Internasional

Korban Hadapi Suhu Dingin

Rabu, 15 November 2017 05:01 WIB Penulis: /I-4

AFP PHOTO / ATTA KENARE

PULUHAN ribu warga Iran menghabiskan malam kedua pascagempa di luar rumah mereka. Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Rich­ter sejauh ini telah mene­waskan sekitar 445 warga setempat. Mereka tidak berani tinggal di dalam rumah setelah gempa dahsyat pada Minggu (12/11). Daerah itu merupakan area pegunungan yang mencakup Provinsi Kermanshah di Iran Barat dan tetangga mereka, Pro­vinsi Kurdistan, Irak. Para penduduk yang terpaksa tidur di luar rumah harus menghadapi suhu dingin terutama pada malam hari. Hingga saat ini pihak berwenang masih kesulitan untuk mengirimkan bantuan ke dalam zona gempa.

Presiden Iran Hassan Rouhani, saat mengunjungi Kota Kermanshah, kemarin, mengatakan pemerintah akan bergerak cepat untuk membantu para korban yang kehilangan tempat tinggal. “Saya ingin meyakinkan para korban bahwa pemerintah telah mengambil segala tindakan guna mengatasi masalah ini sesegera mungkin” ujarnya. Rouhani melanjutkan segala jenis bantuan akan didistri­busikan melalui Housing Foundation, yaitu salah satu lem­ba­ga amal tepercaya yang dibentuk setelah revolusi Islam pada 1979 dan kini menjadi pemeran utama dalam ekonomi Iran.

Kepala Pengawal Revolusi Elite Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari menambahkan barang-barang yang dibutuhkan para korban gempa saat ini antara lain tenda, air, dan makanan. “Bangunan-bangunan yang baru rampung memang dapat bertahan dari guncangan gempa. Namun, rumah-rumah tua yang dibangun menggunakan tanah hancur tidak ada yang tersisa,” paparnya kepada televisi pemerintah saat mengunjungi lokasi bencana. Seperti diketahui, sebanyak 445 orang ditemukan tewas dan 6.700 lainnya terluka di wilayah Iran.
Sementara itu, di wilayah Irak yang lebih jarang penduduknya, kementerian kesehatan negara itu meng­ungkapkan delapan warga setempat meninggal dan ratusan lainnya terluka.

Pihak berwenang telah mendirikan kamp bantuan untuk menampung para pengungsi dan mendistribuskikan 22 ribu tenda, 52 ribu selimut, ser­ta makanan dan air dalam jumlah besar. Kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebut 30 tim dari Red Crescent telah dikirim ke daerah tersebut. Ratusan ambulans dan puluhan helikopter milik tentara dilaporkan telah bergabung dalam misi penyelamatan.

Pemimpin tertinggi Iran, Aya­tollah Ali Khamenei, meminta pemerintah dan angkatan bersenjata untuk mengerahkan semua upaya mereka. Televisi pemerintah melaporkan, pada Senin (13/11) malam, akses telah dibuka kembali meskipun kota yang terkena dampak paling parah, Sare Pole Zahab, belum mendapatkan kembali suplai listrik. “Guncangan akibat gempa tersebut juga dirasakan beberapa kota di Iran Barat, seperti Tabriz dan bagian tenggara Turki,” kata Tujar, seorang koresponden AFP. Di Kota Diyarbakir,Turki, warga yang ketakutan berlarian di jalan sekitar kantor berita Tasnim. Mereka meneriakkan sejumlah desa hancur total di Kabupaten Dalahoo, Iran. (*/AFP/I-4)

PULUHAN ribu warga Iran menghabiskan malam kedua pascagempa di luar rumah mereka. Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Rich­ter sejauh ini telah mene­waskan sekitar 445 warga setempat. Mereka tidak berani tinggal di dalam rumah setelah gempa dahsyat pada Minggu (12/11). Daerah itu merupakan area pegunungan yang mencakup Provinsi Kermanshah di Iran Barat dan tetangga mereka, Pro­vinsi Kurdistan, Irak. Para penduduk yang terpaksa tidur di luar rumah harus menghadapi suhu dingin terutama pada malam hari. Hingga saat ini pihak berwenang masih kesulitan untuk mengirimkan bantuan ke dalam zona gempa.

Presiden Iran Hassan Rouhani, saat mengunjungi Kota Kermanshah, kemarin, mengatakan pemerintah akan bergerak cepat untuk membantu para korban yang kehilangan tempat tinggal. “Saya ingin meyakinkan para korban bahwa pemerintah telah mengambil segala tindakan guna mengatasi masalah ini sesegera mungkin” ujarnya. Rouhani melanjutkan segala jenis bantuan akan didistri­busikan melalui Housing Foundation, yaitu salah satu lem­ba­ga amal tepercaya yang dibentuk setelah revolusi Islam pada 1979 dan kini menjadi pemeran utama dalam ekonomi Iran.

Kepala Pengawal Revolusi Elite Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari menambahkan barang-barang yang dibutuhkan para korban gempa saat ini antara lain tenda, air, dan makanan. “Bangunan-bangunan yang baru rampung memang dapat bertahan dari guncangan gempa. Namun, rumah-rumah tua yang dibangun menggunakan tanah hancur tidak ada yang tersisa,” paparnya kepada televisi pemerintah saat mengunjungi lokasi bencana. Seperti diketahui, sebanyak 445 orang ditemukan tewas dan 6.700 lainnya terluka di wilayah Iran.
Sementara itu, di wilayah Irak yang lebih jarang penduduknya, kementerian kesehatan negara itu meng­ungkapkan delapan warga setempat meninggal dan ratusan lainnya terluka.

Pihak berwenang telah mendirikan kamp bantuan untuk menampung para pengungsi dan mendistribuskikan 22 ribu tenda, 52 ribu selimut, ser­ta makanan dan air dalam jumlah besar. Kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebut 30 tim dari Red Crescent telah dikirim ke daerah tersebut. Ratusan ambulans dan puluhan helikopter milik tentara dilaporkan telah bergabung dalam misi penyelamatan.

Pemimpin tertinggi Iran, Aya­tollah Ali Khamenei, meminta pemerintah dan angkatan bersenjata untuk mengerahkan semua upaya mereka. Televisi pemerintah melaporkan, pada Senin (13/11) malam, akses telah dibuka kembali meskipun kota yang terkena dampak paling parah, Sare Pole Zahab, belum mendapatkan kembali suplai listrik. “Guncangan akibat gempa tersebut juga dirasakan beberapa kota di Iran Barat, seperti Tabriz dan bagian tenggara Turki,” kata Tujar, seorang koresponden AFP. Di Kota Diyarbakir,Turki, warga yang ketakutan berlarian di jalan sekitar kantor berita Tasnim. Mereka meneriakkan sejumlah desa hancur total di Kabupaten Dalahoo, Iran. (*/AFP/I-4)

Gempa berkekuatan 7,3 pada skala Rich­ter sejauh ini telah mene­waskan sekitar 445 warga setempat. Mereka tidak berani tinggal di dalam rumah setelah gempa dahsyat pada Minggu (12/11). Daerah itu merupakan area pegunungan yang mencakup Provinsi Kermanshah di Iran Barat dan tetangga mereka, Pro­vinsi Kurdistan, Irak. Para penduduk yang terpaksa tidur di luar rumah harus menghadapi suhu dingin terutama pada malam hari. Hingga saat ini pihak berwenang masih kesulitan untuk mengirimkan bantuan ke dalam zona gempa.

Presiden Iran Hassan Rouhani, saat mengunjungi Kota Kermanshah, kemarin, mengatakan pemerintah akan bergerak cepat untuk membantu para korban yang kehilangan tempat tinggal. “Saya ingin meyakinkan para korban bahwa pemerintah telah mengambil segala tindakan guna mengatasi masalah ini sesegera mungkin” ujarnya. Rouhani melanjutkan segala jenis bantuan akan didistri­busikan melalui Housing Foundation, yaitu salah satu lem­ba­ga amal tepercaya yang dibentuk setelah revolusi Islam pada 1979 dan kini menjadi pemeran utama dalam ekonomi Iran.

Kepala Pengawal Revolusi Elite Mayor Jenderal Mohammad Ali Jafari menambahkan barang-barang yang dibutuhkan para korban gempa saat ini antara lain tenda, air, dan makanan. “Bangunan-bangunan yang baru rampung memang dapat bertahan dari guncangan gempa. Namun, rumah-rumah tua yang dibangun menggunakan tanah hancur tidak ada yang tersisa,” paparnya kepada televisi pemerintah saat mengunjungi lokasi bencana. Seperti diketahui, sebanyak 445 orang ditemukan tewas dan 6.700 lainnya terluka di wilayah Iran. Sementara itu, di wilayah Irak yang lebih jarang penduduknya, kementerian kesehatan negara itu meng­ungkapkan delapan warga setempat meninggal dan ratusan lainnya terluka.

Pihak berwenang telah mendirikan kamp bantuan untuk menampung para pengungsi dan mendistribuskikan 22 ribu tenda, 52 ribu selimut, ser­ta makanan dan air dalam jumlah besar. Kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebut 30 tim dari Red Crescent telah dikirim ke daerah tersebut. Ratusan ambulans dan puluhan helikopter milik tentara dilaporkan telah bergabung dalam misi penyelamatan.

Pemimpin tertinggi Iran, Aya­tollah Ali Khamenei, meminta pemerintah dan angkatan bersenjata untuk mengerahkan semua upaya mereka. Televisi pemerintah melaporkan, pada Senin (13/11) malam, akses telah dibuka kembali meskipun kota yang terkena dampak paling parah, Sare Pole Zahab, belum mendapatkan kembali suplai listrik. “Guncangan akibat gempa tersebut juga dirasakan beberapa kota di Iran Barat, seperti Tabriz dan bagian tenggara Turki,” kata Tujar, seorang koresponden AFP. Di Kota Diyarbakir,Turki, warga yang ketakutan berlarian di jalan sekitar kantor berita Tasnim. Mereka meneriakkan sejumlah desa hancur total di Kabupaten Dalahoo, Iran. (*/AFP/I-4)

Komentar