Internasional

PBB: Kekerasan di Myanmar Sebagai Strategi Disengaja Untuk Usir Etnis Rohingya

Kamis, 12 October 2017 13:57 WIB Penulis: MICOM

AFP

SEBUAH laporan yang dibuat oleh kantor hak asasi manusia (HAM) PBB menguatkan adanya upaya strategis dari pemerintah Myanmar untuk mengusir secara permanen warga muslim Rohingya dari negara tersebut.

Di laporan tersebut dikatakan bahwa serangan terhadap muslim Rohingya di di Rakhine State, wilayah utara Myanmar itu menunjukkan sebuah strategi untuk menanamkan "rasa ketakutan dan trauma yang meluas" dan mencegah etnis Rohingya untuk kembali ke rumah dan perkampungan mereka.

Laporan yang dirilis pada Rabu (11/10) ini didasarkan dari wawancara 65 pengungsi muslim Rohingya yang dilakukan pada pertengahan September, baik secara individu maupun kelompok. Kantor HAM PBB juga sudah mencatat lebih dari setengah juta orang dari kelompok etnis tersebut melarikan diri ke Bangladesh selama tindakan kejam di Myanmar.

Serangan terhadap etnis Rohingya di negara bagian Rakhine oleh pasukan keamanan Myanmar dan massa Budhis itu disebutnya dilakukan "terkoordinasi dan sistematis," dengan tujuan untuk tidak hanya mengusir penduduk Rohingya tapi juga mencegah mereka untuk kembali, kata laporan tersebut.

Beberapa dari mereka yang diwawancarai mengatakan bahwa sebelum dan selama serangan, megafon digunakan untuk mengumumkan: "Anda tidak berada di sini - pergi ke Bangladesh Jika Anda tidak pergi, kami akan membakar rumah Anda dan membunuh Anda."

Menurut peneliti PBB, langkah-langkah melawan kelompok minoritas dimulai hampir sebulan sebelum serangan 25 Agustus terhadap pos polisi oleh militan muslim yang akhirnya dijadikan sebagai dalih untuk militer Myanmar yang disebut "operasi pembersihan" di Rakhine.

"Informasi yang kami terima menunjukkan bahwa hari dan sampai satu bulan sebelum tanggal 25 Agustus, bahwa pasukan keamanan Myanmar memberlakukan pembatasan lebih lanjut mengenai akses ke pasar, klinik medis, sekolah dan tempat ibadah," ujar Karin Friedrich, yang merupakan bagian dari PBB pada misi ke Bangladesh.
"Orang-orang Rohingya berusia 15 sampai 40 tahun dilaporkan ditangkap oleh polisi Myanmar" dan ditahan tanpa tuduhan apapun," ucap Friedrich lagi.

Kepala HAM PBB Zeid Ra'ad al-Hussein mengatakan bahwa pengabaian hak-hak Myanmar, termasuk kewarganegaraan kepada Rohingya tampaknya merupakan bagian dari "taktik sinis untuk memindahkan secara paksa sejumlah besar orang tanpa kemungkinan untuk kembali."

Hussein juga menggambarkan serangan sistematis dan pemboman yang dilakukan militer Myanmar di desa-desa secara luas sebagai "pembersihan etnis."

Dalam laporan itu juga disebutkan bahwa mayoritas warga muslim di Myanmar menyangkal bahwa muslim Rohingya adalah kelompok etnis yang terpisah.(AP/OL-3)

Komentar