Polkam dan HAM

TNI Tunggu Payung Hukum Bebaskan Sandera

Rabu, 15 November 2017 08:55 WIB Penulis: Nov/DG/MC/AS/X-8

MI/Arya Manggala

KEPALA Staf TNI-AD Jenderal TNI Mulyono meminta pemerintah bersama DPR segera mengambil sikap untuk mengakhiri penyanderaan terhadap 1.300 warga oleh kelompok kriminal bersenjata di Kampung Banti dan Kimberly, Mimika, Papua.

"Mereka merupakan kelompok separatis, berdasarkan undang-undang harus ditumpas dan diberantas. Kami mengimbau pemerintah dan DPR harus mengambil sikap, dibagaimanakan kelompok bersenjata ini," kata Mulyono di Pusdikif Pussenif Kodiklat AD, Cipatat, Bandung Barat, kemarin.

Jenderal Mulyono menilai pelaku banyak membuat pernyataan provokasi, bahkan menyatakan siap berperang dengan Indonesia. "Ini ancaman yang tidak main-main, ancaman serius. Kalau kita tidak dipayungi hukum yang jelas, TNI tidak bisa berbuat apa-apa di sana, apalagi kondisinya bukan dengan status darurat militer.''

Dalam kasus penyanderaan sejak 9 November ini, ujar Mul-yono, TNI hanya mem-back up kepolisian. Bila undang-undang mengamanatkan TNI turun langsung, pihaknya sudah siap dengan pasukan untuk membantu mengupayakan Papua yang lebih kondusif.

"Kita ingin mengangkat derajat masyarakat di sana," jelasnya.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon juga menilai penyanderaan merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi. Ia meminta aparat segera membebaskan para sandera dengan mengutamakan cara-cara persuasif.

"Namun, kita juga harus menunjukkan kedaulatan dan pantang didikte kelompok separatis. Masyarakat bertanya-tanya kenapa kejadian ini seperti dibiarkan dan aparat tak bertindak tegas. Masyarakat juga banyak yang menanyakan, mengapa mereka hanya disebut kelompok kriminal bersenjata, bukan kelompok teroris atau separatis," tukas Fadli.

Kemarin, kelompok kriminal bersenjata kembali berulah dengan menembaki mobil patroli pengawalan yang melintas di mile 69 Tembagapura, Mimika. Menurut Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, insiden itu terjadi sekitar pukul 08.30 WIT dan mengakibatkan seorang karyawan terluka tembak di paha.

Soal kondisi sandera, istri salah satu korban, Zubaidah, mengaku beberapa hari lalu sempat berkomunikasi dengan sang suami yang kini berada di Kampung Banti. "Mereka mengaku hanya makan nasi putih tanpa lauk karena hanya perempuan yang boleh keluar kampung. Uang mereka juga dirampas dan sekarang kami tak bisa komunikasi lagi,'' tutur warga Demak, Jateng, itu.

Komentar