Foto

Sebelum Langit Merah di Manggarai Barat

Ahad, 15 October 2017 00:01 WIB Penulis: Henri Siagian

MI/Henri Siagian

DUNIA seperti lebih dramatis pada senja itu di Pantai Pede, Manggarai ­Barat, Nusa Tenggara ­Timur (NTT). Merahnya sinar matahari menyapu langit, ombak pesisir hingga kapal-kapal yang tertambat. Menggenapkan eksotisme yang terhampar di berbagai sudut kabupaten kepulauan tersebut.

Selama ini lebih dikenal sebagai gerbang menuju kawasan habitat asli reptil raksasa, Komodo (Varanus komodoensis), Manggarai Barat ­nyatanya memiliki pesona tersendiri yang tidak kalah unik. Bahkan kerap terasa menggugah karena pesona itu dibentuk dari paduan kisah ­kehidupan manusia dan alamnya.

Pagi hari di kabupaten yang ­beribukota Labuan Baju itu adalah derap kehidupan yang beranjak lambat. Namun karena itu pula kehangatan suasana, tidak cepat pudar. Terlebih dengan keramahan yang seperti memang mendarah daging.

Itu pula yang ada di siswa-siswa SDK Nunang di Desa Wae Sano, ­Kecamatan Sano Nggoang, ­Manggarai Barat. Bangunan sekolah yang sudah berdiri sejak 1949 itu jauh dari ­kinclong.

Atap asbesnya bahkan tidak tertutup sempurna. Namun mengintip dari jendela-jendala nako yang tidak lagi berkaca, tetaplah bocah-bocah dengan senyum ceria.

Di pasar, derap kehidupan juga penuh geliat. Meja-meja para pedagang menjadi bukti kemurahan laut mereka. Pasar Tempat Penjualan Ikan (TPI) Labuan Bajo menjual ikan yang diasinkan maupun segar. Seperti kerapu, ekor kuning, hingga tuna berukuran 70 kilogram.

Tidak hanya mengandalkan hasil alam, perekonomian juga bergerak dengan produksi tenun khas setempat. Regenerasi penenun di kalangan anak muda pun digenjot lagi setelah beberapa waktu tersaingi dengan profesi sebagai tenaga kerja asing (TKA).

Sementara di tempat lainnya, ­suasana religius kental terasa. ­Seperti yang terlihat di tepi danau yang juga tidak jauh dari sebuah sekolah. Di bawah pohon rindang, Gua Maria berdiri menawarkan oase sejenak.

Seperti menikmati kopi manggarai yang terasa setiap sesapnya, begitulah hari beranjak di Labuan Bajo. Bahkan sebelum matahari tergelincir di ufuk barat, pesonanya sudah meresap ke sanubari. (M-3)

Komentar