Opini

Waspadai Diabetes pada Anak

Rabu, 15 November 2017 07:01 WIB Penulis: FX Wikan Indrarto Sekretaris IDI Wilayah DIY, Dokter Spesialis Anak di RS Siloam dan RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S-3 UGM

Ilustrasithinkstock

KEMARIN, 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Dunia. Peringatan diprakarsai International Diabetes Federation (IDF), dimulai 2006 dengan berlakunya United Nation Resolution 61/225. Diabetes melitus (selanjutnya disingkat DM) atau kencing manis ialah penyakit hormonal paling sering pada kelompok usia dewasa dan jarang terjadi pada anak.

DM pada anak sering tidak dikenali sebab perhatian dan kecurigaan akan DM sangat kecil, terkait dengan kekurangcermatan, ketidaktahuan, bahkan ketidakmampuan dokter dan petugas medis lainnya mengenali tanda klinis DM. Apa yang sebaiknya dipahami?
Global Report on Diabetes, laporan diabetes global pertama dan dirilis 2016, menunjukkan jumlah orang dewasa yang menderita diabetes naik hampir empat kali lipat sejak 1980, mencapai 422 juta orang dewasa. Kenaikan dramatis itu terutama disebabkan kenaikan diabetes tipe 2 dan faktor pendorongnya termasuk kelebihan berat badan.

Pada 2012 saja diabetes menyebabkan 1,5 juta kematian. Komplikasinya menyebabkan serangan jantung, stroke, kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi. Laporan itu meminta pemerintah memastikan setiap orang harus didorong untuk sehat dan sistem kesehatan nasional harus dapat mendiagnosis dan merawat penderita diabetes. Wujudnya dalam hal ini berupa program mendorong warga makan sehat, aktif secara fisik, dan menghindari kenaikan berat badan yang berlebihan. Prevalensi global DM pada orang dewasa meningkat dari 4,7% pada 1980 menjadi 8,5% di 2014, tetapi data pada anak belum dapat ditampilkan. Prevalensi DM meningkat lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah jika dibandingkan negara maju. World Diabetic Foundation menyarankan untuk mencurigai DM dengan adanya gejala klinis khas, yaitu 3P dan kadar gula darah (GD) tinggi, yaitu > 200 mg/dl. GD yang tinggi menyebabkan molekul gula itu terdapat di dalam air kencing, yang normalnya tidak mengandung gula, sehingga sejak dahulu disebut penyakit kencing manis.

Gejala 3P adalah polifagi (sering makan karena rasa lapar yang berulang), polidipsi (sering minum karena rasa haus yang berulang), dan poliuri (sering kencing, termasuk mengompol di malam hari pada anak yang biasanya sudah tidak mengompol atau pamit kencing berulang saat pelajaran di kelas). Gejala dan tanda klinis itu serupa penderita DM dewasa. DM pada anak sering ditemukan sebagai keluhan sakit perut berulang dan adanya riwayat terkena infeksi virus, seperti parotitis (Jawa: gondhongen), cangkrangen, diare akut, dan flu singapura.

DM akan memberikan dampak buruk atau komplikasi akut (jangka pendek) dan kronis (jangka panjang). Komplikasi akut ialah hiperglikemia (GD tinggi) karena DM belum diobati dan hipoglikemi (GD rendah) karena pengobatan yang berlebihan. Komplikasi kronis adalah kelainan baik pembuluh darah besar di jantung dan otak maupun pembuluh darah kecil di mata, ginjal, dan serabut saraf.

Hiperglikemi dapat menyebabkan anak selalu lapar, sering kencing, dehidrasi, lemah, luka sulit sembuh, kejang, penurunan kesadaran, dan meninggal mendadak. Hipoglikemi sering membuat anak emosional, mudah marah, lelah, keringat dingin, pingsan, dan kerusakan sel permanen sehingga mengganggu fungsi organ dan proses tumbuh kembang anak.

Penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan, dan mati rasa merupakan komplikasi kronis DM yang biasanya terjadi setelah anak menjadi remaja atau meninggal pada usia saat usia dewasa muda. DM tipe 1 pada anak memerlukan pengobatan lengkap untuk mengatasi komplikasi akut, mencegah kematian dini, mengurangi risiko terjadinya komplikasi kronis, dan mendukung aktivitas harian bersama teman sebaya, termasuk proses tumbuh kembang optimal.

Komplikasi akut hiperglikemi saat ini masih merupakan titik masuk kecurigaan dokter akan DM tipe 1 pada anak. Adanya shock, dehidrasi, kejang, koma, dan kematian mendadak masih selalu diduga disebabkan DBD, diare akut, pneumonia, infeksi otak, apendisitis, atau penyakit lain. Kalau tidak dicurigai DM dan GD tidak diperiksa, hampir pasti pasien meninggal karena kesalahan tata laksana medis dengan diagnosis akhir tidak tegak. Hal itulah yang merupakan penyebab fenomena gunung es untuk DM pada anak. Ada empat pilar utama pengobatan DM, yaitu insulin, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi. Sejarah ilmu kedokteran mencatat pada 1869 Prof Langerhans berhasil menemukan sebentuk pulau-pulau di dalam pankreas manusia yang berfungsi memproduksi insulin (akhirnya disebut island of Langerhans). Pada 1921 insulin anjing dapat diekstraksi dokter Banting dan dokter Best Marjorie dari Connecticut, serta dicobakan pada anjing yang dibuat menderita DM sehingga mereka berdua mendapatkan Hadiah Nobel Kedokteran 1923. Pasien DM yang pertama mendapat insulin hewan ialah Leonard Thompson, diberi mulai 11 Januari 1922 dan meninggal satu tahun kemudian. Pasien selanjutnya Teddy Ryder, yang diberi insulin manusia, dapat bertahan lama, baru meninggal pada usia 76 tahun. Sejak itu, insulin telah menyelamatkan banyak penderita DM tipe 1 dan sampai saat ini hanya tersedia dalam bentuk obat suntikan.

Anak DM idealnya diperiksa GD 4-7 kali sehari, disuntik insulin 3-5 kali sehari dengan dosis disesuaikan dengan hasil GD dan diperiksa kadar HbA1C 3-4 kali setahun, yaitu sebuah parasat pemeriksaan darah untuk mengevaluasi fluktuasi GD selama 3 bulan terakhir. Pemeriksaan GD dan penyuntikan insulin harus mampu dikerjakan anak sebab hal itu harus setiap hari, di mana pun anak beraktivitas dan seumur hidupnya.

Sampai sekarang insulin masih terus dikembangkan untuk mendapatkan bentuk terbaik, termasuk dalam bentuk obat hirupan, telan, atau obat tempel kulit yang relatif lebih praktis, murah, dan tidak menyakitkan anak jika dibandingkan dengan suntikan. Kewaspadaan akan DM pada anak perlu ditingkatkan. Pengobatan dengan injeksi insulin sesegera mungkin, setiap hari dan seumur hidup, merupakan salah satu pilar penting pengobatan DM tipe 1 pada anak. Sudahkah kita bijak?

Komentar