Features

Tantangan yang Selalu Dihadapi Dengan Senyuman

Rabu, 29 November 2017 22:19 WIB Penulis: Insan Khoril Qolbi

Ist

Berbantalkan karang, berselimut ombak. Sebuah ungkapan yang sangat akrab dengan penduduk di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Orang Sanger, sebutan kepada penduduk yang tinggal di kabupaten tersebut, memang sangat akrab dengan laut. Itu karena daerah ini hanya 6% daratan, dan selebihnya perairan.

Kondisi inilah yang dihadapi para penyuluh agama Islam dalam melayani umat di wilayah ini. Ketika berkunjung ke Kabupaten Kepulauan Sangihe, kami menemui tiga penyuluh agama Islam non PNS yang wilayah layanannya harus berlabuh di laut biru. Ternyata mereka juga harus menapaki terjalnya perbukitan setelah bersampan ria untuk sampai di tempat tujuan.

Bagi Napisa Landangkasiang, 31, Nirwanti Tahendung, 45, dan Sunaryo Manumpil, 28, kontur alam yang demikian tak dianggap sebagai halangan. Justru di situlah tantangannya yang ketika bisa dilalui rasanya seperti meneguk setetes air di padang pasir.

Napisa masih tercatat sebagai mahasiswi semester akhir di STAIN Manado. Sembari menyelesaikan tugas akhir ia memilih bertugas sebagai penyuluh agama Islam non PNS yang ditugaskan di Dusun Limbalok, Kecamatan Nusa Tabukan di Pulau Nipa.

"Saya sudah sembilan bulan bertugas di dusun ini," ungkap Napisa di Kampung Bukide Timur, Kamis (14/9).

Untuk mencapai Pulau Nipa harus menggunakan perahu bermotor. Didampingi Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Sangihe Anwar Kondoalumang dan sejumlah Kepala KUA, perjalanan dari Tahuna ke Pulau Nipa memakan waktu 1,5 jam.

Sungguh menciutkan hati ketika mendapati kenyataan bahwa alam terkadang tak bersahabat saat kami berada di tengah laut. Perahu yang kami tumpangi mengalami goncangan hebat akibat angin kencang.

Goncangan itu sangat terasa dan membuat dada berdebar kencang. Pasalnya, perahu itu hanya berukuran 1x6 meter dan setiap hempasan gelombang membuat cipratan yang membasahi baju kami.

Pulau Nipa adalah salah satu pulau di perairan Sulawesi yang berbatasan dengan perairan Filipina, selain Pulau Marore dan Pulau Talaud. Pulau Nipa secara administratif masuk Kecamatan Nusa Tabukan, Kabupaten Kepulauan Sangihe dan merupakan wilayah kerja KUA Kecamatan Tabukan Utara. Jumlah penduduk Kampung Bukide di Pulau Nipa 500 jiwa dengan mayoritas (80%) beragama Islam.

Napisa dan keluarga sebenarnya tinggal di Tahuna, ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Namun sejak menjadi penyuluh ia pindah ke Pulau Nipa, tepatnya di Kampung Bukide Timur. Aktivitas penyuluhan yang dilakukan alumni madrasah aliyah swasta di Tahuna ini adalah mengajar mengaji anak-anak di Masjid Al-Hijrah Dusun Limbalok.

Tidak mudah bagi gadis kelahiran Bukide ini menjalani aktivitas sebagai penyuluh. Untuk menuju dusun Limbalok, dia harus menggunakan perahu dayung selama setengah jam. Tapi jika ombak sedang tinggi dan angin sedang kencang, putri pasangan Marjan Landangkasiang dan Hafniah Mapente ini memilih untuk berjalan kaki menyusuri bukit selama dua jam perjalanan. Meski muridnya hanya tujuh orang dia tetap bersemangat untuk melaksanakan tugasnya tersebut.

Aktivitas itu ia jalani seminggu tiga kali. Sebab pada hari yang lain Napisa harus mengajar di Raudhatul Athfal Aisyiyah di Bukide pagi hari, dan sorenya mengajar mengaji di Masjid Al-Hikmah Bukide bersama temannya yang juga seorang penyuluh, Jaening Landangkasiang, 28. Langkah Jaening terasa ringan karena rumahnya hanya berjarak 50 meter dari masjid tempat dia mengajar.

Selain mengajar, Napisa juga membantu kegiatan pencatatan nikah bagi warga di Pulau Nipa. Ia bertugas membimbing dan mensosialisasikan persyaratan administrasi yang harus dilengkapi calon pengantin dan menghubungi Kepala KUA Kecamatan di seberang pulau.

Aktivitas pelayanan umat yang tidak kalah menantangnya dilakoni Nirwanti Tahendung, di Pulau Palareng, Kecamatan Tabukan Selatan. Seminggu dua kali ia menyambangi masjid Al-Mukhlis untuk bersilaturahim dan berbagi ilmu kepada jamaah majelis taklim di masjid itu.

Perempuan yang sudah mengabdi menjadi penyuluh sejak 2009 ini mengajari ibu-ibu majelis taklim membaca al-Qur'an. Selain itu dia juga mengajari jamaah tentang tata cara salat, berwudhu, dan ilmu fiqih lainnya. Bahkan tidak jarang, mau tidak mau, perempuan lulusan paket c madrasah aliyah di Tahuna ini akan menjadi bilal mayit jenazah.

Tantangan pertama bagi Nirwanti setiap akan melaksanakan tugasnya sebagai penyuluh ialah mendayung selama setengah jam. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki selama dua jam. Hal ini harus dilakoninya karena meski berada dalam satu pulau, tapi rumah istri Arsyad Harikatika ini berbeda kampung dengan lokasi Masjid Al-Mukhlis.

"Biasanya saya ke masjid itu hanya dua kali seminggu, tapi kalau ada panggilan karena ada warga perempuan yang meninggal di kampung Palareng yang butuh pertolongan dalam hal fardu kifayahnya, saya harus berangkat ke sana," ujar Nirwanti, istri seorang mualaf ini.

Jumlah jamaah di majelis taklim Al-Mukhlis tidaklah banyak, 13 orang. Sebab, warga muslim di pulau ini terbilang sedikit, hanya 43 jiwa (20%) dari total 300 jiwa. Itu pun kebanyakan jamaah Nirwanti adalah mualaf.

Penyuluh lainnya adalah Sunaryo Manumpil (28). Pemuda yang baru saja menikah ini mengabdi menjadi guru baca al-Qur'an di TPA Ar-Rahmah Beeng Darat, Kecamatan Tabukan Selatan Tengah. Dia mulai menjadi guru mengaji sejak 2007 di Desa Manalawu, Kecamatan Tabukan Selatan.

Meski sempat terhenti karena harus kuliah di STAIN Manado, sejak 2012 sampai 2016 dia terus melaksanakan profesi sebagai guru mengaji di Desa Manalawu. Pada awal 2017 Sunaryo pun diangkat sebagai penyuluh agama Islam non PNS yang bertugas di TPA Ar-Rahmah Beeng Darat.

Tantangan yang dihadapinya juga tak jauh berbeda dengan rekan-rekannya yang perempuan. Sarjana pendidikan Islam dari STAIN Manado ini juga menjadi pengajar di Madrasah Aliyah Ma'arif. Sebagai tokoh pemuda, Sunaryo kerap dikaryakan dalam banyak hal oleh pemerintah setempat.

Mengabdi kepada negeri bukanlah sebuah alasan klasik. Ia akan selalu ada dan tumbuh dalam setiap sanubari anak negeri. Demikian juga Napisa, Nirwanti dan Sunaryo. Mengabdi dengan tantangan besar tidak dapat diukur dengan honorarium Rp500 ribu setiap bulan.

Mereka kompak menjawab bahwa membimbing anak-anak sebagai generasi muda Islam, merupakan ibadah yang tak bisa dinilai dengan uang. (OL-4)

Peserta pelatihan jurnalistik Kementerian Agama-Harian Media Indonesia

Komentar