Jeda

Pesta tanpa Kemubaziran

Ahad, 3 December 2017 11:15 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

DOK YOUTUBE

KOTAK makan plastik berwarna merah itu berisi ayam kungpao, nasi, sup jagung, hingga pisang. Kotak nasi itu dibawa petugas berseragam kaus merah-putih.

Di beberapa rumah yang begitu sederhana, sang petugas mengulurkan kotak makan itu. Tidak sedikit dari penghuni rumah-rumah itu yang tampak sudah menantikannya. Dengan senyum dan tatapan penuh syukur, mereka segera mengambil piring, memindahkan makanan dari kotaknya. Tidak hanya untuk diri sendiri, makanan yang mungkin terlihat tidak seberapa itu bisa menghadirkan kebahagiaan untuk satu keluarga.

Mundur beberapa jam sebelum pengantara kotak makan itu ialah suasana pesta yang serbameriah. Pengantin semringah di pelaminan dan para tamu undangan menyantap sajian yang ada di buffet-buffet. Namun, hingga pesta berakhir, nyatanya masih banyak makanan yang tersaji di meja. Bedanya, tidak seperti pesta kebanyakan ketika makanan surplus itu tidak jelas rimbanya. Dalam pesta ini, vendor pernikahan mengemas makanan tersebut dan menyalurkannya kepada organisasi yang mengantarkannya kepada keluarga tidak mampu.

Itulah program A Blessing To Share yang dicetus Food Cycle Indonesia (FCI), LSM yang bergerak menyalurkan makanan surplus ke warga yang membutuhkan. FCI menggandeng Bridestory dan Go-Jek.

Astrid Paramita, Food Technologies Food Cycle Indonesia, mengatakan idenya bukanlah hal baru. Ia justru mengadaptasi gerakan yang sudah terlebih dahulu viral di India dengan nama No Food Waste. Ide ini lantas disambut baik oleh pihak Bridestory yang mengaku memang sudah banyak mendengar soal kebingungan penyelenggara pernikahan untuk menyalurkan makanan surplus dari pesta.

"Iya sudah jadi obrolan cukup lama dengan vendor karena sekitar 90% dari pernikahan yang ditangani pasti memiliki makanan yang berlebih. Lalu bingung mau dibagikan kepada siapa lagi," tukas Kristi Joviani, Project Leader A Blessing To Share dari Bridestory saat ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (30/11).

Program tersebut juga ditawarkan secara cuma-cuma, tidak ada biaya tambahan bagi calon pengantin. Klien atau calon pengantin hanya perlu mengisi formulir yang sudah disediakan pihak Bridestory dalam kanal daringnya, kemudian akan dihubungkan pihak Food Cycle Indonesia.

Wedding organizer juga diminta mengisi identifikasi menu dan waktu memasak, begitu pun dengan halal atau tidaknya makanan. Setelahnya, makanan yang berlebih itu diambil seusai acara oleh mitra Go-Jek dan diserahkan ke kantor Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Foodbank of Indonesia).

Dari situlah, Food Cycle bekerja untuk melakukan tes penilaian dari empat kriteria makanan, yakni aroma, tampilan, tekstur, dan rasa. Makanan haruslah mendapat nilai minimal 80% untuk bisa dibagikan kepada yang membutuhkan. Sementara itu, kriteria penerima bantuan menjadi kewenangan Foodbank of Indonesia. Para penerima bantuan yang dipilih ialah kalangan manula dan orang yang memiliki keterbatasan.

Astrid menjelaskan, saat ini target penerima baru berada di wilayah Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru. Hal ini didasarkan jarak dengan kantor Foodbank. Makanan disimpan dalam freezer sebelum dihangatkan dan dibagikan. Astrid mengakui masih banyaknya kalangan target yang berada di luar dua wilayah tersebut. Namun, keterbatasan sumber daya membuat program yang baru berjalan satu pekan itu belum bisa memperluas jangkauan.

"Sebelumnya, Foodbank memasak makanan dengan modal sendiri, saat ini bisa dapat pasokan dari pesta pernikahan. Diantar setiap Selasa dan Kamis, daerahnya belum luas karena ini berhubungan dengan makanan. Kami tidak mau juga ada risiko makanan rusak dan tidak sehat lalu disantap penerima. Harus dipastikan higienis, layak, dan masih hangat," tukas Astrid yang mendirikan Food Cycle bersama sang suami, empat bulan yang lalu.

Jangkauan terbatas

Selain keterbatasan jangkauan penerima bantuan, Astrid mengaku masih terbatas menerima klien. Alasan kembali pada kedekatan jarak dengan Kantor Foodbank. Alasan lain ialah fasilitas freezer yang hanya bisa menampung sebanyak 600 liter makanan.

Dengan faktor-faktor itu, Bridestory dan Food Cycle hanya bisa menerima delapan klien donatur makanan dalam satu pekan. Jumlah itu pula yang sudah terpenuhi pada akhir pekan ini. Sementara itu, antusiasme klien sesungguhnya jauh lebih besar. Hal ini juga bisa dilihat dari antrean klien calon donatur yang sudah mencapai 35-40 klien hingga Maret tahun depan.

"Makanan yang kami bagikan semua halal karena kami minta diidentifikasi kalau ada makanan yang tidak halal. Ada satu klien yang batal karena ternyata dia sudah diurus orangtuanya untuk penyaluran makanan berlebih. Ya enggak apa-apa, intinya jangan sampai ada makanan terbuang," tukas Herman yang merupakan partner Astrid dalam mendirikan Food Cycle Indonesia.

Akan tetapi, Astrid dan Herman mengakui belum ada inovasi jika makanan yang berlebih ternyata sudah tak layak konsumsi. Harusnya, imbuh Astrid, bisa jadi makanan ternak atau diolah menjadi bahan energi. Namun, hal tersebut belum diteliti lebih lanjut.

Sementara itu, Kristi menambahkan, pihaknya dan kalangan vendor pernikahan telah memikirkan inovasi untuk mencegah kemubaziran dalam dekorasi, khususnya penggunaan bunga. Mereka menyadari bunga segar dari pesta pernikahan sesungguhnya dapat dimanfaatkan lebih jauh.

"Iya kalau bunga mungkin bisa disumbangkan ke Panti Jompo, kan nenek atau kakek di sana akan bahagia dapat kiriman bunga. Akan tetapi, itu baru sebatas celetukan, belum dibicarakan lagi secara serius," pungkasnya. (M-3)

Komentar