Inspirasi

Kebersamaan dalam Keragaman

Kamis, 9 November 2017 12:00 WIB Penulis:

PEREMPUAN ialah energi buat sekitarnya dan ketika ia berkelompok dan diberdayakan, bukan cuma pada keluarga mereka berkontribusi, melainkan juga sekitar.

Karena itu, ketika tsunami melanda Aceh dan Nias, Sumatra Utara, pada 2004, perempuan jadi salah satu sasaran utama pemberdayaan warga pascabencana.

"Kami terinspirasi sistem Grameen Bank yang dirintis pemenang (Hadiah) Nobel Muhammad Yunus di Bangladesh. Berkaca pada kondisi Aceh yang tak kondusif karena sebagian warga ketergantungan pada bantuan, kami memilih kredit yang diberikan pada komunitas perempuan sebagai sarana memberdayakan. Setelah sukses, paparannya kami perluas terus," ujar Pemimpin Divisi Ritel Bank Sumut Hadi Sucipto kepada Media Indonesia, kemarin.

Setelah dirilis resmi pada 2008 dengan total kredit Permaisuri yang menyasar komunitas UKM perempuan, saat ini nilai kucurannya Rp891 miliar dan outstanding sebesar Rp31 miliar.

Kredit itu pun dinilai menguntungkan.

"Bagi para ibu, tantangan utamanya adalah memisahkan uang hasil usaha dengan dana rumah tangga. Oleh karena itu, pembinaan terkait bisnis kami berikan, juga pelatihan lainnya, berkolaborasi dengan banyak pihak, di antaranya Universitas Harapan Medan yang sama-sama ingin memberdayakan para ibu," ujar Hadi yang kini telah mengucurkan Permaisuri senilai Rp1 juta hingga Rp10 juta kepada 117 ribu debitur dengan jumlah yang aktif 30 ribu.

Para debitur itu setiap pekannya menyetor kepada 194 tenaga lapangan yang merangkap pendamping.

Jadi akur

Setelah meraih berbagai apresiasi, salah satunya sempat dipilih Bank Dunia dalam studi Program Woman Entrepreneurship, Hadi menegaskan Permaisuri sukses menyeleksi perempuan-perempuan pengusaha UKM tangguh secara organik sekaligus menyatukan mereka dengan latar belakang etnis dan agama.

"Ada banyak kisah yang menyentuh. Salah satunya warga yang tadinya tidak akur jadi kompak karena Permaisuri. Kredit ini mengajarkan soal kebersamaan, saling menjaga, karena jika satu gagal mencicil, yang lainnya kena risiko. Karena tanpa agunan, komitmen mereka yang kami pegang." (Zat/M-2)

Komentar