Jeda

Pembangunan Jangan Disetop

Ahad, 22 October 2017 10:09 WIB Penulis: FD/X-7

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Akasia, Tebet Barat, Tebet, Jakarta Selatan. -- MI/Ramdani

SALAH satu pengelola RPTRA Kalijodo, Saraf Asyifa mengatakan, di hari biasanya, apalagi di siang hari, aktivitas di tempat itu sepi. Apalagi, lokasinya berada jauh dari permukiman warga.

"Paling mereka yang mampir kebetulan melintas di daerah ini," katanya.

Saat awal-awal pembukaan RPTRA Kalijodo, lanjutnya, masyarakat berdatangan sangat antusias. Bahkan, mereka yang datang berasal dari Bogor, Tangerang, Cengkareng, dan Bekasi.

"Kalau hari libur bisa 1.000 pengunjung, tapi kalau hari biasa cuma 200-300 pengunjung. Mungkin karena sudah tau dan mencoba fasilitas yang ada di sini, jadinya berkurang," sebutnya.

Fasilitas di lahan seluas 5.489 meter dan bangunan 1.468 meter persegi itu antara lain pos pengaduan kekerasan terhadap perempuan dan anak, area bermain sepeda, lapangan sepak bola, ruang laktasi, perpustakaan, dan fasilitas bermain anak-anak lainnya.

Sarah berharap di bawah kepemimpinan Gubernur Anies-Sandi, keberadaan RPTRA yang sudah baik itu terus ditingkatkan. Apalagi, taman bermain dan belajar susah ditemukan di Jakarta.

"Sekarang sudah bagus, kalau bisa ditambah lagi dan diperbaiki agar lebih banyak. Pembangunan RPTRA ke depan jangan dihentikan, tetapi seharusnya lebih banyak lagi. Lebih diperhatikan lagi gedungnya, pengelolannya dan fasilitasnya ditambah. Misalnya, ada ruang ibadah, biar mudah aksesnya," katanya.

Jauh dari rumah warga
Rencana ke depan, RPTRA Kalijodo, tambah Sarah, akan memperbanyak kegiatan untuk masyarakat sekitar. Namun, ada sejumlah kendala, seperti rumah warga di wilayah Angke jauh untuk mengakses RPTRA.

"Jika ke sini ya harus naik kendaraan. Orangtua mereka kerja, kan tidak mungkin anak-anak harus jalan sendiri ke sini. Nah, jika lewat sana pun harus nyebrang, tapi jembatannya tidak ada," paparnya.

Menurutnya, memang dibutuhkan keterlibatan masyarakat sekitar.

"Saat ini di hari-hari biasa kita tidak buat acara, kendalanya tidak ada anak-anak sekitar yang datang. Letaknya memang tidak strategis untuk di akses. Kanan-kiri kali dan depan-belakang jalan raya, jadi anak-anak sudah diajak, ke sini pun harus sama orangtua," lanjutnya.

Ia menambahkan, RPTRA Kalijodo juga kekurangan petugas. Saat ini baru enam petugas dengan sistem jaga antarwaktu. Jumlah itu tidak seimbang dengan pengunjung yang membeludak saat hari-hari libur.

"Kita banyak juga sih kegiatan, selain ada pertemuan rutin juga. Apalagi harus mengawasi sejumlah kegiatan anak-anak yang beda setiap hari. Kami juga diharuskan mengubah mental para pengunjung, yang dari kurang baik menjadi baik. Seperti mengajarkan disiplin, anak-anak kadang-kadang kan suka berebutan main, nah kita ajak mereka untuk antre. Nah, jika sudah sering ke sini, mereka pasti patuh," sebutnya.

Salah seorang pengunjung, Hamzirwan Hamid, mengatakan, dari sekian banyak RPTRA, kawasan Kalijodo memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Selain bekas permukiman prostitusi, lahan di Kalijodo luas. Bahkan, ia menghabiskan waktu lama menemani anaknya bermain di sana.

"Saya bawa keluarga ke PRTRA Kalijodo. Tempatnya keren. Ada juga trek sepatu roda, skateboard, dan sepeda, pokoknya fasilitasnya keren. jadi betah berlama-lama di sana," katanya.

Dari pantauan Media Indonesia, sejumlah fasilitas di RPTRA dan RTH Kalijodo kurang terjaga dan terawat. Wastafel banyak yang rusak dan tidak terawat sehingga air tidak mengalir. (FD/X-7)

Komentar