Humaniora

Pendidikan Solusi bagi Konflik Kemanusiaan

Ahad, 8 October 2017 08:26 WIB Penulis: Dro/I-1

Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Ahmad Baedowi memberikan ceramah umum dalam acara Malam Pengumuman Pemenang Lomba Esai tentang Konflik dan Krisis Kemanusiaan di Jakarta, Jumat (6/10). -- MI/Arya Manggala

KONFLIK berkepanjangan sehingga bertransformasi menjadi krisis kemanusiaan hanya bisa diselesaikan dengan pendidikan. Namun, langkah ini butuh proses panjang dan fondasi kuat.

“Selama ini orang itu kalau berkonflik selalu melihat bidangnya apa, baik itu agraria, hukum, politik, dan apa pun, tetapi orang jarang menariknya hingga ke aspek pendidikan. Anda mau tarik persoalan apa pun pasti akan berkaitan dengan pendidikan,” jelas Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi, seusai ceramah umum Kompleksitas Konflik dan Krisis Kemanusiaan di Jakarta, Jumat (6/10).

Ahmad memandang pendidikan ialah lini dasar dari segala hal dan latar dari semua persoalan kehidupan manusia, baik itu politik, ekonomi, maupun hukum, semua berlandaskan pendidikan. Namun, dia mengakui penyelesaian konflik dengan pendidikan bukan suatu persoalan yang mudah.

“Bicara tentang pendidikan itu adalah jangka panjang dan bukan seperti negosiasi jangka pendek kemudian persoalan selesai. Itu membutuhkan fondasi yang kuat, kesabaran hingga ketahanan. Itu yang membedakan,” tegasnya.

Dia mencontohkan kasus efek konflik berkepanjangan di Aceh. Trauma terbesar saat efek bencana tsunami pada 2004 bukan karena bencana alamnya, melainkan karena konfik di sana. Berdasarkan pengalamannya saat di Aceh, Ahmad me­nyimpulkan tidak ada cara lain untuk melawan kekerasan selain dengan pendidikan yang baik untuk jangka panjang.

Dalam menyelesaikan kon­flik dengan pendidikan, itu selalu dimulai dari penilaian masalah (problem assessment) sehingga masalah yang dihadapi masyarakat teridentifikasi untuk memahami pendekatan kependidikannya. Proses assessment tersebut terdiri dari mengukur, menilai, hingga mencari sumber konfliknya.

Menurutnya, saat ini kondisi konflik di Indonesia cukup mengkhawatirkan, terutama dalam kaitan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Masyarakat Indonesia yang majemuk dan mudah tersulut menjadi tantangan.

Menurutnya, hal itu salah satunya disebabkan pendidikan bukan menjadi sebuah proses, melainkan sebuah orientasi berbasis hasil yang bisa dilihat. Padahal, esensi pendidikan ialah proses yang dinikmati. “Pendidikan itu proses memanusiakan manusia. Itu bukan soal sederhana dan prosesnya harus berdasarkan kegiatan sehari-hari,” terang Ahmad. (Dro/I-1)

Komentar