Polkam dan HAM

Tindak Tegas Penghina Presiden

Jum'at, 13 October 2017 08:24 WIB Penulis: MI

MI/Kristiadi

MENTERI Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan siap melawan siapa pun yang menghina Presiden Joko Widodo, karena presiden merupakan simbol negara. “Selaku pembantu presiden akan siap melawan siapa pun yang menghinanya, termasuk melecehkan lambang negara,” tegasnya seusai menjadi inspektur upacara peringatan HUT ke-72 Provinsi Jawa Timur di Tugu Pahlawan Surabaya, kemarin (Kamis, 12/10).

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai dan martabat bangsa dengan bersikap tegas terhadap pihak yang berusaha memecahkan lambang negara. “Tak hanya peran TNI dan Polri menjaga kesatuan negara ini, tapi kita sebagai masyarakat dan rakyat Indonesia harus bersinergi untuk berbuat yang terbaik untuk bangsa,” ujar mantan Sekjen PDIP itu.

Sebagai bangsa yang menganut sistem demokrasi yang memberikan ruang bagi masyarakat berpendapat, kata dia, ia mempersilakan pihak yang ingin memberikan masukan, kritik, dan saran terhadap pemerintah dengan syarat tidak melanggar aturan yang ada.

“Bersikap kritis boleh, memberi pendapat boleh, jadi oposisi boleh, tapi patuhi aturan-aturan yang ada. Jangan fitnah, jangan berujar kebencian, dan jangan mengumbar SARA. Ini yang harus dilawan,” imbuhnya.

Di sisi lain, Mendagri juga mengingatkan bahwa 2018 merupakan tahun politik yang ditandai dengan pelaksanaan 171 pilkada serentak, serta memasuki tahapan-tahapan Pemilu 2019. Ia mengharapkan seluruh elemen, mulai calon kepala daerah, calon anggota legislatif, tim sukses, hingga individu-individu tidak menyampaikan ujaran kebencian karena akan berakibat negatif serta merusak bangsa. “Justru mereka harus beradu konsep dan gagasan, kemudian mengajak masyarakat berpartisipasi aktif agar terpilih pemimpin yang amanah dan berintegritas.”

Dalam kesempatan yang sama, Tjahjo juga menyesalkan sikap pihak pasangan calon yang tidak terima putusan hasil pemilihan kepala daerah hingga melakukan tindakan anarkistis dengan merusak aset negara seperti Gedung Kementerian Dalam Negeri.

Pihaknya merasa tercoreng oleh peristiwa kerusuhan pada Rabu (11/10) sore di Gedung Kemendagri. “Kasus perusakan kantor Kemendagri dan adanya staf Kemendagri yang terluka, bagi saya seperti tertampar. Harga diri dan kehormatan saya terganggu dengan ulah orang-orang tersebut, yang mengatasnamakan warga Tolikara pendukung pasangan calon yang kalah,” tandas Tjahjo.

Dia merasa kecewa karena pihaknya telah dua kali menerima aspirasi mereka, namun massa pendukung pasangan calon John ­Tabo-Barnabas Weya nekat melakukan tindakan anarkistis. “­Kemendagri selama ini sudah berbaik hati ­dengan menerima mereka, namun ­balasannya justru kita dilukai.” (Nur/Ant/P-3)

Komentar