Internasional

PBB Desak Suu Kyi Terima Rohingya

Rabu, 15 November 2017 11:15 WIB Penulis: Haufan Hasyim Salengke

Klik gambar untuk memperbesar

MASYARAKAT internasional kian keras menekan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi untuk segera menyelesaikan krisis kemanusiaan etnik Rohingya. Ratusan ribu etnik minoritas itu harus eksodus ke negara tetangga Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari tindakan keras militer.

Tekanan itu diberikan saat Suu Kyi bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson di sela-sela KTT ASEAN di Manila, Filipina.

Guterres mengatakan kepada peraih Hadiah Nobel itu bahwa ratusan ribu peng-ungsi Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh harus diizinkan kembali ke rumah mereka di Myanmar.

"Sekretaris Jenderal menegaskan bahwa upaya yang kuat untuk memastikan akses kemanusiaan, pemulangan yang aman, bermartabat, sukarela, dan berkelanjutan, serta rekonsiliasi yang hakiki di antara masyarakat, merupakan suatu hal yang penting," kata sebuah pernyataan PBB kepada Suu Kyi, kemarin.

Komentar Guterres itu disampaikan beberapa jam sebelum Suu Kyi duduk bersama Tillerson di sela-sela KTT Asia Timur di Manila.
Selain PBB, Washington melalui Menlu Tillerson telah berhati-hati dalam pernyataannya mengenai situasi di Rakhine dan menghindari kritik terang-terangan terhadap Suu Kyi.

Para pendukung mengatakan Suu Kyi harus menjembatani antara kemarahan di luar negeri dan perasaan rakyat di negara mayoritas Buddha itu yang sebagian besar meyakini etnik Rohingya ialah imigran gelap.

Pada kesempatan foto di puncak pertemuannya dengan Tillerson, Suu Kyi mengabaikan seorang wartawan yang menanyakan apakah Rohingya ialah warga negara Myanmar.

Setelah pertemuan itu, Tillerson yang akan melawat ke Myanmar hari ini ditanya wartawan apakah dia 'memiliki pesan untuk pemimpin Burma'. Senada, dia juga mengabaikan pertanyaan tersebut, hanya menjawab, "Terima kasih."

Wilayah tanpa manusia

Lebih dari 600 ribu warga etnik Rohingya membanjiri Bangladesh sejak akhir Agustus lalu, dan sekarang tinggal di kemah kamp pengungsi terbesar di dunia di negeri Asia Selatan itu.

Musikus dan juru kampanye Bob Geldof, Senin (13/11), mengecam Suu Kyi sebagai 'pembunuh' dan 'pelayan genosida'.

Desa-desa Rohingya yang dibakar militer Myanmar dan gerombolan Buddha membuat sebagian besar wilayah di utara Rakhine tak berpenghuni.

Sebuah perjalanan langka yang difasilitasi militer untuk media asing dengan helikopter ke Distrik Maungdaw pusat krisis yang meledak pada akhir Agustus menyingkap pemandangan tanpa manusia. Ladang padi terbengkalai dan hancur.

Warga yang tertinggal mengatakan mereka terjebak, tidak mampu membayar sewa kapal US$50, tetapi tanpa sarana untuk mencari nafkah di wilayah tersebut.

"Kami dulu bekerja di pertanian dan memancing, tapi sekarang pemiliknya tidak menginginkan tenaga kerja," kata Osoma, 25. Ia menjelaskan kebanyakan bisnis orang Rohingya dan pemilik tanah telah bergabung dalam eksodus ke Bangladesh.

Sementara itu, jaminan penangguhan Parmaukkha, salah seorang biksu ultranasionalis Myanmar yang menghasut kerusuhan dalam sebuah demonstrasi anti-Rohingya yang diadakan di luar Kedutaan Besar AS tahun lalu, ditolak, kemarin. (AFP/Hym/-1)

Komentar