Gaya Urban

Sensasi Gabungan Tiga Selancar

Ahad, 26 November 2017 01:31 WIB Penulis: Fario Untung Tanu

DOK. BATAM WAKEBOARDING COMMUNITY

DENGAN kecepatan mencapai 30 kilometer per jam, Ifan Diky bagai melesat di atas papan seluncur. Tidak hanya meluncur lurus di atas air, ia juga harus menghadapi beberapa rintangan (obstacle) yang berupa tembok-tembok papan.

Saat rintangan makin dekat, dengan penuh kepercayaan diri, Ifan meloncat tinggi. Sembari ia melompat, berbagai manuver pun ia peragakan. Tidak hanya itu, Ifan juga lincah meliuk-liuk di atas air.

Uniknya, tidak ada perahu motor yang menarik Ifan untuk melaju. Olahraga yang digeluti pria 31 tahun ini nyatanya memang bukan ski air yang membutuhkan bantuan kapal penarik, melainkan olahraga wakeboarding.

Diyakini dimulai di Australia dan New Zealand pada era 70-an, wakeboarding menggunakan lintasan berkabel yang bekerja otomatis (automatic cable) menarik tubuh peselancar. Sepintas pemandangan lintasan berkabel ini layaknya kabel-kabel listrik di jalanan. Bedanya, kabel-kabel tersebut melintas belasan hingga puluhan meter di atas taman air.

Dari kabel-kabel yang membentang dan terhubung ke tiang-tiang penyangga di pinggir badan air, ada pula kabel yang mengarah ke bawah dan terikat ke badan peselencar. Dalam sebuah taman air tempat bermain wakeboard, lintasan kabel itu tidak hanya berjumlah satu dan pada satu jalur.

Dengan jumlah lintasan yang banyak dan jalur yang beragam, permainan wakeboard bisa dilakukan beberapa orang dalam waktu bersamaan. Mereka pun bisa mengeksplorasi berbagai sudut dari taman air.

Hal itu pula yang kerap dilakukan Ifan dan rekan-rekannya di Batam Wakepark. Berbincang dengan Media Indonesia, Senin ( 20/11), ia menjelaskan wakeboarding dapat pula dilakukan dengan cara ditarik perahu motor atau disebut wakeboarding behind boat.

“Ini penggabungan antara snowboarding, skateboarding, dan surfing,” tambahnya. Maka sensasi wakeboarding ini ibarat gabungan ketiga olahraga itu.

Ekstrem

Sensasi melompat tinggi di atas air itulah yang begitu dinikmati Ifan, juga rekannya Alex Hanief. Berlomba, mereka menunjukkan kemahiran berputar 360 derajat, gerakan berguling (roll) ke depan atau ke belakang, hingga gerakan terbang sembari membuka kaki atau disebut raley.
“Jadi, jangan kaget kalau yang hobi olahraga ini sering bolak balik mengalami cedera, seperti terkilir, keseleo, atau bahkan memar-memar karena terempas ke air ketika sedang melaju,” ujar Alex.

Namun, bukan berarti pula cedera tidak bisa dihindari. Salah satu langkahnya ialah mengikuti tahapan belajar yang dimulai dengan berlatih keseimbangan berdiri di atas wakeboard.

“Apa yang perlu dipelajari pertama ialah belajar berdiri di atas air dengan perlengkapan yang sudah disiapkan. Dengan tangan memegang sebuah tali kemudian badan bergerak di atas air, ditarik mengikuti gerak tali tersebut,” papar Ifan yang juga Ketua Batam Wakeboarding Community. Dalam tahapan awal pembelajaran ini pula, peselancar mulai berlatih beradaptasi dengan tarikan kabel.

Setelah tahap tersebut dikuasai, barulah peselancar masuk tahap pembelajaran full system. Dalam tahap ini, peselancar sudah diperkenalkan dengan rintangan dan manuver-manuver untuk melewatinya.

Di arena Batam Wakepark, dua tahap pembelajaran ini dilakukan di area terpisah. “Jadi semua terpisah dan sangat aman. Karena untuk yang pemula semua disediakan safety equipment serta guide yang akan menjaga,” jelas Alex. (M-3)

Komentar