Eksplorasi

Kontroversi Penggunaan Ganja untuk Medis

Sabtu, 4 November 2017 03:31 WIB Penulis: ***

Dok. Google

ANGGOTA parlemen Peru akhirnya sepakat untuk mengesahkan penggunaan ganja untuk keperluan medis pada Kamis (19/10) malam.

Kesepakatan tersebut akan diteruskan dalam bentuk undang-undang yang akan disahkan dalam waktu 60 hari ke depan.

Dengan pengesahan peraturan tersebut, nantinya ganja legal untuk diproduksi secara lokal, diimpor, dan dijual untuk keperluan medis.

Kesepakatan tersebut berawal dari terungkapnya laboratorium ganja skala rumahan pada Februari lalu.

Pada penggerebekan itu polisi menahan sekelompok ibu yang menyuling minyak ganja untuk anak-anak yang menderita kanker dan epilepsi berat.

Fakta pilu itu mendorong Presiden Pedro Pablo Kuczynski mengajukan proposal pengesahan ganja untuk keperluan medis.

Laboratorium yang digerebek polisi tersebut merupakan milik Ana Alvarez, 43, yang juga berjuang merawat anak perempuannya.

Sang gadis yang berusia 17 tahun itu menderita epilepsi parah yang cukup langka yang dikenal sebagai sindrom lennox-gastaut atau nama lainnya sklerosis tuberosa yang berakibat tumbuhnya tumor di otak dan organ tubuh lain.

"Kami sangat senang dengan fakta bahwa hukum di Peru telah menyetujui ini (penggunaan minyak ganja)," ujar Alvarez.

"Namun kami tidak sepenuhnya puas," tambahnya.

Ganja secara umum termasuk dalam kategori narkotika.

Secara harfiah, narkotika berarti zat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintesis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Kemampuannya untuk menghilangkan rasa nyeri tersebut dianggap sebagai hal yang bisa untuk diolah menjadi obat bagi berbagai macam penyakit.

Namun, jenisnya yang termasuk kategori narkotika yang dianggap ilegal di berbagai negara di dunia menjadi perdebatan tersendiri dalam dunia medis.

Bukan yang pertama

Legalisasi penggunaan ganja oleh Peru bukanlah yang pertama di dunia.

Negara-negara tetangga Peru seperti Kolombia, Cile, serta Puerto Riko sudah terlebih dahulu memperbolehkan penggunaan tanaman yang diidentikkan dengan komunitas musik reggae tersebut.

Bahkan Uruguay menjadi yang pertama di dunia yang melegalkan produksi hingga penjualan ganja pada 2013.

Beberapa negara lain juga telah melegalkan penggunaan ganja seperti Belanda dan Spanyol di Eropa serta beberapa negara bagian di Amerika Serikat.

Secara umum legalisasi ganja di beberapa negara tersebut terbagi atas dua macam.

Pertama, negara yang melegalkan ganja hanya untuk keperluan medis.

Kedua, negara yang melegalkan ganja untuk keperluan medis dan pribadi.

Namun, rata-rata kepemilikan atas tanaman tersebut dibatasi dalam ukuran tertentu.

Ilegal

Jika diselisik mengenai ganja untuk medis di Indonesia, perhatian tentu tertuju pada kasus Fidelis Arie Sudawarto yang divonis penjara delapan bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sanggau pada Agustus lalu.

Fidelis dinyatakan bersalah karena membudidayakan ganja.

Padahal, hal itu dilakukannya pengobatan sang istri yang mengidap penyakit syringomyelia, sejenis penyakit pada sumsum tulang belakang.

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menilai tindakan Fidelis tidak dibenarkan atas aturan yang dimiliki negara karena hingga saat ini belum ada penelitian valid yang membuktikan manfaat ganja terkait dengan medis.

"Di dunia pun tidak membuktikan kalau itu ada manfaat," kata Nila di Jakarta, beberapa waktu lalu.

"Kalau misalnya itu dibenarkan, ya, artinya kita membebaskan semua orang memakai ganja, jadi enggak bisa dong," tambahnya.

Hingga saat ini, ganja di Indonesia memang dikategorikan sebagai narkotika dan penggunannya dianggap ilegal.

Kementerian Kesehatan sebagai pihak yang berwenang pun berpendapat perlu adanya kajian mendalam untuk membuktikan manfaat dari tanaman tersebut.

(AFP/The Guardian/BBC/L-1/M-3)

Komentar