Internasional

Tak Dikubur, Mayat Kombatan IS Menanti Vonis

Rabu, 15 November 2017 11:00 WIB Penulis:

AFP/MAHMUD TURKIA

Sudah setahun berlalu, ratusan mayat kombatan Islamic State (IS) masih disimpan di kontainer-kontainer berpendingin di Kota Misrata, Libia. Mayat-mayat itu belum dimakamkan lantaran harus menunggu nasib mereka diputuskan pengadilan.

"Suhu harus dijaga di antara -18 dan -20 Celsius (0,4 sampai -4 Fahrenheit) agar tetap awet," kata Ali Tuwaileb di kompleks antikejahatan berpengamanan tinggi di kota tersebut.

Sekitar 700 mayat telah disimpan di kamar mayat buatan sejak para petempur IS diusir pada Desember 2016 dari kota pesisir Sirte yang menjadi benteng mereka di Libia.

Dua tandu tua di bawah tenda rekayasa yang didirikan di depan kontainer-kontainer tersebut berfungsi sebagai laboratorium untuk dokter forensik. "Seperti yang bisa Anda lihat, kami tidak memiliki sarana. Di sinilah kami mengambil sampel untuk tes DNA dan tempat mayat diletakkan untuk kami potret," kata Tuwaileb, yang bertanggung jawab atas fasilitas tersebut.

Karena kekurangan sumber daya, ratusan mayat IS lainnya ditelantarkan di bawah reruntuhan di Sirte atau di makam-makam darurat yang digali para kombatan IS.

Selama berlangsungnya pertempuran, saat serangan udara koalisi pimpinan AS mendukung pasukan keamanan Libia, mayat-mayat dibiarkan membusuk di jalan-jalan di Sirte sehingga memicu ketakutan penyebaran epidemi.

Dalam sebuah komentar setelah mengunjungi wilayah itu Agustus lalu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa negeri itu suatu hari nanti bakal menjadi magnet bagi turis dan investor setelah mereka dapat membersihkan mayat-mayat tersebut.
Menurut perkiraan Tuwaileb, antara 1.500 dan 2.000 kombatan IS dimakamkan di kota Mediterania itu.

"Kami tidak memiliki lemari pendingin yang cukup, atau kami akan menggali semua mayat," kata pejabat Libia tersebut. Dia menambahkan bahwa kontainer-kontainer tersebut dipinjamkan sebuah perusahaan swasta.

Dari tujuh kontainer berpendingin di Misrata, tiga telah rusak. "Kami harus mendistribusikan kembali jenazah di antara lemari pendingin yang masih berfungsi," kata Tuwaileb.

Dia mengatakan itu telah menjadi perjuangan, terutama selama musim panas Afrika Utara dan pemadaman listrik konstan. "Jadi cadangan harus siap dan kami harus mengisi bahan bakar secara teratur." '

Bau mayat tercium kuat dan menyebar ketika salah satu kontainer mengeluarkan awan uap tebal yang bersentuhan dengan udara hangat di luar. Di dalamnya, ada kantong berisi tubuh pucat berlumuran darah dan lumpur tergeletak di rak logam. AFP/Arv/I-1

Komentar