Opini

KTT ASEAN 31, Tantangan dan Peran Indonesia

Rabu, 15 November 2017 06:45 WIB Penulis: Baiq Wardhani Dosen Hubungan Internasional, FISIP – Universitas Airlangga

BIRO PERS ISTANA/SETPRES

SELEPAS pertemuan ke-25 Pemimpin Ekonomi APEC di Da Nang, Vietnam, Presiden Joko Widodo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-31 ASEAN di Manila, Filipina, yang berlangsung pada 11-14 November 2017. KTT ASEAN merupakan pertemuan tingkat kepala negara di kawasan Asia Tenggara yang digelar setiap tahun.

KTT ASEAN 2017 dihadiri seluruh perwakilan negara anggota ASEAN dan 11 mitra dialog (Australia, Kanada, Tiongkok, Dewan Eropa, Jepang, India, Selandia Baru, Rusia, Korsel, AS, dan PBB). KTT ke-31 itu menargetkan 55 dokumen keluaran terkait dengan berbagai isu yang melibatkan ASEAN. KTT 2017 bertepatan dengan usia ASEAN yang genap mencapai 50 tahun.

Prestasi
Beberapa pengamat, seperti Mely Caballero-Anthony dan Kishore Mahbubani, menyatakan prestasi sebuah organisasi regional diukur dari kemampuan mengatasi konflik di antara anggotanya. Dalam kaitan ini, ASEAN ialah contoh sukses organisasi regional. Di usianya yang setengah abad, KTT 2017 menunjukkan ASEAN lebih mantap melangkah ke masa depan. Terdapat setidaknya tiga hal tentang bagaimana prestasi ASEAN selayaknya dipandang.

Pertama, berbeda dengan beberapa organisasi regional di kawasan lain, ASEAN mampu menjaga hubungan harmonis di antara anggotanya. Mencermati ‘ketidakefektifan’ SAARC (di Asia Selatan), Uni Afrika, Organization of American States (OAS), atau PIF (di Pasifik Selatan), ASEAN menampakkan resiliensi yang tinggi dan solid dalam menjaga persatuan. Efektivitas dan soliditas ASEAN disebabkan kemampuan mentransformasikan konflik menjadi kerja sama.

Kedua, sekalipun organisasi ini dilanda berbagai isu yang menimbulkan perbedaan pandangan dari anggotanya, ASEAN mampu menciptakan Asia Tenggara sebagai 'tanah perdamaian'. Di tengah usianya yang cukup mapan, ASEAN membuktikan diri sebagai organisasi regional yang memberi kontribusi positif dalam menciptakan keamanan regional, perdamaian, dan stabilitas.

Kontribusi ini tecermin dalam KTT 2017 yang menjadikan stabilitas keamanan sebagai isu sentral dalam KTT. Stabilitas keamanan merupakan prasyarat bagi keberlangsungan perdagangan, pertumbuhan ekonomi, serta keberlanjutan program-program ASEAN secara internal ataupun eksternal dengan para mitra negara ASEAN.

Ketiga, keberhasilan ASEAN dalam menciptakan Komunitas ASEAN membuat Asia Tenggara sebagai ‘keajaiban geopolitik’. Kejaiban ini tecermin dalam kemampuan mengintegrasikan 600 juta penduduk Asia Tenggara yang terdiri atas beragam bahasa, agama, dan tradisi. ASEAN juga mencakup 240 juta umat Islam, 130 juta orang Kristen, 140 juta umat Buddha, 7 juta umat Hindu, dan 50 juta pengikut agama rakyat.

Tantangan
Sejak berdiri pada 1967, terdapat beberapa perubahan mendasar yang terjadi di lingkungan politik internasional, seperti berakhirnya perang dingin, globalisasi yang semakin masif, konflik Laut China Selatan, kebangkitan China dan India, serta krisis keuangan Asia dan ancaman tradisional maupun nontradisional lainnya.

Faktor-faktor itu telah memaksa ASEAN mengubah diri dari sekadar sekumpulan negara yang bertujuan menjalankan diplomasi pencegahan dan menjaga keharmonisan di antara anggotanya menjadi komunitas yang menjalankan diplomasi konstruktif untuk mengatasi meningkatnya persaingan politik dan ekonomi dalam dunia global.

Di tengah berbagai prestasi yang telah diraih, ASEAN menghadapi berbagai tantangan baik internal maupun eksternal. Beberapa di antaranya, secara internal KTT 2017 masih menampakkan identitas ASEAN yang sering digambarkan defensif, kedaulatan yang masih tinggi, nonintervensi yang sakral, diplomasi diam-diam, politik terselubung, simbolisme/ritual, serta penyelesaian masalah melalui konsensus.

Beberapa isu krusial yang dibahas dalam KTT 2017 masih menampakkan praktik-praktik itu. Misalnya, selama KTT berlangsung, istilah 'Rohingya' dihindari karena dinilai sensitif dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, terutama karena kehadiran Aung San Suu Kyi sebagai perwakilan Myanmar. Selain itu, persoalan radikalisme seperti ISIS di Asia Tenggara belum terbahas tuntas karena hambatan-hambatan internal di dalam, juga antarnegara anggotanya.

KTT ASEAN 2017 juga menyoroti ASEAN yang masih bergelut dalam persoalan demokratisasi dan HAM. Demokratisasi Myanmar belum berjalan baik dengan kegagalan melindungi orang-orang Rohingya. Rezim militer masih ingin berkuasa di Thailand, dan pemerintah Hun Sen di Kamboja masih otoriter.

Tantangan lain, kebijakan ASEAN sebagian besar terbatas retorika tanpa implementasi. Pokpong Lawansiri, analis ASEAN, mencatat hanya sekitar 50% dari perjanjian ASEAN benar-benar diterapkan, sementara ASEAN melakukan lebih dari 600 pertemuan per tahunnya. Retorika semu selama ini merupakan lips service yang dipraktikkan di ASEAN sehingga ASEAN sering dijuluki organisasi regional yang secara sinis digambarkan John Ravenhill dan Rhondda Nicholas sebagai 'much ado about nothing'.

Bagi Indonesia
ASEAN merupakan pilar penting bagi politik luar negeri Indonesia dan Indonesia masih berkomitmen tinggi untuk mengedepankan ASEAN di tengah pertanyaan yang sering terlontar pada berkurangnya peran Indonesia. Yang terjadi sesungguhnya, tanpa mengurangi pentingnya ASEAN, RI menegaskan posisinya sebagai kekuatan menengah dalam berbagai isu dan forum internasional.

Bagaimanapun juga, Indonesia tidak akan meninggalkan ASEAN. RI melihat ASEAN dari kacamata optimisme mulai terbentuknya ASEAN hingga mencapai usia setengah abad ini. Dalam berbagai pernyataan yang tecermin dalam KTT ASEAN 2017, banyak hal telah diperoleh Indonesia. Di antaranya ASEAN menciptakan dan memelihara citra Indonesia sebagai tetangga yang baik, yang penting untuk stabilitas regional.

ASEAN juga meningkatkan kredibilitas internasional Indonesia karena Indonesia dianggap sebagai motor ASEAN yang mendorong Asia Tenggara menjadi daerah yang harmonis. Indonesia pun diuntungkan karena ASEAN mampu berfungsi sebagai penyangga keamanan bagi Indonesia karena Indonesia dikelilingi tetangga-tetangga yang ramah. Hal ini menciptakan kesan positif bahwa ASEAN berkontribusi terhadap pengembangan tatanan regional yang otonom. Dunia internasional masih melihat Indonesia sebagai pemimpin ‘natural’ ASEAN yang diharapkan selalu memainkan peran positif dan konsisten demi pembangunan ASEAN.

Komentar