Ekonomi

Kemitraan Strategis Sinar Mas dan Petani Sawit

Jum'at, 13 October 2017 20:31 WIB Penulis:

ANTARA FOTO/HO/Budi

MELALUI kemitraan terintegrasi, Sinar Mas Agribusiness and Food sejak 2015 secara bertahap telah mendukung peremajaan perkebunan kelapa sawit milik petani swadaya.

Langkah ini sejalan dengan program pemerintah untuk meremajakan perkebunan sawit rakyat. Komitmen ini diperkuat perusahaan melalui penandatanganan nota kesepakatan bersama untuk memberikan dukungan program peremajaan pekebun kelapa sawit selama 12 bulan ke depan dan selanjutnya.

Nota kesepakatan bersama tersebut ditandatangani Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Ir. Bambang, MM, Dirut BPDP Kelapa Sawit Dono Boestami, Direktur PT Ivo Mas Tunggal Franciscus Costan (salah satu entitas anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food), dan Ketua Koperasi Sawit Kandis Sejahtera Alfan Lubis, yang disaksikan Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

“Program peremajaan untuk kebun sawit petani swadaya telah dimulai di perusahaan kami sejak 2015. Melalui program kemitraan yang terintegrasi, kami memberikan pendampingan on-farm dalam bentuk pemberian benih yang bersertifikat, penggunaan pupuk, praktik agronomi yang berkelanjutan dan selain itu mencarikan sumber pendanaan, dengan jaminan panen (off-taker),” kata Chairman Sinar Mas Agribusiness and Foods Franky O Widjaja.

Penuturan Franky dilakukan saat menghadiri penanaman perdana Program Peremajaan Kebun Kelapa Sawit oleh Presiden Joko Widodo di Desan Panca Tunggal, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (13/10).

Dalam praktiknya program kemitraan memiliki kendala yang sering ditemui, seperti aspek legalitas lahan, lahan petani swadaya yang belum memiliki sertifikat, perlunya penguatan terhadap organisasi kooperasi serta pemahaman terhadap praktik agronomi yang baik, dan sumber pendanaan bank.

Dalam pidatonya Presiden Jokowi menegaskan untuk dilakukan percepatan terhadap proses penyelesaian proses perijinan dan pembuatan sertifikat lahan. Sehingga peremajaan kebun kelapa sawit petani swadaya dapat dilakukan segera.

Karena melibatkan lintas pihak, termasuk perbankan, Franky mengingatkan jika aspek legalitas lahan adalah syarat penentu. Padahal bagi para petani swadaya, hal itu adalah kendala utama, semisal kepemilikan sertifikat.

“Dibutuhkan adanya penyesuaian regulasi, sehingga skema pembiayaan inovatif ini dapat berlangsung optimal, di mana perbankan tak ragu menyediakan dukungan pendanaan dengan suku bunga yang ringan,” tutur Franky.

Ia menyambut baik langkah pemerintah membentuk Tim Kerja Peremajaan Kelapa Sawit yang terdiri dari sejumlah kementerian terkait, pemerintah daerah, serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang akan mengawal keberlanjutan peremajaan.

Di tempat yang sama, Managing Director Sinar Mas G Sulistiyanto mengatakan, “Kemitraan terintegrasi kami harapkan dapat memperkuat program lain pemerintah, yakni memperkuat sekaligus menumbuhkan ekonomi kerakyatan.”

Saat ini peremajaan yang dilakukan Sinar Mas Agribusiness and Food telah menjangkau lebih dari 600 petani swadaya dengan keseluruhan perkebunan seluas lebih dari 1.400 hektare (ha) di Riau dan Jambi. "Saat ini, kita telah mengidentifikasi potensi lahan 3.500-5.000 ha petani swadaya di Sumatra Utara, Jambi dan Riau,” ungkap Sulistiyanto.

Di Indonesia, keseluruhan tercatat ada 4,7 juta ha kebun sawit rakyat, yang 800.000 ha di antaranya mendesak diremajakan. (OL-4)

Komentar