Inspirasi

Qoyimah - Kiat Berbagi Waktu

Kamis, 26 October 2017 08:57 WIB Penulis: FU/M-2

Aktivitas Qoyimah (kiri) di Posyandu Balita Nanas 1, di posyandu Balita ini Qoyimah menjadi sekretaris. -- MI/Furqon Ulya Himawan

MESKI kesibukannya sekarang bertambah, Qoyimah tetap bekerja sebagai tukang rongsokan. Baginya, itu pekerjaan yang telah membantunya dalam menghidupi keluarganya, memberikan penghasilan sehingga anak-anaknya bisa lulus sekolah sampai jenjang SMK.

“Masih jadi tukang rongsok, tapi saya harus berbagi waktu,” kata dia.

Setiap senin, Qoyimah menjalani sebagai kader posyandu: menyiap­kan pelengkapan dan memasak untuk keperluan konsumsi posyandu di rumahnya bersama ibu-ibu lainnya.

Pada Selasa, Rabu, dan Kamis, Qoyimah libur mencari rongsok. Dia ikut akademia atau sekolah yang diselenggarakan Pekka. Pada Minggu, Qoyimah mengikuti acara muslimat, PKK, dan kegiatan Pekka di ke­lompoknya.

“Mencari rongsoknya yang pasti pada Jumat dan Sabtu,” ujarnya, sudah tidak setiap hari seperti dulu karena anak-anaknya sudah berkeluarga dan mencari nafkah sendiri-sendiri.

Baginya, menjadi tukang rongsokan itu lebih mulia jika dibandingkan dengan pekerja kantoran yang suka korupsi dan tidak jujur.

“Kalau dapat uang syukur. Kalau enggak dapat, enggak rugi. Cuma capek saja dan itu sudah terbiasa,” jelasnya.

Ketika mencari rongsok, Qoyimah mengaku sangat senang saat bisa membeli kertas koran dan kertas karton. Baginya itu rejeki yang berlimpah dan pertanda pulang tidak dengan tangan kosong.

“Sungguh saya sangat bersyukur menjadi tukang rongsok dan bisa berguna membantu yang membutuhkan.” (FU/M-2)

Komentar