KICK ANDY

Deteksi Vaksin Palsu dengan X-Factor

Sabtu, 14 October 2017 05:03 WIB Penulis: TB/M-3

MI/Arya Manggala

BERANGKAT dari terbongkarnya kasus vaksin palsu, lima mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, membuat alat pendeteksi keaslian vaksin. Awalnya, Oktivia Ditasari, Apri Dwi Megawati, Audina Fidiarestanti, Ahmad Syafiudin, dan Muhammad Fatahila membuat alat ini untuk mengikuti program kreativitas mahasiswa. Pada Agustus lalu, keistimewaan inovasi alat tersebut terbukti dengan berhasil menyabet medali emas presentasi untuk poster dan perunggu pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-30 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Salah satu penemu, Oktivia Ditasari, menjelaskan, jika sebelumnya dibutuhkan waktu dan keahlian khusus untuk mengetahui keaslian vaksin, X-Factor dapat mendeteksi keaslian vaksin dalam waktu yang singkat tanpa membutuhkan keahlian khusus.

Dia mengatakan X-Factor akan mendeteksi keaslian vaksin melalui kromatografi, sentrifugal, dan divergensi sinar UV. Hanya dibutuhkan 1 mililiter sampel vaksin yang akan diputar dengan kecepatan 300 rpm selama 1 menit. Sinar UV akan memonitor sebaran komponen molekul sampel dan sensor warna akan membaca hasil sebaran. Hasil pengujian kemudian akan tampil di LCD.

"Vaksin palsu atau asli pun langsung bisa diketahui setelah dicocokkan lagi dengan hasil pengujian standarnya," jelas Oktivia.

Meskipun saat ini baru bisa mendeteksi keaslian vaksin campak dan polio pada manusia serta vaksin pada unggas, X-Factor akan terus dikembangkan agar bisa mendeteksi keaslian lebih banyak vaksin.

"Alat ini memang masih dalam pengembangan lebih lagi, termasuk untuk ukurannya. Kami akan memikirkan untuk mengecilkan ukuran sehingga bisa lebih mudah dibawa ke mana-mana," tambah penemu lainnya, Ahmad Syafiudin.

Sampai saat ini, kelima penemu masih melakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan vaksin. Mereka pun masih akan menambah uji validitas data dari alat yang mereka temukan sehingga jika alat mereka teruji validitasnya, mereka siap memproduksi alat ini secara massal.

"Karena ini penemuan baru, harus divalidasi dengan alat yang sudah pasti atau distandarkan dengan alat yang sudah lebih dulu ada. Jika semua sudah sesuai, kami siap memproduksinya dengan harga di kisaran Rp4 juta sampai Rp5 juta," tegas Oktivia yang diamini Ahmad.

Mereka berharap alat ini bisa menjadi salah satu solusi untuk membedakan vaksin palsu dan asli sehingga masyarakat tidak menjadi korban atas maraknya vaksin palsu yang beredar luas di Indonesia.

Komentar