Jeda

Jakarta Menuju Pelayanan Langsung

Ahad, 5 November 2017 07:54 WIB Penulis: FD/M-3

Salah satu instalasi pengolahan air di Kota Bogor yang menggunakan teknologi IPA Nusantara. Teknologi itu mampu meningkatkan produksi air. -- MI/Dede Susianti

SETELAH putusan Mahkamah Agung (MA) soal penghentian kebijakan penswastaan air bersih di Jakarta pada Oktober lalu, sistem penyediaan air bersih di Ibu Kota pun menjadi tanda tanya. Banyak warga berharap PAM Jaya dapat meningkatkan mutu air bersih bagi warga kota.

Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat menjelaskan restrukturisasi peran penyedia air bersih memang tengah dilakukan, terlepas dari adanya putusan MA. "Tanpa adanya putusan MA sekalipun, PAM Jaya dan kedua perusahaan sudah sepakat untuk merestrukturisasi peran masing-masing. MoU sudah ditandatangani pada 25 September lalu dan dokumen restrukturisasi rampung 6 bulan setelah penandatanganan. Rencananya, dengan restrukturisasi, sebagian besar pengelolaan air dari hulu hingga hilir akan menjadi kewenangan PAM Jaya," tuturnya, Rabu (1/11), mengenai langkah yang diterapkan terhadap dua operator penyedia air bersih mitra mereka, PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Mengenai kontrak swasta yang sedang berlangsung, Erlan menjelaskan akan diteruskan hingga habis masa konsesi pada 2023.

Sementara itu, sejumlah kesepakatan dalam restrukturisasi ialah PAM Jaya yang akan mulai melayani publik secara langsung dan bertanggung jawab dalam penyediaan air baku.

"Harga air sekarang Rp6.600 per meter kubik. Kalau kerjaan mitra kita ambil sebagian, harga airnya bisa lebih murah karena biaya operasional mereka lebih murah. Kita punya fleksibilitas karena memiliki kebijakan pengaturan ke mana air mau dikirim," tambahnya.

Kebutuhan air baku untuk penduduk Jakarta yang mencapai 10 juta jiwa memerlukan pasokan 26 ribu liter/detik. Namun, saat ini yang baru tersedia 18 ribu liter/detik. Jadi, masih terjadi kekurangan pasokan sekitar 9.000 liter/detik.

Untuk menambah pasokan air itu, PAM Jaya berharap dapat memanfaatkan air sungai Jakarta, yang walaupun disebutkan banyak pihak sudah sangat tercemar.

Erlan mengaku pihaknya kesulitan memanfaatkan sumber air baku dari sejumlah sungai di Jakarta sebab terkendala proses perizinan. PAM Jaya telah mengajukan proses perizinan, tapi sejauh ini tidak ada respons yang diberikan pemerintah pusat. Air sungai yang rencananya akan diolah ialah Kali Pesanggrahan, Kali Ciliwung, guna penambahan air baku dari Jatiluhur untuk Buaran 3 melalui saluran Tarum Barat.

Tidak hanya masih kewalahan memenuhi pasokan air, Erlan mengaku penyediaan air di Jakarta juga terkendala masalah jaringan pipa.

Pendangkalan saluran, kebocoran, dan kerusakan infrastruktur jaringan pipa membuat non revenue water atau kebocoran air Jakarta mencapai 40%.

Perbaikan pipa yang bocor juga tidak mudah karena jaringan perpipaan di Ibu Kota sudah begitu banyak dan banyak pula yang tertindih jaringan proyek lainnya, bahkan sudah berada di bawah jalan utama.

Erlan menegaskan, mereka tidak menghindari proses perbaikan NRW, tetapi pembangunan jaringan baru lebih efisien dan menguntungkan masyarakat yang belum menerima akses air bersih.

Meski demikian, setelah permasalahan air baku itu selesai, pihaknya akan fokus dalam penambahan jaringan pipa. Saat ini produksi air minum PAM Jaya mencapai 530 juta meter per kubik, dengan air yang terserap ke pelanggan hanya sekitar 330 juta meter per kubik dan selebihnya terbuang karena kebocoran. (FD/M-3)

Komentar