Nusantara

Pengemas Garam Ilegal di Payakumbuh Jadi Tersangka

Kamis, 12 October 2017 21:46 WIB Penulis: Nicky Aulia Widadio

MI Nicky

PENYIDIK Kepolisian Resor Payakumbuh telah menetapkan satu orang tersangka penyimpan garam tidak berizin di Koto Tangah, Payakumbuh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Polisi menemukan sebanyak 14 ton garam tidak layak konsumsi di gudang penyimpanan milik tersangka bernama Yunaldi.

Kepada penyidik, Yunaldi mengaku membeli garam secara online dari kawasan Demak, Jawa Tengah. Saat penggrebekan, polisi menemui adanya 14.750 kilogram garam yang dikemas di dalam 295 karung. Garam ia beli seharga Rp 2.800 per kilogram. Garam kemudian di jual seharga Rp 3.500 per 200 gram.

Kemasan yang ia gunakan bertuliskan garam konsumsi beryodium. Namun, berdasarkan hasil uji lab Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Padang, garam yang dikemas ulang oleh Yunaldi nyatanya tidak mengandung yodium sama sekali. Padahal garam konsumsi semestinya mengandung 35 ppm yodium. Selain itu, kadar air pada garam tersebut ditemukan sebanyak 11,43 persen, padahal semestinya kadar air pada garam maksimal ialah 7 persen.

"Campuran lain nggak ada, ini murni garam," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Payakumbuh Ajun Komisaris Chairul Amri Nasution di Polres Payakumbuh, Kamis (12/10).

Garam tersebut disimpan di sebuah gudang di belakang rumah orangtua Yunaldi. Ia juga memiliki karyawan untuk membantu proses pengemasan garam. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap karyawannya sebagai saksi, mereka ternyata tidak mengetahui bahwa garam tersebut tidak sesuai dengan standar nasional yang ditetapkan pemerintah terhadap garam konsumsi.

Melalui modus ini, sambung Amri, Yunaldi diduga memanfaatkan kelangkaan garam untuk mencari keuntungan.

"Pasti mencari keuntungan. Dia tidak mengurus izin, lalu di kemasan mencantumkan bahwa garam itu terdaftar di BPOM, ternyata tidak," paparnya.

Pun begitu, polisi belum menghimpun berapa jumlah keuntungan yang diraup oleh Yunaldi. Garam tersebut disinyalir baru diedarkan sebagian kecilnya.

Atas perbuatannya Yunaldi disangkakan telah melanggar Undang-Undang Perindustrian, Undang-Undang Perdagangan, Undang-Undang Perlindungan Konsumen, serta Undang-Undang tentang Pangan. Ia terancam hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp 5 miliar. (OL-1)

Komentar