Opini

Fenomena Esoterisme Beragama

Jum'at, 10 November 2017 00:16 WIB Penulis: Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Thinkstock

FENOMENA beragama di dalam masyarakat selama dasawarsa terakhir diwarnai suasana esoterisme. Esoterisme beragama bisa diartikan sebagai praktik keagamaan yang tidak hanya menampilkan aspek-aspek legalitas formalistik, seperti menekankan rukun, syarat, dan sunnat-sunat ibadah, tetapi juga sudah mulai memasuki wilayah spiritual-sufistik. Fenomena ini terutama terlihat di dalam masyarakat perkotaan. Lembaga atau kajian tasawuf semakin tumbuh menjamur di mana-mana. Bahkan kehidupan tarekat yang tadinya merupakan fenomena orang-orang yang berusia senja, tetapi kini sudah merambah ke generasi muda. Musik dan tarian sufi semakin banyak digemari. Lirik lagu-lagu populer pun ikut dipengaruhi nuansa keagamaan esoterik.

Selama ini wajah keagamaan di dalam masyarakat kita bisa dipolakan ke dalam dua bentuk, yaitu wajah eksoteris sebagaimana tampak di dalam komunitas masyarakat yang selalu mendasarkan perhatiannya kepada hal-hal esoterik atau fikih (fiqh oriented). Pemahaman teks biasanya langsung diarahkan pada aspek perilaku manusia yang berhubungan dengan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan manusia. Pendekatan ini banyak dilakukan jumhur ulama, sebagaimana dapat dilihat pada sejumlah kitab tafsir populer (mu'tabarah), seperti Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Maragi, Tafsir Jalalain, Tafsir Fi Dhilalal-Qur’an, dll.

Wajah lainnya ialah esoteris yang kini sedang fenomenal. Esoterisme keagamaan lebih menekankan analisis hakekat dan makna batin di balik teks dan tradisi. Analisis teks dilakukan hanya sekadar untuk memahami konten sebuah teks, karena itu kelompok ini sering kali melakukan pemaknaan secara metaforis sejumlah teks. Contoh karya esoteris ialah kitab-kitab tafsir tasawuf (isyari), seperti Tafsir Mafatih al-Gaib, Tafsir Al-Shafi, Tafsir Ibn ‘Arabi, dll. Pendekatan esoteris lebih menekankan pemaknaan konotatif terhadap teks.

Pendekatan eksoteris lebih sering dilakukan ulama Sunni, sedangkan pendekatan esoteris lebih sering dilakukan oleh ulama Syiah. Meskipun sama-sama berpegang teguh pada sebuah kitab suci yang sama, kedua kelompok ini (eksoteris dan esoteris) sering kali berbeda pendapat, bahkan berkonflik satu sama lain. Kita perlu lebih hati-hati menyikapi perbedaan kedua kelompok ini sebab dalam beberapa segi sulit dipersatukan. Tafsir-tafsir Sunni sangat logis dan sulit untuk dibantah, namun jika kita mendalami penjelasan sejumlah pendapat kaum Syiah dengan metode esoterisnya, rasanya juga bisa difahami. Seandainya kedua kelompok ini berikut metodologinya dapat digabungkan atau dikompromikan, sudah pasti memberikan perspektif yang lebih positif, karena itu artinya memberikan kepuasan logika dan penghayatan keagamaan lebih mendalam.

Fenomena esoterisme kehidupan beragama mulai tumbuh dari kalangan birokrat, pebisnis, dan para jamaah tarekat. Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya merupakan fenomena di Indonesia, tetapi menjadi fenomena universal, termasuk orang-orang mualaf yang baru masuk Islam. Buku-buku yang bernuansa tasawuf kini sedang banyak digemari pembaca. Buku-buku yang mendominasi buku-buku terlaris, umumnya buku-buku yang lebih mencerahkan, seperti buku-buku tasawuf. Pengajian-pengajian eksekutif di kantor-kantor elite didominasi tema-tema pencerahan (enlightening). Adalah suatu kemajuan jika umat Islam sudah mulai membaca dan mengikuti pendidikan formal. Itu artinya umat tidak lagi terpesona ke dalam dunia kesemarakan (scope), tetapi sudah memasuki hakikat dan pendalaman makna (force).

Agaknya kurang bijaksana jika kita menilai fenomena esoteris melalui kacamata eksoteris, demikian pula sebaliknya, kurang bijaksana menilai karya eksoteris dengan kacamata esoteris. Bisa dipastikan penilaian tersebut penuh dengan bias yang tidak produktif.
Dengan demikian, kita juga sebaiknya hati-hati menghakimi sebuah pemikiran hanya lantaran perbedaan cara pandang dan metodologis. Dalam konteks masyarakat yang plural seperti Indonesia, yang ideal ialah kombinasi antara kedua pendekatan tersebut. Pola eksoteris selama ini lebih banyak diintrodusir kelompok Salafi dan atau Wahabi, sedangkan pola esoteris lebih banyak diintrodusir oleh kelompok syiah dan kelompok sufi-tarekat. Indonesia sesungguhnya sejak awal sudah menyintesakan antara keduanya. Bahkan yang ikut masuk dalam sintesa itu ialah nilai-nilai kosmologi lokal, seperti filosofi Jawa, Melayu, Bugis, dll.

Komentar