Polkam dan HAM

Selama IS Eksis, Polisi akan Jadi Target Utama

Rabu, 15 November 2017 09:05 WIB Penulis: Yose Hendra

ANTARA/M Agung Rajasa

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian pernah menyebut salah satu terduga teroris yang membakar Polres Dharmasraya diduga mendapatkan doktrin radikal saat merantau ke Sumedang, Jawa Barat. Pelaku teror yang berinisial ES itu kemudian menikah dan diduga berbaiat ke Islamic State (IS).

Pengamat terorisme Ridwan Habib mengatakan indoktrinasi seseorang untuk ikut dalam jaringan kelompok teroris bisa dengan berbagai cara. Pernikahan salah satunya. Ia menduga ES mengikuti ideologi radikal dengan cara dinikahkan dengan seseorang yang berasal dari kelompok itu sendiri.

"Saya kira istrinya kan masih hidup, bisa diinterogasi. Dari situ bisa dilihat teori konspirasi, teori rekayasa, bisa terpatahkan karena selalu berbasis pada fakta yang ditemukan di lapangan," kata dia.

Ridwan mengatakan harus diingat, jaringan kelompok radikal tidak akan habis hanya karena kehilangan beberapa anggotanya yang tewas dalam serangan. Akan ada kaderisasi dan regenerasi baru yang bisa kapan saja menjadi eksekutor selanjutnya.

Pun dengan keberadaan polisi. Selama ini IS ataupun kelompok radikal lain masih menempatkan polisi sebagai musuh utama yang harus ditumpas. Karena itu, segala serangan yang ditujukan kepada kepolisian akan terus dilakukan.

"Selama IS masih eksis, masih bisa beroperasi di Indonesia bahkan dari dalam penjara, polisi akan jadi target utama mereka karena dianggap perintang utama. Saya kira Kapolri juga Kompolnas harus bisa mengawasi itu," kata dia.

Serangan di Polres Dharmasraya, Sumatra Barat, menjadi peringatan bahwa kini aksi teror tidak hanya ditujukan bagi aparat kepolisian yang berada di kota-kota besar. Di sinilah peran polsek dan binmas diperlukan.

"Untuk mengantisipasi kelompok atau orang-orang yang mempunyai keanehan, harus ada mekanisme pengawasan terutama bagi warga baru untuk menjaga ketertiban umum dan masyarakat luas," jelasnya.

Saat ini keluarga dua pelaku pembakaran Dharmasraya menjalani tes DNA di Rumah Sakit Bhayangkara Padang. Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Padang Tasrif mengatakan tes DNA dilakukan untuk mencocokkan dengan DNA kedua penyerang.

"Untuk pemeriksaan keduanya, selanjutnya menjadi kewenangan Densus 88,'' ujarnya. Kemarin juga jenazah kedua pelaku, Eka Fitra Akbar, 24, dan Engria Sudarmadi, 25, dipulangkan ke Muaro Bungo dan Merangin, Provinsi Jambi. Kepala Bidang Dokter Kesehatan Polda Sumbar Danang Pamudji mengaku proses pemulangan ke pihak keluarga sudah selesai.

Selidiki

Saat ini Polri masih menyelidiki dugaan kelalaian petugas jaga Polres Dharmasraya Sumbar. Audit internal dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Sumbar.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan sejumlah petugas jaga sampai hari ini masih dalam pemeriksaan. Selain petugas jaga pada hari kejadian, internal polres yang dinilai bertanggung jawab turut dimintai keterangan. "Dengan demikian, nanti akan ketahuan apa terjadi pelanggaran prosedur atau tidak," kata Setyo.

Setyo enggan menyimpulkan ada tidaknya dugaan pelanggaran prosedur opersional standar (SOP) penjagaan markas. Ia memastikan segala bentuk kegiatan pengamanan, mulai markas hingga kegiatan kepolisian, sudah memiliki SOP masing-masing.

Komentar