Ekonomi

Media Cetak Tetap Dipercaya dan Banyak Dibaca

Kamis, 7 December 2017 06:03 WIB Penulis: Nyu/E-2

MI/Ramdani

MESKI jumlah pembacanya menurun, media cetak, baik koran maupun majalah, masih dianggap medium penyampai informasi yang dapat dipercaya.

Direktur Eksekutif Nielsen Media, Hellen Katherina, menyatakan berdasarkan hasil survey Nielsen Consumer & Media View (CMV) pada 2017, koran lebih dipilih pembaca karena nilai beritanya yang dapat dipercaya.

Hellen menjelaskan Nielsen telah melakukan survei di 11 kota dengan menginterviu 17 ribu responden.

Dari hasil survei tersebut, saat ini media cetak termasuk koran, majalah, dan tabloid masih memiliki penetrasi sebesar 8% dan dibaca 4,5 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar, atau sekitar 83%-nya, membaca koran.

Alasan utama para pembaca masih memilih koran ialah nilai beritanya yang dapat dipercaya.

"Element trust terhadap konten tentu berpengaruh terhadap iklan yang ada di dalamnya sehingga keberadaan koran sebagai media beriklan sangat penting untuk produk yang mengutamakan unsur trust, misalnya produk perbankan dan asuransi," kata Hellen di Jakarta, kemarin.

Untuk tabloid dan majalah, kata Hellen, para pembaca menilai lebih kepada tulisan yang bersifat kisah nyata.

Jika dilihat dari profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memiliki pekerjaan karyawan (32%), dan mayoritas pembacanya berasal dari kelas atas (54%).

Menurutnya, hal itu menunjukkan pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan.

Pembaca media cetak juga merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36%).

Hellen menyarankan, di tengah situasi itu, media cetak perlu kompak agar industri itu tetap bertahan di masa mendatang.

Kolaborasi bisa meniru seperti apa yang dilakukan radio dengan kampanye Ayo Dengar Radio.

"Industri media cetak, misalnya, bisa saja membuat kampanye yang menunjukkan media cetak antihoaks," tegasnya.

Sebelumnya pengamat media dan komunikasi Agus Sudibyo mengatakan perlu afirmasi kebijakan berupa potongan harga atau pajak kertas bagi industri cetak.

Tingginya harga kertas memberatkan biaya produksi industri media cetak.

"Koran merupakan industri yang dekat dengan demokrasi serta ilmu pengetahuan sehingga seharusnya mendapat perlakuan khusus dan tidak disamakan dengan industri yang lain," tandas Agus.

Komentar