Nusantara

Polisi Berdayakan Ojek dan Klub Motor Demi Kamtibmas

Kamis, 12 October 2017 21:52 WIB Penulis: Nicky Aulia Widadio

MI Nicky

KOMUNITAS motor di Kota Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat dulunya sempat dianggap meresahkan. Setiap malam minggu, jalan raya yang relatif sepi menjadi ajang balap liar bagi mereka. Salah satu warga Painan, Mulfidia Rajab, ingat betul betapa mengganggunya derum suara knalpot yang terdengar hingga pukul 12 malam. Bahkan suatu pagi, Mulfidia mendapati tangan anaknya mengalami patah tulang akibat balapan liar.

"Pernah satu pagi, anak saya pulang-pulang tangannya patah, ternyata karena balap liar," kenang Mulfidia.

Tidak banyak tempat hiburan di kota yang terletak di pesisir barat sumatera ini. Hal ini mengakibatkan anak-anak muda di Kota Painan berupaya mencari hiburan sendiri, salah satunya dengan menggelar balapan liar. Aksi ini justru meresahkan warga.

"Dulu setiap malam minggu berisik, bisa sampai jam 12 malam saya dengar suara mereka balapan," tambahnya.

Alih-alih menindak mereka secara hukum, Polres Kabupaten Pesisir Selatan menggunakan pendekatan yang lebih persuasif. Ialah Ipda Undra Putra yang pertama kali menginisiasi pemberdayaan masyarakat dengan pola ini. Namun, lantaran Undra harus menjalani sekolah pembentukan perwira di Sukabumi, program kemudian dilanjutkan oleh Bripka Riki Mustika yang menjabat sebagai Kepala Unit Pendidikan dan Rekayasa di Polres Kabupaten Pessel, serta seorang pegawai harian lepas bernama Dora Helmi.

"Tukang ojek dan komunitas motor ini yang dulu meresahkan masyarakat, daripada begitu lebih baik kita bina, kita fasilitasi supaya tidak meresahkan lagi," kata Undra.

Sebanyak 24 komunitas motor di seluruh Kabupaten Pesisir Selatan dirangkul. Mereka diminta untuk tidak lagi menggelar aksi balap liar. Sebagai gantinya, lapangan Polres Pessel boleh mereka gunakan sebagai tempat berkumpul.

"Mereka bilang, mau jungkir balik pun di lapangan Polres nggak apa-apa, asal jangan balap liar," kata Jon, ketua dari salah satu komunitas motor di Painan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Para anggota komunitas motor diminta saling mengingatkan jika ada teman mereka yang melanggar lalu lintas, atau kelengkapan kendaraannya tidak sesuai aturan. Jika ada yang melanggar, maka ketua dari komunitas lah yang mulanya menegur. Setiap kegiatan mereka lakukan di halaman Polres, atau sekedar duduk bercengkrama di salah satu cafe di kota tersebut.

"Kami nggak mau komunitas motor dianggap bikin rusuh," kata Jon.

Selain komunitas motor, para ojek pangkalan pun turut dirangkul. Mereka juga diajarkan tata cara menyikapi kecelakaan lalu lintas. Pasalnya, wilayah Kabupaten Pesisir Selatan terbentang di sepanjang garis pantai sekitar 281 kilometer, dari yang berbatasan dengan Kota Padang hingga yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu. Jumlah penduduknya berkisar 480 ribu jiwa, sementara jumlah personil kepolisian hanya sekitar 600 orang.

Kondisi tersebut membuat pihak kepolisian harus proaktif melibatkan masyarakat guna menciptakan ketertiban dan keamanan di masyarakat. Ada sekitar 1500 orang ojek pangkalan di Kabupaten Pesisir Selatan, 240 orang di antaranya telah dibina, bahkan sebagai informan atas peristiwa kriminal yang terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan.

Riki bercerita, komunitas motor dulu lekat dengan balap liar, sementara tukang ojek kerap dijadikan alat politik untuk demonstrasi atas nama kepentingan berbagai pihak. Belum lagi para tukang ojek kerap membohongi wisatawan, dan mematok tarif tinggi hingga ratusan ribu dengan jarak tempuh yang dekat. Alasan-alasan itu lah yang mendasari pembinaan kepada kalangan tersebut.

Pembinaan telah dimulai sejak 2009. Setiap minggu mereka melakukan pertemuan sekaligus mengedukasi pihak-pihak tersebut terkait ketertiban lalu lintas hingga penanganan darurat terhadap korban kecelakaan. Riki mencontohkan, pernah ada pelaku tabrak lari yang akhirnya diamankan oleh warga lalu diserahkan ke pihak kepolisian tanpa tindakan main hakim sendiri.

"Sekarang mereka bahkan bisa dibilang meringankan pekerjaan kami," ucap Riki.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan pun turut mengapresiasi program pembinaan yang dilakukan pihak Polres Kabupaten Pessel. Sebab, komunitas motor dan tukang ojek bahkan turut berkontribusi dalam raihan Piala Adipura di Kabupaten Pessel pada 2017 ini.

"Ini sudah berjalan cukup lama, mencakupi bagaimana berkendara yang aman juga menjagai lingkungan, mereka juga dilibatkan bersih-bersih di pantai," ujar istri dari Bupati Pesisir Selatan, Lisda Rawdha. (OL-1)

Komentar