Features

Keiklasan Sri Mendampingi Suami di Tanah Suci

Jum'at, 10 November 2017 19:55 WIB Penulis:

Ist

SRI Maryati, 60, tergopoh-gopoh menuju sumber suara yang memanggilnya melalui pengeras suara di ruang serba guna 2 (SG2) Asrama Haji Pondok Gede.

Perempuan itu baru saja datang dari Tanah Suci Makkah setelah menunaikan ibadah haji, Jumat (8/9). Sri bersama 390 jamaah yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) JKG 03, segera turun dari bus Damri.

Melihat Sri mendekat, ketua rombongan Kloter JKG 03 langsung berseru, “Bu Sri, bapak sudah di sana ya,” ujarnya sambil menunjuk sudut lain ruangan SG2.

Di sudut yang ditunjuk tersebut tampak Sunarko, 58, sang suami yang duduk di atas kursi rodanya sambil menangis setengah meraung. Ia didampingi beberapa petugas yang berusaha mencari tahu penyebab tangisannya. Melihat suaminya, Sri tergopoh setengah berlari menghampirinya.

Pelukan hangat langsung diberikan pada suaminya. Tangis Sunarko makin pecah saat melihat istrinya. “Sudah...sudah enggak apa-apa, yang penting kita sudah sampai sini,” ujar Sri menenangkan sambil mengusap air mata sang suami dengan penuh kasih.

“Bapaknya nangis terus sejak di dalam bis tadi,” terang seorang petugas. Sri pun bertanya kepada suaminya kenapa pria itu menangis. Dengan suara cedal, Sunarko menjawab bahwa ia sedih karena tidak satu bus dengan Sri saat perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju Asrama Haji.

“Bapak tadi haus di bus, cuma bingung ngomongnya karena petugas juga tak ngerti bapak ngomong apa,” terang Sri. Pria yang dinikahinya 34 tahun silam ini memang sudah beberapa tahun mengidap stroke.

Stroke yang diderita Sunarko, membuat kakek tiga cucu ini lumpuh total. Bahkan untuk berbicara pun sulit. Inilah yang membuat Sunarko begitu tergantung dengan orang lain.

Menggunakan bahasa isyarat dengan suara yang tak jelas, Sunarko menunjuk sang istri, “Dia doang yang sayang saya.” Itu pun dibantu Sri untuk menjelaskannya. Sentuhan lembut pun diberikan sang istri di bahu Sunarko

Sri bercerita tetap melaksanakan ibadah haji kendati suaminya lumpuh total. Ia bangga karena Sunarko tak pernah mengeluh selama ibadah. Umroh wajib pun masih mampu dilakukan Sunarko walaupun dengan bantuan orang.

“Untuk thawaf, sai, saya minta bantuan orang untuk bawa bapak. Saat lempar jumroh baru di badal,” cerita Sri.

Kondisi Sunarko tak mengurangi keikhlasan Sri untuk merawat sang suami. Lebih-lebih saat berada di tanah suci. Dirinya yang mengurus seluruh keperluan suami, mulai dari memandikan, menyuapi, hingga mendampingi ibadahnya.

Sri sadar ibadah haji membutuhkan stamina yang baik. Itu sebabnya dia sangat memperhatikan asupan makanan bagi sang suami. “Pokoknya saya kasih apa saja untuk bapak, mulai dari susu, buah, vitamin. Pokoknya biar bapak tetap sehat,” tuturnya.

Dirinya tak merasa terbebani sedikit pun dengan kondisi tersebut. Menurutnya, hal tersebut sudah menjadi bagian kesehariannya di rumah.

Usaha Sri tak sia-sia. Terbukti Allah mengizinkan pasangan ini kembali ke Tanah Air bersama lagi. “Bapak sudah kangen anak-anak,” tutur ibu dari dua orang anak ini. (OL-4)

Peserta pelatihan jurnalistik Kementerian Agama-Harian Media Indonesia

Komentar