Megapolitan

KRL Cikarang-Bekasi Kurangi Kepadatan di Tol

Ahad, 8 October 2017 06:36 WIB Penulis: Jessica Sihite

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau pengoperasian KRL Bekasi-Cikarang dan Stasiun Bekasi Timur di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Sabtu (7/10). -- MI/Arya Manggala

PENGOPERASIAN kereta rel listrik (KRL) Cikarang-Bekasi-Jakarta Kota akan membantu mengurangi kepadatan di jalur Tol Jakarta-Cikampek yang saat ini didera kemacetan parah akibat pengerjaan beberapa proyek sekaligus.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, dengan daya angkut 2.000 hingga 3.000 per rangkaian, berarti KRL dengan total 32 rangkaian bisa mengangkut hingga 90 ribu orang per hari. “KRL sementara ini akan bisa mengurai kemacetan hingga Karawang,” ucap Budi Karya saat meninjau kereta api bandara di Batu Ceper, Tangerang, kemarin.

Tingkat kemacetan dinilai akan makin bisa terurai bila proyek double-double track (DDT) Manggarai-Cikarang kelar dikerjakan pada 2018. Kapasitas penumpang KRL akan bertambah 50% dari 1 juta orang per hari menjadi 1,5 juta orang per hari.

“Ini (KRL Cikarang-Bekasi) akan signifikan pada 2018 saat DDT kelar karena DDT memisahkan lintas KRL Jabodetabek dan lintas utama kereta api jarak jauh. Kalau DDT kelar, kemacetan di Jakarta juga bisa terurai,” imbuh Budi.

Saat meresmikan pengoperasian KRL Cikarang-Bekasi di Stasiun Bekasi Timur, Budi Karya menjelaskan proyek pembangunan lintas kereta itu merupakan hasil kerja sama Indonesia dan Jepang. Pemerintah Jepang melalui JICA memberikan pinjaman senilai 11 miliar yen dari total anggaran proyek Rp2,3 triliun. “Fasilitas dari Jepang kami terima sejak 2012 dengan harapan kereta ini akan memudahkan masyarakat,” tukasnya.

Wakil Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kozo Honsei menyebut KRL Cikarang-Bekasi akan menyingkat waktu perjalanan. Proyek KRL Cikarang-Bekasi juga dinilai menjadi kunci kerja sama Jepang dan Indonesia di sektor perkeretaapian. Selanjutnya, niat Jepang untuk membangun DDT Manggarai-Cikarang dan elektrifikasi rel diharapkan bisa mendorong percepatan proyek kereta api semicepat Jakarta-Surabaya. “Perdana menteri kami PM Shinzo Abe dan Presiden Jokowi sudah sepakat meningkatkan kecepatan kereta semicepat Jakarta-Surabaya. Ke depan, kami berharap bisa meningkatkan kerja sama dan Jepang bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia,” imbuh dia.

Budi menambahkan alternatif layanan transportasi massal akan bertambah pada 2019 dan 2020. “Nanti akan ada juga LRT (light rail transit) lewat Bekasi. Jadi, mulai 2019 dan 2020 sudah ada layanan signifikan terhadap transportasi massal,” imbuh Budi.

Dalam kesempatan itu, Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi menyebut angkutan massal seperti kereta sangat dibutuhkan. Untuk mendukung operasional KRL, Rahmat berjanji akan membangun sarana jalur pedestrian dari Terminal Bus Bekasi yang berjarak 300 meter ke Stasiun Bekasi Timur. “Kami juga sudah mulai merancang bus Trans-Patriot untuk membantu Bekasi dari aspek kewilayahan ke stasiun ini (Bekasi Timur). Kami berharap keberadaan lintasan KRL ini bisa mengurai kemacetan jalan arteri dan kolektor,” imbuhnya.

Kereta bandara
Saat meninjau kesiapan operasional kereta bandara, Budi Karya menjelaskan pelaksanaan proyek itu dilakukan secara berhati-hati dengan meminimalkan konflik sosial sehingga penyelesaiannya tidak mundur. “Kita harapkan pada 25 November 2017, kereta ini sudah bisa beroperasi,” tandasnya.

Menhub mengatakan, tingkat ke­sulitan pembangunan jalur kereta itu juga cukup tinggi mengingat harus ada pengerukan tanah se­tinggi 9 meter di beberapa ruas menjelang bandara. “Kita bersyukur tidak ada konflik sosial sehingga pembangunan proyek berjalan lancar.” (Ant/E-1)

Komentar