Eksplorasi

Ilmuwan Prancis Ungkap Misteri Penyebab Disleksia

Sabtu, 21 October 2017 03:15 WIB Penulis: dys/L-3

AFP

DUO ilmuwan Prancis yaitu Guy Ropars dan Albert le Floch pada Rabu (18/10) mengumumkan penemuan yang mengungkap penyebab fisiologis penyakit disleksia yang tersembunyi di sel reseptor kecil pada mata manusia. Disleksia merupakan gangguan belajar pada anak. Anak penderita disleksia mengalami kesulitan mengeja atau membaca karena umumnya mereka melihat huruf maupun kata seperti terbolak-balik. Misalnya, huruf d terlihat seperti huruf b.

Pada orang-orang dengan ketidakmampuan membaca, sel reseptor disusun dalam pola yang sesuai (simetris) di kedua mata. Kondisi tersebut kemungkinan yang membingungkan otak karena menghasilkan gambar ‘cermin’. Pada orang-orang yang tidak menderita disleksia, sel-sel disusun asimet­ris sehingga memungkinkan sinyal dari satu mata untuk dikesampingkan orang lain untuk menciptakan satu gambar di otak.

“Kami menemukan penyebab disleksia yang potensial hanya dengan melihat ke mata subjek,” kata peneliti Guy Ropars dari Universitas Rennes. Lebih jauh lagi, penemuan penundaan (sekitar 10 seperseribu detik) di antara gambar primer dan bayangan cermin di belahan otak yang berlawanan memungkinkan pengembangan metode untuk menghapus bayangan cermin yang sangat membingungkan bagi pengidap disleksia.

Seperti kidal, manusia juga memiliki mata yang dominan. Karena kebanyakan dari kita memiliki dua mata, yang mencatat versi yang sedikit berbeda dari gambar yang sama, otak harus memilih salah satu dari keduanya, yang menciptakan nonsimetri. Sinyal gambar ditangkap dengan batang dan sejumlah kerucut di mata. Kerucut itu bertanggung jawab untuk mengenali warna. Mayoritas kerucut berwarna merah, hijau, dan biru ditemukan pada titik kecil di tengah kornea mata yang disebut fovea.

Pada fovea terdapat lubang kecil berwarna biru tanpa kerucut berdiameter 0,1-0,15 milimeter. Dalam studi terbaru ini, Ropars dan Albert le Floch melihat perbedaan besar antara susunan kerucut di antara mata orang-orang disleksia dan orang-orang yang tidak disleksia. Pada orang yang tidak disleksia, bintik biru tanpa kerucut di satu mata (yang dominan) berbentuk bulat dan di mata lainnya tidak rata.

Pada orang disleksia, mereka menemukan kedua mata memiliki titik bulat yang sama, yang berarti mata tidak ada yang dominan. “Bagi siswa disleksia kedua mata mereka setara dan otak mereka harus secara berturut-turut mengandalkan dua versi pertunjukan visual yang berbeda,” kata duo tersebut menambahkan. Sekitar 700 juta orang di dunia diketahui menderita disleksia, atau sekitar 1 dari 10 populasi global. Hasil penelitian ini dimuat lebih rinci dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B. (AFP/dys/L-3)

Komentar