Nusantara

Pembalakan Liar Marak di Suaka Margasatwa Rimbang Baling

Kamis, 7 December 2017 20:44 WIB Penulis: Rudi Kurniawansyah

ANTARA

AKSI pembalakan liar atau ilegal logging kembali marak di Suaka Margasatwa (SM) Harimau Sumatra Bukit Rimbang Bukit Baling atau Rimbang Baling di Kabupaten Kampar Kiri Hulu, Riau.

Kayu-kayu log berukuran besar setiap hari dihanyutkan di Sungai Subayang untuk selanjutnya diolah di tempat pengolahan (sawmil) sekitar kawasan tersebut.

Anggota DPRD Kampar, Arif Subayang, Kamis (7/12), mengatakan, pembalakan liar sangat marak terjadi di bagian hulu Sungai Subayang. Persisnya di kawasan Ampalu, perbatasan Riau dan Sumatra Barat (Sumbar).

"Dari temuan kami, banyak sawmil-sawmil liar yang beroperasi mengambil kayu dari hutan di hulu Sungai Subayang. Mereka warga Sumatra Barat yang sekarang mengambil kayu di wilayah kita (Riau)," ungkap Arif.

Dia menambahkan, sejauh ini pemerintah dan LSM lingkungan hidup selalu mengampanyekan penyelamatan hutan lindung yang mengakibatkan pembangunan bagi rakyat yang hidup di kawasan itu tersendat. Untuk menyambung ekonomi, ada masyarakat di sekitar hutan yang dulu bertanam karet kini beralih menjadi perambah.

"Keadaannya hampir sama antara Kampar Kiri Hulu dengan 13 Koto Kampar yang berbatasan dengan Pangkalan, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Kayu hutan yang besar-besar ditebangi dan selanjutnya diolah di sawmil-sawmil. Kita sangat menyayangkan aksi para cukong ini," ujarnya.

Karena itu, lanjut Arif, apabila terjadi hujan deras terus menerus, kawasan itu menjadi longsor dan banjir. Perlu ada tindakan hukum yang tegas untuk menertibkan pelanggaran ini.

"Kami minta aparat hukum segera menindak para pembalak liar ini. Sayang sekali kawasan yang indah di Subayang rusak akibat pembalakan liar," ungkapnya.

Sungai Subayang merupakan sungai yang membelah kawasan SM Rimbang Baling. Adapun Rimbang Baling yang sejak 1982 telah ditetapkan menjadi kawasan lindung Suaka Margasatwa (SM) Harimau Sumatra lewat Surat Keputusan Gubernur Riau Nomor: 149/V/1982 pertanggal 21 Juni 1982.

Kawasan yang indah ini memang harus tetap dijaga kelestariannya sebab selain berfungsi sebagai daerah resapan air dan suaka satwa langka, tempat tersebut juga merupakan kunci pelajaran sejarah kelam Bangsa Indonesia tentang pembangunan rel kereta api romusha Jepang yang menelan korban hingga ratusan jiwa manusia.

Selain itu, SM Rimbang Baling adalah satu daerah gugusan resapan air serta zona hidup Harimau Sumatra yang saling terintegrasi dengan kawasan di atasnya di Harau, Payakumbuh, Sumbar, dan di bawah dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Jambi. (OL-2)

Komentar