Polkam dan HAM

Kecelakaan Lalu Lintas Berpotensi Jadi Penyebab Kematian Kelima Tertinggi

Rabu, 15 November 2017 12:07 WIB Penulis: MICOM

ANTARA/YULIUS SATRIA WIJAYA

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan kecelakaan lalu lintas berada dalam peringkat 9 dari 10 peringkat penyebab kematian tertinggi dan diprediksi akan naik ke peringkat kelima pada 2030 setelah penyakit jantung koroner, stroke, penyakit paru-paru kronis, dan infeksi pernapasan.

Demikian dikemukakan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat membuka Forum Polantas Asean (ATPF) Ke-2 yang bertajuk Kerja Sama Global untuk Menciptakan Keselamatan Berlalu Lintas di Negara-negara Asean di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (15/11)

Menurut Tito pentingnya berlalu lintas yang baik juga didorong adanya era perdagangan bebas. Negara-negara ASEAN menghadapi lima tantangan besar yakni arus bebas barang, arus bebas pelayanan, arus bebas modal, arus bebas investasi dan arus bebas keahlian SDM.

Tito menambahkan cepatnya perpindahan barang dan jasa antarnegara turut membutuhkan jalur transportasi yang aman namun data menunjukkan bahwa jumlah kecelakaan lalu lintas masih tinggi.

Mengutip laporan Status Global Dalam Keamanan Jalan pada 2015, Tito menyebutkan, penyumbang kematian terbesar di negara miskin dan negara berkembang adalah kecelakaan lalu lintas dengan rata-rata 24,1 dan 18,4 kematian per 100 ribu populasi, sedangkan di negara maju, nilainya hanya 9,2 per 100 ribu populasi.

Dia mengatakan bahwa enam negara yang paling tinggi angka kecelakaan lalu lintasnya yakni Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina dan Laos. Sementara Brunei Darussalam dan Singapura memiliki tingkat kecelakaan lalu
lintas terendah dalam lingkup ASEAN.

Untuk meningkatkan keselamatan berkendara dan keamanan lalu lintas, Kapolri juga mengatakan bahwa Sidang Umum PBB pada 2010 telah mengumumkan "Aksi Satu Dekade Keamanan Berkendara 2011-2020" yang bertujuan untuk menstabilkan dan menurunkan tingkat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di dunia yang diwujudkan dalam lima pilar.

Lima pilar tersebut yakni manajemen keamanan jalan raya, meningkatkan keamanan jalan dan mobilitas, kendaraan, pengemudi, dan respons pasca kecelakaan.

Tito pada kesempatan itu juga menceritakan Indonesia telah menerapkan modernisasi dalam layanan lalu lintas diantaranya layanan SIM daring, berlakunya fasilitas e-Samsat di Pulau Jawa dan Bali dan aplikasi Registrasi dan Identifikasi Elektronik (ERI).

Ia juga mengungkapkan keberhasilannya mengatasi permasalahan dalam arus mudik Lebaran 2017. "Modernisasi juga digunakan untuk arus mudik. Sebelumnya mudik selalu menimbulkan masalah rumit, tapi pada tahun ini kami mampu meminimalisir masalah dan tingkat kecelakaan," katanya.

Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Polantas Asean (ATPF) 2017. Forum ATPF ke-2 ini akan digelar di Jakarta dan Bali sejak 14-18 November 2018. Forum ini dihadiri para delegasi dari sejumlah negara Asean yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam dan Vietnam.(Ant/OL-3)

Komentar