Hiburan

Sajian Nada Berlatar Laut

Ahad, 5 November 2017 00:01 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

MI/ABDILLAH MARZUQI

PANGGUNG itu berdiri megah. Sengaja bagian belakangnya tidak ditutup dengan layar ataupun penutup yang biasa ditemukan pada panggung pertunjukan musik. Pandangan dari arah depan dibiarkan bisa langsung tembus ke belakang panggung yang berlatar laut dan pulau.

Selain latar laut dan pulau, masih ada hiasan alami lain, yakni dua pohon yang berada di samping kanan panggung. Pohon cukup besar itu sengaja tak ditebang. Pohon itu justru semakin menambah elegan suasana panggung, apalagi ketika gelap tiba. Setiap pohon berkilau akibat efek lampu sorot di bawah.

Itulah suasana panggung dari Suryanation Maumere Jazz Fiesta Flores 2017 pada 28 Oktober 2017. Seperti layaknya konser musik yang mengambil tempat di dataran terbuka. Ajang pertunjukan jazz itu semula sebagai arena balap motorcross bernama Gastrack Sirkuit Wairita. Sirkuit itu terletak di sebelah timur Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, sirkuit itu tidak lagi mendapati bentuk untuk balapan, sebab alat berat telah menyulapnya menjadi tempat konser.

Tak hanya suguhan alami yang disajikan dalam helatan musik itu. Jajaran pengisi acara pun tidak kalah menarik. Musikus kondang Tanah Air diboyong untuk membuat Maumere larut dalam alunan nada dan suara. Sebut saja Krakatau Reunion yang digawangi Dwiki Dharmawan, Indra Lesmana, Pra Budi Dharma, Donny Suhendra, Trie Utami, dan Gilang Ramadhan.

Selain itu, hadir pula biduanita Ruth Sahanaya, Monita Tahalea, kelompok accapela Jamaica Caf, dan grup reggae asal Bali yang berkolaborasi dengan vokalis asal Ghana, Soul Rebel feat Afro Moses. Melengkapi line-up itu ada Yopie Latul dan hadirnya grup Maumere yang menyuguhkan musik tradisi Sikka. Tawa Tana tampil bersama gitaris/vokalis Ivan Nestorman yang juga berasal dari Flores.

Panggung dibuka dengan penampilan Jamaica Cafe. Setelah itu, tampillah Ivan Nestorman dan Sikka Traditional Music Tawa Tana yang menghibur para penonton. Suasana makin meriah ketika Monita Tahalea naik ke panggung. Sembilan lagu dibawakan dengan cantik oleh Monita, bahkan Monita sempat berduet dengan salah satu pengunjung.

"Sembilan lagu beberapa memang saya sesuaikan dengan tempatnya seperti lagu Sio Mama, Gemu Famire, dan Rame-Rame," terang Monita. Meski sukses membawakan sembilan lagu, Monita awalnya sempat merasa khawatir salah sebut saat membawakan lagu daerah. Monita mengaku terkesan dengan kepiawaian masyarakat Maumere dalam menyanyi. Ia bahkan sempat meminta salah satu penonton untuk naik panggung.

"Juga ada yang namanya Kania langsung pecah suara. Makanya saya salut. Mereka mungkin enggak belajar musik tapi punya talenta yang gede-gede banget. Kalau saja mereka punya wadah dan ada orang yang merhatikan mereka lebih," ujarnya memuji.

Talenta bernyanyi

Seusai Monita, Ruth Sahanaya tampil menghibur. Ternyata Ruth juga merasakan hal yang sama dengan Monita. Ruth mengungkapkan ia terkesan dengan kepandaian masyarakat Maumere dalam bidang olah suara. Menurutnya, ia tak ragu lagi dengan kemampuan bernyanyi orang Maumere.

"Mereka enggak fals. Semuanya bagus dan mereka datang mereka sudah siap mendengarkan siapa yang bernyanyi," ujar Ruth.

"Bagi seorang penyanyi itu merasa sangat dihargai menjadi adrenalin yang luar biasa karena ketika kita menyanyi mendapat respons dan sambutan yang luar biasa dari mereka. Mereka ikut bernyanyi itu menjadi satu roh yang sangat berharga," sambungnya.

Seusai Ruth membawakan 8 lagu, giliran Krakatau Reunion yang mengguncang panggung. Dengan beranggotakan musisi papan atas, Krakatau Reunion mampu mengguncang dan memaksa penonton untuk tak melepaskan perhatian dari panggung.

"Hari ini saya pakai kain Sikka. Kata orang, ini (Maumere) adalah surga yang jatuh ke bumi," teriak vokalis Krakatau Reunion Trie Utami dari atas panggung.

Terang saja, ujaran Trie Utami disambut meriah oleh para penonton. Krakatau Reunion sukses menghibur para penonton. Apalagi setiap personel sempat unjuk kebolehan dengan alat musik masing-masing. Sebelum turun panggung, Krakatau Reunion sempat pula berpesan pada penonton. Bahkan pesan itu diulang beberapa kali untuk menegaskan pentingnya isi sampaian itu.

"Lihat ke depan, ambil sampah. Jangan buang sampah sembarangan," Trie Utami menyeru dalam berbalut nada.

Memang helatan malam itu ingin menyampaikan pesan tentang lingkungan, selain tujuan untuk lebih mengenalkan Maumere kepada para wisatawan. Dua pesan yang tidak bisa dipisahkan, yakni untuk berwisata ke Maumere dan menjaga lingkungan Maumere. Sebab sampah bisa merusak segalanya, tak peduli bagaimana pun indahnya alam Maumere.

Malam terus berlanjut dengan Yopie Latul dan Soul Rebel with Afro Moses. Sesudah mereka pentas, penonton pulang penuh kegembiraan dan kepuasan. Itu terlihat dari mereka yang berjalan pulang tapi masih pula sempat bergoyang ringan. (X-7)

Komentar