Features

Jeruk Hidupkan Perekonomian Dukuh Gumeng

Selasa, 21 November 2017 01:45 WIB Penulis: (Akhmad Safuan/N-3)

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

JALAN menuju Dukuh Gumeng, Desa Tanggel, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, masih basah, sisa hujan semalam. Sepanjang ruas jalan yang rusak dan berlumpur ada di hutan. Serombongan pejabat Pemerintah Kabupaten Blora, dipimpin Bupati Djoko Nugroho, terlihat menggunakan motor trail dan meliuk-liuk di antara jalan tanah berlumpur dan becek untuk menghindari lubang menganga, Rabu (8/11). Ini kunjungan rutin pejabat Blora ke desa hutan. Maklum, di kabupaten ini, luas hutan mencapai 49,6% dari luas wilayah, dan 83 desa di antaranya ada di dalam hutan. Desa Tanggel merupakan desa yang berada di tengah hutan. Jalan menuju ke sana berupa jalan tanah.

Memasuki Dukuh Gumeng, sekitar 4 kilometer dari pusat desa, mereka harus melewati jalan tanah berlumpur. Di dusun, warga setempat sudah menyambut. Bupati sempat berkeliling dusun dan menyaksikan kondisi rumah warga. Hidup mereka sukses berkat budi daya tanaman jeruk yang ditanam di sekitar hutan. Ia dengan didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Blora, Reni Miharti, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Samgautama Karnajaya, serta beberapa staf meninjau warga dusun yang mampu mengembangkan sektor perkebunan.

“Kami di sini tidak miskin, tetapi kami selalu kesulitan mendistribusikan hasil panen karena jalan yang rusak. Kami juga kesulitan air untuk menyiram tanaman saat musim kemarau,” kata Mujiyat, petani dari Dusun Gumeng, saat bertemu bupati. Tanaman jeruk itu cukup memberikan harapan karena hasil panen berlimpah. Sayangnya, hasil panen tersebut dihargai dengan murah karena tingginya biaya transportasi.

Dari lahan seluas 3.000 meter persegi ini, setiap kali panen jeruk, Mujiyat bisa menghidupi keluarganya. “Kalau kondisi jalan baik (tidak hujan), jeruk dari dusun kami harganya bisa naik dua sampai tiga kali lipat,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Reni Miharti, mengatakan perkebunan jeruk di Desa Tanggel ini mencapai 30 hektare, yang merupakan bantuan Kementerian Pertanian.

Mereka pernah mengalami masa kejayaan sebagai petani jeruk pada akhir 1990-an. Namun pada 2002, wabah virus merusak seluruh tanaman jeruk di desa itu. Mereka baru kembali menanam jeruk siam pada 2007 sampai sekarang. Bupati Blora Djoko Nugroho berjanji memperbaiki infrastruktur. “Secara bertahap akan kita bangun jalan dan bendungan untuk memenuhi kebutuhan ratusan keluarga di dusun ini,” kata Djoko Nugroho. Dia berjanji, pada 2018, dana Rp2 miliar untuk membangun jalan sepanjang 3,5 km menuju desa tersebut akan dianggarkan. (Akhmad Safuan/N-3)

Komentar