Opini

Menghargai Pahlawan Memperkuat Imunitas Bangsa

Jum'at, 10 November 2017 00:03 WIB Penulis: Jenderal TNI Mulyono Kepala Staf Angkatan Darat

PA

NOVEMBER ini, kita kembali memperingati Hari Pahlawan untuk me­ngenang pertempuran Surabaya, sebuah pertempuran terbesar melawan kolonialisme di awal kemerdekaan Indonesia. Walaupun didasari pertempuran Surabaya, pada hakikatnya peringatan Hari Pahlawan bertujuan mengenang kembali heroisme perjuangan bangsa Indonesia dari setiap jengkal wilayah, untuk merebut, mempertahankan, dan menjaga tegak kukuhnya kedaulat­an NKRI.

Saat ini, bangsa kita memang tidak lagi berada dalam kolonialisasi bangsa lain secara fisik. Namun, tidak juga bisa dimungkiri realitas ancaman kolonialisasi nonfisik yang dilakukan kepenting­an-kepentingan besar. Berbagai benturan kepentingan yang sulit diidentifikasi wujudnya justru menyimpan potensi ancaman yang tidak kalah bahayanya jika dibandingkan dengan kolonialisasi fisik pada abad-abad yang lalu.

Bangunan NKRI yang telah didirikan di atas tetesan darah dan ke­ringat serta kesatupaduan jiwa dan raga para pejuang terancam hancur oleh radikalisme, anarkisme, intoleransi, penyalahgunaan narkoba, terorisme, dan lain-lain yang masih terus marak berkembang di negeri ini.

Tepat rasanya, dalam rangka mengenang perjuangan para pahlawan kusuma bangsa tersebut melalui peringatan Hari Pahlawan ini, diangkat tema Perkukuh persatuan membangun negeri. Nilai itulah yang dulu pernah menjadi kekuatan dahsyat yang mampu memerdekakan Indonesia. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun sejak para pemuda menyatakan tekadnya untuk menjadi satu, yaitu satu nusa satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia berhasil menjadi bangsa dan negara yang merdeka setelah selama ratusan tahun perlawanan sektoral yang dilakukan di berbagai belahan Nusantara tidak membuahkan hasil.

Diakui atau tidak, saat ini kita merasakan semakin melemahnya karakter generasi muda, yang seolah kehilangan identitasnya sebagai bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur menghargai perbedaan, sadar akan pentingnya persatuan dan kesatuan, rela berkorban, pantang menyerah, serta menjunjung tinggi kebersamaan dan gotong royong, yang pernah mengantarkan kerajaan-kerajaan Nusantara mencapai kejayaan, serta menjadi penyemangat perjuangan merebut kemerdekaan seolah-olah menghi­lang ditelan gelombang modernisasi dan globalisasi.

Melalui momentum Hari Pahlawan 2017 ini, rasanya penting bagi bangsa Indonesia, khususnya generasi muda, untuk menggali dan membangun kembali nilai-nilai yang pada hakikatnya telah inheren dalam diri bangsa Indonesia tersebut. Dalam catatan sejarah, sikap menghargai perbedaan telah berkembang dalam masyarakat Majapahit pada abad ke-14 dan mampu mengantarkannya mencapai zaman keemasan, sebagaimana terabadikan dalam Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Sejarah juga membuktikan bahwa semangat rela berkorban jiwa dan raga yang dimiliki para pejuang telah mampu mengantarkan Indonesia menjadi negara dan bangsa yang merdeka. Demikian pula semangat pantang menyerah yang ditunjukkan para tokoh dan pejuang selama masa perjuangan. Para pemuda tidak hanya berjuang secara fisik mengangkat senjata seperti Bung Tomo, tetapi juga melalui forum diplomasi seperti yang dilakukan Soekarno, Hatta, dan lain-lain, yang terus berjuang walaupun harus menjalani pena­hanan dan pengasingan di beberapa kota bahkan pulau yang sangat terpencil untuk membatasi aktivitas politik mereka.

Di atas itu semua, kemerdekaan Indonesia ialah hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang senantiasa menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong. Semua komponen bangsa berjuang bahu-membahu mengangkat senjata maupun di meja diplomasi. Sebagian lainnya berkiprah menyiapkan logistik, mendirikan dapur umum dan rumah sakit lapangan. Tidak ada satu pun yang ingin berpangku tangan karena semua ingin menjadi bagian dari perjuangan tersebut.

Nilai-nilai itulah yang telah mampu menjadi imunitas bangsa atau sistem kekebalan yang menjaga tubuh bangsa Indonesia dari berbagai ancaman serangan virus penyakit yang mengancam kedau­latan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Imunitas bangsa yang bermanifestasi dalam nilai-nilai yang terangkum dalam Pancasila tersebut telah terbukti mampu menjadi sumber kekuatan bangsa dalam menangkal setiap ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar negeri. Kita harus segera menyadari bahwa saat ini bangsa Indonesia masih dikategorikan berstatus warning, atau sejajar dengan Tiongkok, Botswana, Brasil, dan Meksiko dalam daftar Fragile States Index 2017. Hal itu ialah peringatan bahwa Indonesia masih rentan terhadap ancaman perpecahan sebagaimana yang pernah dialami kerajaan-kerajaan besar Nusantara zaman dahulu.

Oleh karena itu, imunitas bangsa perlu digali dan dibangun kembali melalui konsep tata kelola yang sistematis. Dengan istilah lain, diperlukan sebuah konsep immunation by design agar senantiasa terjaga dengan baik. Salah satu upaya yang dapat kita lakukan ialah dengan terus menyegarkan ingatan generasi penerus bangsa tentang sejarah perjuangan yang telah dilakukan para pendahulunya.

Peringatan Hari Pahlawan hendaknya mampu menjadi momentum untuk membangun kembali seluruh aspek penguatan imunitas bangsa yang dibutuhkan bangsa Indonesia di tengah kondisi bangsa dan negara yang senantiasa diterpa ancaman baik dari dalam maupun dari luar negeri yang sangat kompleks dan dinamis.

Peringatan Hari Pahlawan tidak hanya mengenang pengorbanan para pahlawan, tetapi juga me­nguatkan kembali keyakinan akan pentingnya persatuan dan kesatuan, semangat pantang menyerah, serta kebersamaan dan gotong royong. Sebagaimana tema yang telah ditetapkan, peringatan Hari Pahlawan kali ini harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan kita yang dibangun di atas keberagaman suku, agama, ras dan antargolongan yang diikat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia, semua warga negara Indonesia berdiri sejajar karena tidak ada yang lebih penting, lebih hebat, maupun yang lebih tinggi statusnya jika dibandingkan dengan yang lain.

Komentar