Gaya Urban

Adu Balap Drone

Ahad, 22 October 2017 05:01 WIB Penulis: Fari Untung Tanu

DOK. INDONESIA DRONE RACING FEDERATION

DI sebuah taman yang terletak di sektor 9 Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, sekelompok pria seperti sedang bermain virtual reality (VR). Mata mereka mengenakan perangkat serupa teknologi gim tersebut, tetapi perlengkapan yang dibawa jauh lebih banyak.

Selain menggunakan alat pengendali jarak jauh (remote control, mereka membawa berbagai perlengkapan kelistrikan dan mekanika. Kemudian ada pula papan-papan dan tiang-tiang besi yang mereka siapkan. Namun, perangkat paling penting mereka ialah pesawat mini tanpa awak dengan empat baling-baling. Ya, pesawat yang dikenal dengan sebutan drone ini sekarang memang bukan saja untuk kegiatan fotografi dan videografi.

Balap drone, seperti yang ada di Bintaro itu, juga terlihat di kawasan-kawasan terbuka di Jakarta. Bahkan dengan makin banyaknya peminat, pelaku balap drone sudah membentuk wadah khusus, yakni Indonesia Drone Racing Federation (IDRF).

Selain di Bintaro, mereka kerap menggelar balapan di area-area terbuka di Pantai Indah Kapuk, Cibubur, Cikeas, bahkan juga di Lindeteves Trade Center Glodok dan perumahan Jakarta Garden City Cakung.

Drone yang mereka kemudikan tidak hanya terbang lurus atau meliuk di antara pohon-pohon, tetapi juga harus melewati rintangan-rintangan yang mereka bentuk dengan papan dan besi-besi tadi.

"Serunya itu adrenalinnya. Kecepatan drone waktu racing itu bisa mencapai 80km/jam," tutur Unggul Pratiyodha yang ikut dalam balap drone di Bintaro. Ia menambahkan balapan itu pun terasa kian nyata karena teknologi first person view (FPV). Teknologi ini terdiri dari kamera yang ada pada drone dan perangkat penglihatan yang dikenakan mirip perangkat VR.

Teknologi ini pula yang memberikan sensasi berbeda ketimbang hobi pesawat remote control umumnya. Dengan kemampuan melihat keadaan drone berada, Unggul pun layaknya menjadi pilot.

Maka jangan heran pula jika mereka tampak sangat serius ketika sedang mengemudikan drone. Maklum, jika ia tidak fokus, drone yang terbang dengan kecepatan tinggi itu bisa saja berakhir menabrak pohon atau rintangan.

"Jadi kalau otak, mata, dan tangan enggak sinkron, pasti menabrak. Jadi memang harus fokus banget," tutur pria yang akrab disapa Yodha ini.

Demi sensasi yang lebih menantang, tidak jarang pula pria 31 tahun itu bermain balapan di malam hari. Saat balapan malam ini, arena pertandingan menjadi cantik dengan lampu-lampu yang dipasang di rintangan.

Yodha dan rekan-rekan membuat obstacle dalam beragam bentuk, seperti lingkaran dan persegi. Tingkatan rintangan ini disesuaikan dengan kebutuhan.

"Biasanya kalau latihan obstacle-nya tidak perlu yang sulit. Yang penting bisa untuk latihan dan melatih sensitivitas jari kita dalam mengendalikan remote control dan drone," jelas Yodha.

Olahraga

Meski tidak banyak melakukan gerakan atau aktivitas fisik, drone racing ternyata juga disebut olahraga. Dalam mengendalikan drone, dibutuhkan berbagai keahilan serta fisik yang mumpuni.

"Kalau dilihat sepintas memang menjadi seorang racer itu mudah. Hanya berdiri, pakai FPV di mata, dan menggerakan remote control. Namun, untuk bisa itu semua, tidaklah mudah," tutur Ketua IDRF Asha Wadya Saelan.

Asha menjelaskan ketahanan fisik, fokus, dan konsentrasi menjadi hal utama untuk bisa menjadi seorang pilot drone andal. Jika sedikit saja hilang konsentrasi, bisa dipastikan drone milik pilot akan tertabrak obstacle atau dengan drone lain.

"Jadi jika seorang racer kurang istirahat, begadang atau sedang lelah, tentunya tidak akan bisa secara maksimal dalam balapan karena fokus dan konsentrasinya akan gampang terganggu," jelas Asha.

Selain itu, Asha mengatakan dalam waktu dekat ini drone racing akan masuk cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 dan di digelar di Papua.

"Sudah disetujui (drone racing) akan ada di PON 2020 di Papua di bawah naungan olahraga dirgantara," jelas Asha.

Menurutnya, hingga saat ini pecinta drone racing di Tanah Air terus mengalami peningkatan. Khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Bali, dan Makassar, berbagai kompetisi skala lokal kerap diselenggarakan.

"Peminat drone racing itu banyak sekali. Tinggal bagaimana pemerintah dan kita sebagai federasi ini memaksimalkan bakat dan antusiasme yang sudah ada," ungkapnya.

Komentar