Eksplorasi

Penggunaan Glifosat Dihentikan

Jum'at, 10 November 2017 23:16 WIB Penulis: Desi Yasmini

AFP/EMMANUEL DUNAND

UNI Eropa pada Kamis (9/11) gagal mendapatkan persetujuan dari anggotanya untuk memperbarui lisensi lima tahun untuk glyphosate usedkiller yang kontroversial, yang menurut para kritikus menyebabkan kanker.

Keputusan itu diambil karena mayoritas anggota menolak memperbarui lisensi yang akan berakhir pada 15 Desember.

Menteri Lingkungan Luksemburg Carole Dieschbourg menyambut baik keputusan tersebut.

"Luksemburg memilih menentang perpanjangan penggunaan glifosat. Keputusan itu sangat baik untuk kesehatan dan lingkungan kita!" kata dia.

Glifosat ialah zat pemusnah ilalang atau gulma yang banyak digunakan di lahan pertanian.

Namun, beberapa waktu lalu juru kampanye antipestisida mengungkapkan bukti adanya efek beracun yang ditimbulkan zat tersebut bagi manusia dan terhadap lingkungan.

Pada awalnya Komisi Eropa merekomendasikan untuk menyetujui penggunaan herbisida selama satu dekade lagi.

Namun, dihadapkan pada meningkatnya kegemparan mengenai dugaan bahaya penggunaan glifosat, para ahli negara anggota menolak keras dan komisi tersebut kemudian mengusulkan untuk mengurangi jangka waktu penggunaan herbisida dari sepuluh tahun menjadi lima tahun.

Organisasi Lingkungan Greenpeace mendesak pelarangan penggunaan glifosat yang terdapat dalam Roundup, racun pembunuh rumput buatan perusahaan AS Monsanto.

Bulan lalu, Greenpeace menyerahkan kepada Uni Eropa sebuah petisi yang ditandatangani lebih dari 1,3 juta orang yang mendukung langkah tersebut.

"Jika komisi terus mengizinkan bahan kimia beracun ini mencemari tanah, air, makanan, dan tubuh kita, ini hanya memberi penghargaan kepada Monsanto karena mengaburkan bahaya yang terkandung dalam produknya," kata direktur kebijakan pangan Uni Eropa Greenpeace, Franziska Achterberg.

"Uni Eropa harus mencabutnya sekarang, tidak dalam tiga, lima atau sepuluh tahun lagi," kata Achterberg dalam sebuah pernyataan.

Para aktivis lingkungan itu menunjuk pada sebuah studi pada 2015 oleh Badan Penelitian Kanker Internasional WHO (WHO) yang menyimpulkan glifosat bersifat karsinogenik (menyebabkan penyakit kanker).

Pemerintah Prancis mengatakan pihaknya ingin menghapus penggunaan herbisida itu dan menteri lingkungan hidup Nicola Hulot, seorang aktivis hijau, mengatakan, "Posisi Prancis adalah memperbarui lisensi maksimal tiga tahun."

Parlemen Eropa, satu-satunya badan terpilih Uni Eropa, bulan lalu mengatakan glifosat harus diperbarui hanya sampai 2022 dan dilarang setelahnya.

Efek beracun

Roundup ialah salah satu herbisida berbasis glifosat yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.

Beberapa buruh perkebunan yang menggunakan glifosat mengalami masalah kehamilan.

Penelitian terbaru menunjukkan glifosat dalam konsentrasi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan pertanian berbahaya bagi sel plasenta manusia.

Kenyataan ini menjadi sangat memprihatinkan mengingat para petani semakin bergantung pada Roundup.

Namun, Badan Otoritas Keamanan Pangan Eropa dan Bahan Kimia Eropa mengatakan glifosat tidak mungkin menyebabkan kanker pada manusia, sejalan dengan tinjauan pada 2016 yang dilakukan pakar WHO dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.

Monsanto menegaskan glifosat memenuhi standar yang dibutuhkan untuk memperbarui lisensinya di Eropa.

Keresahan para petani Uni Eropa terhadap serangan gulma berlangsung sejak Juni 2016, ketika lisensi 15 tahun sebelumnya kedaluwarsa dan perpanjangan 18 bulan diberikan.

Serikat petani Eropa, Copa-Cogeca, mengatakan tidak ada alternatif lain kecuali memperbarui lisensi jika benua tersebut ingin mempertahankan hasil panennya. Jika tidak ada keputusan untuk memperbarui lisensi, akan berakhir pada akhir Desember.

Namun, masih ada stok glifosat untuk satu tahun lagi.

Di dalam negeri

Di Indonesia, formula-formula pembunuh rumput yang mengandung glifosat dijual secara bebas dengan pasaran yang luas.

Cairan-cairan itu dapat dengan mudah dibeli di warung-warung kecil di perdesaan.

Sejak sistem pertanian tanpa olah tanah (TOT) diperkenalkan kepada para petani kita, penggunaan Roundup dan sejenisnya menjadi sangat populer.

Para produsen zat-zat tersebut menyatakan unsur kimiawi yang dikandungnya tidak berbahaya bagi manusia dan alam sekitarnya karena setelah penyemprotan zat-zat itu segera diserap tanaman dan kehilangan kekuatannya setelah bersentuhan dengan tanah.

Namun, di beberapa wilayah di Indonesia yang bercurah hujan sangat tinggi, herbisida dapat merembes ke sungai yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk minum, bagi penduduk di sekitar perkebunan.

Selain itu, herbisida tidak dapat terserap oleh tanah yang berpasir.

(AFP/theguardian/epa.gov/L-1/M-3)

Komentar