Megapolitan

MRT Fase II Bermasalah Tembus Kota Tua

Jum'at, 13 October 2017 10:17 WIB Penulis: Yanurisa Ananta

Pemukiman padat penduduk Kampung Bandan, Jakarta Utara, seluas 2,5 hektare yang akan direloka---ANTARA/Bernadeta Victoria

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta mengaku kebingung­an memulai konstruksi Fase II rute Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, hingga Kampung Bandan, Jakarta Utara.

Tidak ada yang tahu bagaimana konstruksi bawah tanah di area Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan Kawasan Kota Tua, termasuk pihak Dinas Pariwisata DKI Jakarta sendiri.

Direktur Konstruksi PT MRT Silvia Halim mengatakan berbeda dengan yang terjadi di Kyoto, Kairo, dan Istanbul. Pengerjaan proyek kereta bawah tanah di ketiga kota itu aman karena pemerintah setempat mengantongi data konstruksi di bawah tanah lokasi yang di atasnya terbangun ba­ngunan tua sehingga dapat diantisipasi.

“Di Jakarta tidak ada yang tahu bagaimana konstruksi di bawah Kota Tua. Kami mesti sangat hati-hati dalam pelaksanaannya,” papar Silvia Halim di Gedung Wisma Nusatara, kemarin (Kamis, 12/10).

Fase II pengerjaan MRT akan membentang sepanjang 8,3 kilometer dari Bundaran HI hingga Kampung Bandan. Keseluruhan pembangunan akan dilakukan di bawah tanah. Hal itu mengkhawa­tirkan, sebab sifat tanah lebih cair dan bangunan di atasnya terbilang tua.

Berbeda dengan fase I yang kondisi tanahnya diketahui lebih bagus dan gedung-gedung yang terbangun terbilang baru. Pihak MRT pun sudah melakukan pembicaraan dengan Tim Cagar Budaya Dinas Pariwisata. Dari pembicaraan itu, pihak Dinas Pariwisata DKI meminta tim ahli melihat langsung proses pembangunan bawah tanah.

Pembangunan pun perlu lebih berhati-hati karena sepanjang terowongan MRT terdapat Kali Molenvliet. Tipe tanah yang basah akan memengaruhi kelancaran dalam pembuatan terowongan.

Menurut rencana, MRT akan membangun terowong­an dengan kedalaman 20 meter dan dianggap masih pada level tidak mengganggu struktur Kali Molenvliet. Anggota Tim Cagar Budaya Pemprov DKI Chandriyan Attahiyat mengkhawatirkan pengeboran akan menyebabkan patahan pada material arkeologi yang mengakibatkan tidak terlacaknya fungsi dari benda bersejarah dan sejak kapan benda itu ada di bawah tanah.

Menurut Chandriyan, pemindahan kali yang berada di bawah Kota Tua, untuk sementara ini, tidak perlu dilakukan. (Aya/J-2)

Komentar