Indonesia 2018

Tahun 2018 Lebih Optimistis?

Rabu, 6 December 2017 00:02 WIB Penulis: Muhamad Chatib Basri Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Menteri Keuangan 2013-2014

tiyok

EKONOM adalah seseorang yang mampu meramal apa yang akan terjadi di masa depan dan kemudian menjelaskan mengapa ramalannya salah dengan cara yang meyakinkan. Lelucon sinis itu mungkin ada benarnya. Membuat ramalan mengenai angka pertumbuhan, nilai tukar, dan berbagai indikator lain apalagi sampai dua angka di belakang koma hanya menunjukkan bahwa seorang ekonom punya selera humor yang baik. Jika begitu, apa gunanya diskusi mengenai prospek ekonomi?

Arah pertumbuhan

Saya kira yang paling penting adalah arah. Bagaimana arah pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2018? Apakah ada alasan untuk lebih optimistis? Jawaban saya ya, dengan beberapa catatan. Apa alasannya? Pertama, pertemuan tahunan IMF/World Bank pada Oktober lalu memperkirakan harga minyak dunia akan berada dalam kisaran U$50-U$60, lebih tinggi daripada kisaran dua tahun terakhir. Studi World Bank menunjukkan kenaikan harga minyak cenderung diikuti kenaikan harga energi nonmigas dan komoditas.

Karena itu, kita bisa berharap harga komoditas dan energi diperkirakan akan masih tetap relatif kuat setidaknya sepanjang tahun depan. Ada beberapa alasan untuk itu. Ekonomi dunia, misalnya, sudah mulai menujukkan tanda-tanda perbaikan. Ekonomi Amerika Serikat di triwulan III 2017 sudah tumbuh 3,3%. Pertumbuhan ekonomi di Eropa juga mulai terjadi.

Di antara negara-negara ASEAN dan Vietnam, kita melihat akselerasi pertumbuhan ekonomi di mana-mana, pada triwulan ketiga, Vietnam tumbuh 7,5%, Filipina 6,9%, Singapura 5,2%, Malaysia 6,2%. Sayangnya, Indonesia masih mandek di 5,06%. Situasi yang lebih optimistis ini juga didukung pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih baik daripada perkiraan.

Apa implikasinya bagi Indonesia? Karena 60% dari ekspor Indonesia adalah ekspor yang memiliki kaitan dengan energi dan komoditas, kenaikan harga ini mendorong peningkatan pertumbuhan ekspor. Itu sebabnya pertumbuhan ekspor Indonesia di triwulan III 2017 meningkat dengan tajam. Selain itu, perbaikan ekonomi AS membuat ekspor kita ke negara tersebut mengalami peningkatan.

Kedua, bagaimana dengan konsumsi rumah tangga? Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga memang mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan periode 2011. Dalam periode awal 2011, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,8% dan dalam periode 2015 sampai sekarang konsumsi rumah tangga tumbuh dalam kisaran 5% dan bahkan triwulan III 2017 tumbuh 4,9%. Penyebabnya, berakhirnya boom komoditas dan energi, yang kemudian memukul konsumsi rumah tangga. Lalu orang menyimpulkan daya beli melemah.

Di sisi lain, sebagian orang menganggap bahwa perlambatan ini terjadi karena semakin maraknya bisnis online yang menggeser bisnis ritel konvensional. Data memang menunjukkan pertumbuhan bisnis online dan logistik meningkat luar biasa dalam tiga tahun terakhir. Bagaimana menjelaskan ini? Saya kira kedua argumen ini benar. Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi sebenarnya relatif tak bergerak dalam 3 tahun terakhir, tumbuh di kisaran 5%.

Sayangnya, ini tak bisa menjelaskan keseluruhan cerita. Kita harus melihat perilaku di tiap segmentasi konsumen. Karena perilaku konsumen sangat berbeda di tiap segmen. Konsumen bisnis online tentunya akan bergantung kepada komputer dengan internet, dan terutama telepon pintar (smartphone). Harga komputer dan smartphone masih tergolong mahal bagi penduduk Indonesia untuk dimiliki secara pribadi.

Karena itu, ada kemungkinan bahwa penggunanya datang dari kelas menengah ke atas. Selain itu, sistem pembayaran dari bisnis online utamanya menggunakan layanan perbankan, baik itu ATM, kartu debit, kartu kredit, layanan m-banking, ataupun internet banking. Data menunjukkan mereka yang memiliki akses terhadap perbankan di Indonesia masih kurang dari 40%. Dari segi demografi, penggunaan aplikasi smartphone cenderung didominasi kelompok muda. Dari gambaran ini, kita bisa melihat bahwa konsumen dari bisnis online cenderung berasal dari kelompok pendapatan menengah ke atas, perkotaan, dan muda. Itu sebabnya segmentasinya hanya terbatas. Perkiraan nilai e-commerce di Indonesia baru mencapai sekitar 2%-4%.

Namun, bagaimana dengan kelompok menengah ke bawah? Data BPS menunjukkan upah harian (riil) petani mengalami penurunan dari Rp38.955 (Oktober 2014) menjadi Rp37.860 (Oktober 2017), sedangkan upah buruh harian (riil) mengalami penurunan dari Rp67.305 (Oktober 2014) menjadi Rp64.894. Nilai tukar petani tercatat sebesar 102,87 (Oktober 2014) menjadi 102,78 (Oktober 2017). Di sini kita bisa melihat bahwa upah riil kelas bawah mengalami penurunan, sedangkan nilai tukar petani praktis tak berubah.

Data-data ini menunjukkan bahwa daya beli di tingkat menengah bawah mungkin sekali mengalami tekanan. Temuan ini konsisten dengan survei yang dilakukan AC Nielsen, pernyataan Bank Indonesia, dan Kepala Badan Pusat Statistik, yang menunjukkan bahwa kelas menengah bawah mengalami tekanan dalam daya beli.

Sebenarnya hal ini mudah dijelaskan. Kelompok menengah atas umumnya bekerja di sektor modern dan formal, di saat gaji disesuaikan dengan kenaikan inflasi. Selain itu, mereka memiliki pendapatan dari investasi di sektor keuangan seperti saham dan obligasi, yang memang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan.

Sementara itu, mereka yang dari kelas bawah bekerja di sektor informal tak mengalami penyesuaian kenaikan upah sesuai dengan inflasi. Akan tetapi, bukankah pertumbuhan PPN relatif tinggi? Itu cerminan bahwa transaksi terjadi. Benar sekali. Pertumbuhan PPN yang tinggi didorong pertumbuhan transaksi di sektor formal yang masuk cakupan pajak mencerminkan pertumbuhan konsumsi kelas menengah atas.

Sayangnya, pola konsumsi kelas menengah bawah ini tak bisa sepenuhnya dideteksi melalui pertumbuhan PPN. Mengapa? Karena mereka umumnya tidak berbelanja di sektor informal, tetapi warung-warung sederhana atau pedagang pinggir jalan yang tak mengenakan PPN karena tak memiliki NPWP.

Di sini kita bisa kedua argumen itu benar karena memang ada pola yang berbeda. Kelompok menengah atas cenderung mengalami peningkatan pertumbuhan konsumsi, sedangkan yang menengah bawah mengalami kemandekan atau tekanan. Pada kelompok menengah atas, sejalan dengan peningkatan pendapatan, pola konsumsinya berubah dari barang kebutuhan pokok kepada leisure. Pola ini sejalan dengan hukum Engel yang mengatakan ketika pendapatan meningkat, porsi konsumsi kepada kebutuhan pokok akan menurun. Inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan konsumsi rumah tangga untuk makan dan minuman di luar restoran serta pada kelompok pakaian, alas kaki, dan jasa perawatan dan perumahan serta perlengkapan rumah mengalami perlambatan.

Sementara itu, pertumbuhan konsumsi rumah tangga untuk transportasi, komunikasi, dan restoran serta hotel naik karena konsumsi bergeser ke leisure. Kelompok menengah bawah tentu belum sanggup untuk mengonsumsi leisure karena mereka masih berjuang dalam memenuhi kebutuhan dasar.

Ketiga, ke depan, dengan membaiknya harga komoditas dan energi, bukankah konsumsi akan meningkat juga? Benar, tetapi ia membutuhkan waktu. Mengapa? James Duesenberry, ekonom dari Harvard University, mengajukan sebuah teori yang menarik, walau pendapatan seseorang mengalami penurunan, pola konsumsinya tak akan menurun banyak. Alasannya, orang akan mencoba mempertahankan konsumsinya pada tingkat yang paling tinggi. Mudahnya, walau pendapatan turun, orang tak mudah menurunkan gaya hidupnya.

Duesenberry benar. Karena itu, ketika pendapatan penduduk Indonesia menurun karena anjloknya harga komoditas sejak 2013, mereka mencoba mempertahankan konsumsi dengan menggunakan tabungan. Setelah tabungannya susut, mungkin ia akan mulai meminjam demi mempertahankan konsumsinya. Setelah mereka tak bisa meminjam lagi, barulah orang akan menurunkan konsumsinya.

Inilah yang menjelaskan bahwa ketika pertumbuhan ekonomi kita turun ke kisaran 5% dalam 3 tahun terakhir dari sebelumnya di atas 6% pertumbuhan konsumsi bertahan pada kisaran 5%. Di sisi lain, kita juga melihat pertumbuhan dana pihak ketiga mengalami perlambatan sampai dengan akhir 2016. Namun, sejalan dengan membaiknya harga batu bara dan kelapa sawit, pendapatan masyarakat yang berada di daerah-daerah penghasil komoditas dan batu bara juga mulai meningkat.

Namun, dampaknya tak seketika pada peningkatan konsumsi. Mengapa? Mereka harus melakukan konsolidasi keuangan pribadi dengan mulai membayar utang, meningkatkan tabungan, dsb, sebelum meningkatkan konsumsi. Perbaikan ini baru akan tecermin pada peningkatan konsumsi seharusnya 3-4 triwulan sejak harga sumber daya alam membaik. Jadi dari sisi ini sebenarnya ada harapan bahwa konsumsi rumah tangga akan sedikit membaik tahun depan.

Keempat, bagaimana investasi? Data BPS menunjukkan pola yang menggembirakan. Pada triwulan III 2017, pertumbuhan investasi meningkat menjadi 7,1% (antartahun). Ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertumbuhan investasi sejak Juni 2013. Jika dilihat secara lebih rinci, pertumbuhan investasi yang terjadi disebabkan pertumbuhan investasi dalam mesin dan peralatan.

Memang yang menimbulkan pertanyaan ialah bahwa pertumbuhan investasi yang meningkat ini tak sejalan dengan data pertumbuhan kredit investasi yang cenderung menurun. Dugaan saya, ekspansi ini lebih didorong investasi pemerintah atau investasi yang dibiayai dari sebagian arus modal yang masuk ke Indonesia. Lepas dari sumbernya, kenaikan investasi ini sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan impor, yang sebagian besar didominasi bahan baku dan barang modal.

Jadi meningkatnya pertumbuhan impor sejalan dengan kecenderungan perusahaan untuk melakukan ekspansi usahanya. Hal lain yang saya kira juga mendorong investasi ialah membaiknya iklim usaha, sejalan dengan perbaikan rangking doing business.

Tetap waspada
Dari perspektif ini saya kira Indonesia punya alasan untuk lebih optimistis pada 2018. Dengan gambaran ini, saya memperkirakan pertumbuhan ekonomi ada pada kisaran 5,1%-5,3%. Pertanyaannya ialah apakah ini akan berkesinambungan? Apa risiko yang mungkin mengganggu? Di sini saya kira seberapa jauh pertumbuhan ekonomi akan meningkat bakal masih bergantung kepada konsumsi rumah tangga karena porsinya masih relatif besar.

Jika dampak positif dari kenaikan komoditas dan energi akan terasa di konsumsi rumah tangga, kita berharap pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Namun, bila pertumbuhan konsumsi rumah tangga tetap mandek karena belum ada perbaikan daya beli yang signifikan di kelas bawah, ekspansi investasi tak akan berkesinambungan. Alasannya apa gunanya meningkatkan ekspansi usaha jika tak ada permintaan?

Selain itu, jika kenaikan tabungan tak ditransmisikan pada investasi karena kekhawatiran politik menjelang pemilu atau kekhawatiran akan pajak, investasi tak akan meningkat tajam. Hal lain yang perlu diperhatikan tentunya ialah kondisi eksternal. Asumsi dasar dari analisis ini ialah bertahannya harga komoditas dan energi karena ekonomi dunia yang membaik.

Namun, bila ekonomi dunia terganggu, misalnya karena gelembung di pasar keuangan di AS atau gangguan pada perekonomian Tiongkok, kita tampaknya tak bisa seoptimistis itu. Beberapa waktu lalu Jeffrey Frankel, guru besar dari Harvard University, mengingatkan saya mengenai risiko gelembung di pasar modal AS. Ia menyampaikan kekhawatirannya mengenai gelembung yang terjadi di pasar modal di AS. Ia menyarankan supaya sektor keuangan lebih berhati-hati.

Jadi, walau ada alasan untuk lebih optimistis pada 2018, Indonesia tetap harus waspada. Begitu banyak ketidakpastian yang mengadang di depan kita, termasuk risiko geopolitik di Semenanjung Korea. Banyak variabel yang tak bisa sepenuhnya diduga. Karena itu, baik bagi kita untuk mengingat lelucon ini, ekonom adalah seseorang yang mampu membuat prediksi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, dan kemudian mampu menjelaskan mengapa prediksinya salah, dengan cara yang meyakinkan.

Komentar