kalau dia mau berpolitik elektoral, dengan baju batik, maka kami akan siap untuk memfasilitasi," imbuh dia.

Posisi Gatot sebagai Calon Wapres, dikatakan cukup kuat oleh Pengamat Komunikasi Politik Handri Satrio, dirinya merujuk pada hasil survey yang dilakukan Lembaga Survey Kedai Kopi. Menurutnya, Gatot memiliki suara 12%, terbanyak ketiga diantara 8 nama yang muncul sebagai calon Wakil Presiden. "Hasil resminya akan kami rilis besok, ini baru nama saja," terang dia singkat.

Sementara itu, Pengamat Militer Connie Rahakundini Bakrie dalam kesempatan yang sama menyatakan penting untuk TNI menjaga netralitas. Untuk itu, dirinya menganjurkan agar Panglima mundur ketimbang melakukan upaya politik saat masih menduduki posisi tertinggi di TNI.

"Kalau dibilang itu tidak berpolitik (yang dilakukan Panglima), maka saya bingung," ucap dia.

Oleh karena itu, dirinya menganjurkan agar tidap komunikasi politik yang akan hendak dilakukan panglima seharusnya dilakukan tanpa atribut. "Jadi kalau mau bersafari lagi dari partai ke partai nantinya, jangan pakai baju hijau," ucap dia.

Menurut dia, memisahkan sosok Panglima TNI dengan pribadi dari Gatot merupakan hal yang sulit. Oleh karena itu Connie meminta agar Panglima mundur ketimbang dipecat oleh Presiden jika masih melakukan manuver-manuver politik.

Hal serupa dikatakan Direktur Imparsial Al Araf, dirinya memandang jika Panglima lebih baik diganti untuk turut melakukan penyegaran di tubuh TNI. "Ini bagus untuk penyegaran, saya rasa Panglima tidak akan resisten, selain itu kalau sudah keluar dari TNI kan dia akan memiliki ruang gerak politik lebih luas," ucap dia.

Dengan demikian, lanjut dia, TNI tidak lagi dikorbankan lewat pergerakan-pergerakan yang dilakukan Gatot. Dirinya memandang jika selama ini Gatot melakukan upaya membangun profil politik lewat safari ke parpol-parpol. "Sulit kita bantah personal kalau panglima bangun profile politik, untuk tegaskan identitas dia," ucap Al Araf. (OL-3)

Komentar