Features

Perajin Tikar Mendong Kesulitan Regenerasi

Rabu, 18 October 2017 20:28 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi

MI/Ardi

JARI-JEMARI Payem menari lincah menganyam mendong. Ia terlihat cekatan dan benar-benar telah mahir dengan yang sedang dikerjakannya. Ia mampu terus menganyam mendong tanpa melihat mendong di tangannya.

"Sudah hafal, sudah lama bisa menganyam seperti ini," kata perempuan kelahiran 1956 saat ditemui di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (18/10). Siang itu, Payem sedang menganyam mendong untuk dibuat tikar.

Bagi perempuan yang mengaku tidak bisa baca tulis tersebut, ketrampilannya menganyam mendong sudah turun temurun. Dulu, orangtuanya juga perajin anyaman tikar mendong dan anyaman bambu untuk dijadikan bakul.

Payem mengaku, saat ini penganyam mendong di Pedukuhan Kayuhan Wetan, Desa Triwidadi, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY, memang sudah jauh berkurang. Yang muda-muda sudah tidak mau lagi menganyam mendong.

Ketiadaan generasi penerus yang mau menganyam mendong diakui pula oleh Legiyem, perempuan kelahiran 1970, perajin dan pengepul anyaman mendong. Menurut perempuan yang sudah sudah menjadi perajin mendong sejak 1982, dia lah perajin mendong termuda di Desa Triwidadi.

"Mana mau yang muda-muda menganyam mendong," kata dia di tempat yang sama.

Anak-anak muda saat ini, menurutnya, lebih memilih bekerja di pabrik.

"Kami cuma bisa menganyam untuk tikar. Ingin juga bisa buat tas atau topi, tapi tidak bisa," ujar Legiyem.

Ia pun berharap, ada pihak-pihak yang mau memberi pelatihan membuat mendong. Ia menyebut, hanya dua ujuran tikar mendong yang dibuat, yaitu 70 cm x 70 cm dan 1,25 meter x 2 meter. Tikar ukuran kecil seharga Rp5 ribu, sedangkan tikar ukuran besar berkisar antara Rp35 ribu-Rp50 ribu.

Para perajin anyaman mendong di desanya kini tersisa 20 orang. Mereka biasa menganyam mendong saat-saat luang. Alhasil, produksi mereka pun tidak banyak. Satu tikar ukuran besar biasa diselesaikan dalam seminggu, sedangkan empat tikar kecil bisa rampung sehari.

Menurut dia, minat masyarakat terhadap tikar mendong jauh menurun saat ini. Masyarakat lebih banyak membeli tikar plastik sehingga tikar mendong pun tersingkirkan. Padahal, secara kualitas dan ramah lingkungan, tikar mendong jauh lebih unggul.

Slamet Riyanto, 39, Kepala Desa Triwidadi mengakui, regenerasi perajin anyaman mendong memang sulit, sama sulitnya seperti regenerasi petani. Dulu sekitar 20 tahun lalu, setiap dukuh banyak perajin anyaman mendong.

"Sekarang setiap dukuh memang ada, tapu jumlahnya hanya satu dua," kata kepala desa yang membawahi 22 pedukuhan tersebut.

Ia pun menyambut baik apabila warga memiliki keinginan meregenerasi perajin anyaman mendong.

"Dari anggaran desa, tentu bisa untuk mengadakan pelatihan menganyam mendong, termasuk untuk membuat tas dan topi. Warga harus membuat usulan itu ke desa," kata dia.

Bagi Camat Pajangan, Yulius Suharta, peminat tikar mendong sekarang ini malah meningkat. Pasalnya, tikar mendong kental dengan tradisional.

Ia pun mendorong perajin tikar mendong dapat mendaftar izin usahanya agar mereka dapat mengakses bantuan permodalan dari perbankan dan program-program pelatihan dari pemerintah. Dengan bantuan permodalan dan pelatihan, diharapkan usaha perajin tikar mendong dapat terus tumbuh dan berkembang. (OL-2)

Komentar