Nusantara

Nikmatnya Wisata Mangga Alpukat

Selasa, 14 November 2017 23:15 WIB Penulis: (Abdus Syukur/N-3)

MI/RAMDANI

PANAS matahari masih bisa tertahan oleh rimbunnya pepohonan mangga di kebun seluas 7 hektare (ha) yang berada di Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Pasuruan. Pohon-pohon itu dipenuhi buah mangga yang siap dikonsumsi. Sudiono Fauzan, pemilik kebun mangga itu membawa sebilah pisau, sendok kecil, serta tisu. Ia duduk bersila di bawah pohon mangga. Dan, tepat di hadapannya buah mangga bergelantungan. Tanpa repot-repot, ia langsung memotong buah mangga di bagian tengahnya. Selanjutnya pada dua sisi yang sudah terpotong langsung diputar dan terlepas.

“Ini mangga alpukat atau mangga klon 21. Setelah digerat (dipotong) dan diputar, bagian yang terpisah bisa dimakan seperti makan alpukat, dikerok pakai sendok. Separuh buah lainnya masih tetap bergelantungan di pohonnya,” kata Sudiono sambil menikmati segarnya mangga berwarna kuning jingga itu. Makan mangga langsung dari pohonnya ini mendatangkan sensasi dan kenikmatan yang luar biasa. Berbeda dibanding makan mangga seperti pada umumnya. Sekitar dua atau tiga minggu lalu Sudiono merekam aktivitas makan mangga alpukat asli Rembang ini. Awalnya dia mengirimkan video itu ke sebuah grup media sosial, karena teman-temannya yang berada di luar kota ingin tahu tentang mangga alpukat.

“Saya sendiri tidak menyangka video itu tersebar dan viral di berbagai medsos. Keesokan harinya banyak orang yang menghubungi saya, minta diajak ke kebun,” ujar Sudiono. Sejak saat itu setiap harinya sekitar 30 hingga 50 mobil datang untuk mengunjungi perkebunan mangga alpukat. “Sekalian saja saya buat wisata petik mangga yang saya namai Wisata Surga Mangga,” terang Sudiono yang juga ketua DPRD Kabupaten Pasuruan ini.

Setiap kilonya, mangga alpukat yang dibeli satu pengunjung untuk dibawa pulang dihargai Rp20.000. Dia sengaja membatasi pembelian mangga untuk dibawa pulang. Satu pengunjung mewakili satu keluarga hanya boleh membeli maksimal 10 kg. Adapun mangga yang dimakan di lokasi sengaja digratiskan.

“Sekarang untuk masuk dan makan mangga langsung dari pohonnya, saya gratiskan. Tahun depan saja mulai ditata lebih bagus. Saya juga berharap agar para petani mangga yang lain di Kecamatan Rembang ini bisa membuat wisata seperti ini agar kesejahteraannya meningkat,” imbuhnya.(Abdus Syukur/N-3)

Komentar