Eksplorasi

Nyamuk Mutan Bermata Tiga untuk Kendalikan Populasi

Sabtu, 18 November 2017 05:16 WIB Penulis: ucrtoday/ livescience/Grt/L-2

UNIVERSITY OF CALLIFORNIA RIVERSIDE

Peneliti dari University of California Riverside sukses mengembangkan nyamuk transgenik yang mengekspresikan enzim Cas9 secara stabil dalam garis germinal mereka. Penambahan enzim tersebut akan memungkinkan penggunaan alat penyunting gen CRISPR untuk membuat perubahan yang ditargetkan terhadap DNA nyamuk.

Sebagai bukti konsep, para peneliti menggunakan sistem untuk mengganggu kutikula, sayap, dan perkembangan mata, demi menghasilkan nyamuk berwarna kuning, bermata tiga, dan tanpa sayap. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science (PNAS) itu dipimpin oleh Omar Akbari, asisten profesor entomologi di UCR's College of Natural and Agricultural Science.

Tujuan jangka panjang mereka ialah mengembangkan strategi baru dalam pengendalian populasi nyamuk dan mencegah resistensi pada serangga penular penyakit ini. Saat ini Aedes aegypti merupakan nyamuk pembawa utama demam ber darah, cikungunya, demam kuning, dan virus zika.

Mereka begitu cepat menjadi resisten terhadap pestisida yang umum digunakan. Upaya sebelumnya dalam menggunakan penyuntingan genom untuk mencegah nyamuk menyebarkan patogen telah terhambat oleh tingkat mutasi yang rendah, kelangsungan hidup nyamuk yang buruk, dan transmisi gen yang tidak efi sien pada keturunan.

Selanjutnya, para peneliti berkeinginan menggunakan teknik modifikasi gen (gene drive) seperti sistem perubahan gen turunan yang membuat nyamuk kian mungkin mewariskan sifat genetik dari induk kepada keturunannya.

"Nyamuk dengan ekspresi Cas9 stabil ini merupakan langkah awal dalam penggunaan sistem gene drive untuk mengontrol populasi nyamuk dan mengurangi penyakit yang mereka sebarkan," ujar Akbari.

"Strain Cas9 ini dapat digunakan untuk mengembangkan drive gen terpisah dengan memasukkan Cas9 dan RNA ke genomik secara terpisah dan saling bergantung untuk menyebar. Ini cara paling aman untuk mengembangkan dan menguji drive gen di laboratorium untuk memastikan tidak menyebar ke alam liar," tambah Akbari. Sistem gene drive bisa digunakan untuk menyebarkan gen-gen yang menghambat kesuburan dan bisa menjadi cara yang ramah lingkung an serta hemat biaya untuk menekan populasi serangga penyebar penyakit.

Kumbang bermata tiga

Pada waktu yang hampir bersamaan, ahli biologi dari Universitas Indiana, Amerika Serikat, memperkenalkan kumbang scarab hasil modifi kasi genetik. Kumbang itu memiliki anggota tubuh baru dari hasil modifikasi genetik. Matanya bertambah satu dan terletak di tengah kepala.

Setahun lalu, para ilmuwan mendapati adanya gen orthodenticle yang mencegah kumbang scarab mengembangkan mata tambahan. Saat gen tersebut dinonaktifkan, mata baru kumbang pun muncul saat serangga itu menetas dengan setumpuk mata majemuk di tengah kepalanya. Para ilmuwan mendapati mata baru tersebut memiliki struktur yang kompleks dan terhubung dengan sistem saraf sehingga dapat digunakan untuk melihat.

Komentar