Jeda

Menari Dahulu Bersalin Kemudian

Ahad, 12 November 2017 05:58 WIB Penulis: Wnd/M-1

Istimewa

IRMA Syahrifat, 32, telah tiga tahun ini menjadi orang ketiga di ruang persalinan. Selain si ibu yang sibuk mengatur napas serta bidan atau dokter, ada Irma sang doula, sahabat persalinan. Tugas utamanya ialah memastikan persalinan menjadi peristiwa membahagiakan, dengan membimbing ibu melakukan afirmasi positif untuk diri dan janinnya. Konkretnya, ia menenangkan ibu, menjadi tempat curhat, mengelus punggung, mengusap keringat, memberikan makanan atau minuman yang disukai hingga yang jadi favorit, memijit. Namun, ketika memasuki proses mengejan, ia akan mundur dan memberikan ruang bagi tenaga medis.

Di Jabodetabek, Irma adalah salah satu dari sedikitnya 16 doula. Bukan cuma doula yang kini masuk ranah perbincangan perempuan urban. Ada aneka inovasi baru yang membuat persalinan jadi kekinian.

Kini, ada pula yoga prenatal, hypnobirthing, metode melahirkan di air hingga mengupayakan bayi lotus, membiarkan tali pusat terputus alami.

Ada pula ibu yang ikut kelas menari Hayuning Nismarangesti, yang menekankan pada bagian panggul untuk membantu optimalisasi posisi janin, di praktik bidan Yesie Aprillia di Klaten, Jawa Tengah.

Semuanya bermuara pada pro­ses persalinan aman, nyaman, dan tenang alias gentle birth. Mulai dikenal di Indonesia sejak 2000-an, metode ini kian menjadi perbincangan ketika semua momen kehidupan disebarkan dengan sekali klik di media sosial.

Semangat kemandirian perempuan-perempuan yang berdaya atas tubuh mereka, menjadi pembelajaran bagi pemerintah agar tak kalah sigap. Indonesia yang di satu sisi masih bergelut dengan ancaman kematian ibu dan bayi, salah satunya karena kurang gizi, juga punya wajah sangat berbeda di ruang persalin­an di saat kids zaman now (anak zaman sekarang) brojol ke dunia! (Wnd/M-1)

Komentar