Internasional

Penembakan Las Vegas, Pemerintah AS Tidak Sebut Aksi Teror

Kamis, 12 October 2017 15:36 WIB Penulis: Anastasia Arvirianty

AP

AWAL bulan ini, Oktober, menjadi awal memilukan bagi warga Amerika Serikat (AS) dengan adanya penembakan massal yang menewaskan 59 orang dan mengakibatkan lebih 500 orang luka-luka, ketika mereka sedang bersenang-senang melantunkan lagu 'country' di The Country Music Festival, di Las Vegas. Sontak insiden di Las Vegas itu menjadi tragedi terburuk dalam catatan kelam kasus penembakan di AS.

Naaz Modan, seorang editor di Muslim Girl, sebuah publikasi yang berfokus pada isu hak dan pemberdayaan perempuan muslim, mempertanyakan, mengapa sampai saat ini pemerintah AS tidak menyebut aksi penembakan brutal yang dilakukan oleh Stephen Paddock, warga lokal berkulit putih tersebut sebagai insiden terorisme?

Dalam opini yang dituangkannya dalam laman CNN.com, ia mengatakan, hal serupa sudah berulang kali dilakukan oleh AS. Sudah 273 aksi teror terjadi sepanjang 2017, tapi AS tetap tidak mengatakan hal itu sebagai tindakan terorisme.

Naaz menyebutkan jika penembakan massal dilakukan oleh orang kulit coklat, insiden akan segera dirangkai ulang dan dikonstruksi sebagai isu imigrasi. Jika ribuan orang tewas di tangan kulit hitam, insiden akan digunakan sebagai alasan untuk mengizinkan brutalitas polisi, meminimalisir gerakan Black Lives Matter dan menegaskan stereotip amukan kulit hitam.

"Jika penembak massal teridentifikasi sebagai muslim, insiden akan segera ditetapkan sebagai terorisme dan memicu peningkatan pengeluaran pertahanan dan keamanan," kata Naaz dalam artikel opini yang dipublis, Rabu (4/10).

Padahal, sejak 1982, lanjut Naaz, penembakan massal di AS telah dilakukan oleh laki-laki kulit putih yang kerap dilabeli Lone Wolves atau cacat psikologis. Akibatnya, pemerintah yang seharusnya bisa memobilisasi institusi-institusinya untuk mewujudkan reformasi, malah tetap menjadi pendukung Amandemen Kedua dan sekutu terbesar penembak massal.

Adapun, tanggapan serupa juga disampaikan oleh Yasir Qadhi, seorang warga negara muslim AS. Melalui status di akun sosial media Facebook miliknya, Yasir juga menyinggung soal tak disematkannya status teroris kepada pelaku penembakan Las Vegas. Bahkan ia menyebutnya sebagai keistimewaan kulit putih, dengan menggunakan tagar #whiteprivilege.

"Apakah Anda tahu apa itu #whiteprivilege? Itu adalah membunuh lebih dari 50 orang dan melukai 450, hanya untuk membuat pihak berwenang mengklaim, dalam beberapa menit dan tanpa ada verifikasi, bahwa Anda bukan seorang teroris," ujar Dekan Intitute Al-Maghrib tersebut seperti dilansir dari status Facebooknya.

Sindiran Naaz dan Yasir tersebut mewakili seruan warga AS lainnya yang juga mempertanyakan hal yang sama. Namun, menanggapi hal ini, Kepolisian Las Vegas dan Biro Penyelidikan Federal (FBI) menyatakan Stephen tidak memiliki catatan kriminal, meski IS telah mengklaim bertanggung jawab atas penembakan tersebut, namun otoritas AS menyatakan mereka tidak menemukan hubungan antara pelaku dan organisasi teroris internasional mana pun. (CNN/OL-3)

Komentar