Jeda

Air Ledeng Siap Teguk dan Siap Pantau

Ahad, 5 November 2017 07:54 WIB Penulis: Bagus Suryo

Warga meminum dari anjungan keran air minum di Kota Malang, Jawa Timur. Sebelum minum warga bisa memantau kualitas kelayakan air melalui situs htp://www.pdamkotamalang,com. -- MI/Bagus Suryo

SEPERTI sudah terbiasa, begitu menepikan kendaraan, pengemudi motor itu langsung menuju anjungan keran air minum yang berada di trotoar di jalan Ijen, Kota Malang, Jawa Timur. Tanpa ragu ia mereguk air.

Pemandangan serupa juga ditemui di beberapa sekolah di Kota Apel tersebut. Ketika haus, murid-murid akan menuju keran air minum. Bahkan di samping keran telah tersedia alat yang menginformasikan kualitas air di keran tersebut. Jika berwarna biru, air aman diminum. Sementara itu, jika merah, itu harus dimasak terlebih dulu.

Alat pemantau kualitas air keran ini memang baru tersedia di anjungan-anjungan keran yang berada di sekolah. Untuk anjungan lainnya dari total 150 anjungan keran air minum di kota itu, indikator dapat diakses melalui situs http://www.pdamkotamalang.com/.

Penyediaan anjungan keran berikut indikatornya merupakan salah satu wujud program Zona Air Minum Prima yang dimulai di kota itu sejak 2004.

Meski menggunakan klor untuk membersihkan air, dijelaskan Humas PDAM Kota Malang Machfiyah, penggunaannya dalam batas aman. Sisa klor pada air ZAMP dijaga 0,2-0,5 ppm.

Tidak hanya di anjungan keran, air ledeng yang disalurkan ke rumah warga juga diklaim siap minum. Saat ini cakupan layanan PDAM Kota Malang mencapai 80% penduduk atau mencapai 150 ribu sambungan rumah.

Sumber air baku yang digunakan kota ini berasal dari mata air Wendit yang berada di Kabupaten Malang. Meski sumber air baku berada di wilayah tetangga, PDAM Kota Malang mengaku tetap mengamankan kualitas aliran sumber air baku.

"Kami juga aktif kerja sama menanam pohon tanaman keras sebagai resapan air. Kegiatan ini akan dilakukan bersama dengan Pemerintah Kabupaten Malang dan Pemerintah Kota Batu," imbuh Machfiyah.

Machfiyah menjelaskan permasalahan kebocoran air juga dialami PDAM Kota Malang. Untuk menekan kebocoran air, manajemen PDAM pemasangan 42 alat pengurang tekanan air pressure reducing valve. Hasilnya, kebocoran bisa ditekan sekaligus mengurangi pemakaian daya listrik hingga 33%.

Pencapaian kinerja akhirnya mengantarkan program ZAMP banyak menuai prestasi. Persatuan Perusahaan Air Minum Indonesia (Perpamsi) Award 2015 pun diraih, terbaik dalam Pelayanan Terbaik Air Minum dan Sanitasi, dan sebagai Pusat Pembelajaran PDAM Kategori Kota di atas 100 Ribu Pelanggan PDAM Wilayah II Jawa.

Produksi tiga kali lipat
PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor yang meraih hasil survei sebagai PDAM terbaik se-Indonesia dengan raihan skor 59,97 dari lembaga survei Water Supply and Sanitation Index (WSSI) mengaku menggunakan teknologi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Nusantara.

Teknologi temuan dari pakar air Institut Teknologi Bandung (ITB) Mohajit bersama tiga rekannya, Bagus Budwatoro, Haryo U Kustianto, dan A Hasan Bachri, ini bekerja dengan menambah kapasitas produksi air bersih. Dengan luas area yang sama, teknologi yang digunakan sejak 2004 tersebut bisa memproduksi air bersih dua hingga tiga kali lipat.

Teknologi yang kerap disebut juga sebagai uprating ini, dijelaskan Direktur Teknik PDAM Tirta Pakuan Syaban Maulana, digunakan di beberapa IPA, khususnya IPA Dekeng yang merupakan IPA utama.

"Kalau optimalisasi kita kaji mana saja yang bisa dioptimalkan. Kalau uprating ada sesuatu yang bisa dimodifikasi, tapi tidak mengubah fasilitas yang ada. Contoh pintu air kekecilan digedein, ada alat pelat meter ternyata masih mampu kita dempetkan. Filter yang asalnya enam kita tambah dua," paparnya.

Pada 2004, uprating dilakukan dengan hanya mengeluarkan biaya Rp5 miliar dengan estimasi biaya Rp100 juta per liter air. Biaya ini dinilai lebih murah ketimbang pembangunan IPA baru yang mencapai Rp20 miliar hingga Rp30 miliar.

Secara keseluruhan, lanjutnya, saat ini kapasitas terpasang PDAM Tirta Pakuan sekitar 2.180 liter per detik dengan kapasitas produksi air bersih 2.047. Produksi itu bisa memenuhi kebutuhan 154.900 pelanggan mereka.

Sumber air PDAM Tirta Pakuan yakni mata air di Kota Batu-Ciomas yang dibangun pada 1918, mata air Bantar Kambing pada 1969, mata air Tangkil pada 1974, dan mata air Pala Sari pada 2009.

Kajian untuk Buaran dan Pulo Gadung
Salah satu penemu teknologi IPA Nusantara, Mohajit, mengungkapkan telah melakukan kajian untuk penerapan teknologi tersebut di IPA Buaran dan Pulo Gadung, Jakarta.

"Kami telah melakukan kajian dan diskusi dengan PT Aetra terkait dengan implementasi di water treatment plant di Buaran dan Pulo Gadung. Akan tetapi, untuk merealisasikannya butuh banyak tahapan," ucapnya. Ia juga menyebutkan kondisi kualitas sumber air baku yang ada di Jakarta juga memerlukan tambahan perlakuan tersendiri.

Namun, ia juga menekankan mengatasi permasalahan air bersih di Jakarta tidak hanya dilakukan melalui pendekatan teknologi, tetapi juga pendekatan finansial dan sosial.

"Teknologi malah sudah banyak pilihan baik konvesional maupun tradisional, ada untuk mengatasi kualitas air. Namun, untuk memilihnya itu mesti ada biaya, kesungguhan, pengetahuan, dan kepedulian bersama terhadap lingkungan," pungkasnya.

Dengan kualitas air yang buruk di 13 sungai di Jakarta, hanya 3% kebutuhan sumber air baku bisa diambil dari sungai, yakni Sungai Krukut. Sisanya, Jakarta bergantung pada air Waduk Jatiluhur dan pembelian air curah dari Kabupaten Tangerang. Jarak dari sumber air baku itu pula yang membuat tekanan air PDAM di Jakarta kerap kecil. (DD/FD/M-3)

Komentar