Internasional

Amerika kembali Gertak Korut

Kamis, 12 October 2017 07:01 WIB Penulis: Irene Harty irene@mediaindonesia.com

AP/SOUTH KOREAN DEFENSE MINISTRY

Amerika Serikat meluncurkan dua pesawat pengebom berat supersonik di atas Semenanjung Korea dalam rangka unjuk kekuatan terhadap Korea Utara (Korut). Peluncuran itu termasuk latihan penerbangan gabungan malam hari pertama dengan Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Dua jet B-1B Lancer yang berbasis di Guam terbang dalam sebuah misi di sekitar Laut Jepang pada Selasa (10/10) malam, demikian menurut Angkatan Udara Pasifik AS dalam sebuah pernyataan.

“Terbang dan berlatih di malam hari bersama sekutu kami dengan cara yang aman dan efektif merupakan kemampuan penting yang bisa dilakukan antara AS, Jepang, dan Republik Korea untuk meningkatkan kecakapan taktis penerbang masing-masing negara,” ungkap juru bicara pasukan tersebut Mayor Patrick Applegate.
Otoritas pertahanan Korsel kemarin mengatakan bahwa pesawat pengebom melakukan simulasi tembakan rudal udara ke darat dengan dua pesawat tempur Korsel berada di atas Laut Jepang (Laut Timur).

Keempat jet tempur itu kemudian terbang melintasi Semenanjung Korea dan melakukan latihan menembak berikutnya di atas Laut Ku­ning sebelum dua jet tempur B-1B kembali ke pangkalan, demikian pernyataan Kepala Staf Gabungan Korea Selatan (JCS). “Latihan ini adalah bagian dari pelatihan penyebaran rutin untuk meningkatkan pe-nangkalan terhadap ancaman nuklir Korut. Melalui latihan kali ini, angkatan udara Korsel dan AS menunjukkan tekad kuat untuk membalas ancaman nuklir dan rudal Korut,” kata JCS dalam sebuah pernyataan.

B-1B juga melakukan latihan dengan Angkatan Udara Jepang yang disebut ‘rangkaian misi bilateral’. Peluncuran pelontar bom AS sebelumnya terjadi 17 hari lalu saat empat jet tempur siluman AS F-35B dan dua B-1B terbang di atas semenanjung yang sama. Seperti diketahui bersama, Korut meluncurkan serangkaian rudal dan melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat pada bulan lalu.

Kemajuan kemampuan rudal dan nuklir yang signifikan itu membuat Korut yakin bahwa senjata atom mereka adalah ‘pedang berharga’ untuk melindungi negeri mereka dari agresi AS. Tindakan negara itu bertentangan dengan sanksi-sanksi PBB dan mendorong Presiden AS Donald Trump meng-ancam Korut dengan perlawanan militer. Trump terlibat dalam perang urat syaraf dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un.

Militer opsi terakhir
Latihan itu terjadi saat Trump membahas ‘sejumlah pilihan’ dengan tim keamanan nasionalnya untuk menanggapi uji coba rudal dan nuklir Korut baru-baru ini.
Pernyataan dari Gedung Putih menyebut persiapan dilakukan Menteri Pertahanan AS James Mattis dan panglima militer Jenderal Joseph Dunford yang fokus pada berbagai opsi untuk menanggapi setiap bentuk agresi Korut atau, jika perlu, mencegah ancaman mereka ke AS dan sekutunya dengan senjata nuklir.

Hal itu menyiratkan usaha diplomatik Mattis dengan Korut berulang kali gagal dan hanya satu hal yang dapat berhasil yakni aksi militer. “Latihan tersebut juga dilakukan saat kapal selam cepat bertenaga nuklir AS, ASS Tuscon, mendapat panggilan di pelabuhan bagian selatan Korea Selatan, Jinhae,” kata Komando Pasifik AS. (AFP/I-1)

Komentar